Sejarah Perkembangan Kesenian Jaranan Di

  • Uploaded by: hi there
  • 0
  • 0
  • November 2021
  • PDF
Download

This article was submit by member and they agreed that they have the permission to submit it. If you own the copyright of this article and want to remove it from our site, please report to us by using this DMCA form. Report DMCA


Overview

Download & View Sejarah Perkembangan Kesenian Jaranan Di as PDF for free.

More details

  • Words: 30,915
  • Pages: 152
  • Size: 1.5MB
SEJARAH Perkembangan Kesenian Jaranan di Tulungagung pada Tahun 1995 Hingga 2020 M

Alif Bayu Mahardhika

Pengantar dan Editor Dr. Dwi Astuti Wahyu Nurhayati, S.S., M.Pd

Sejarah Perkembangan Kesenian Jaranan di Tulungagung pada Tahun 1995 Hingga 2020 M Copyright © Alif Bayu Mahardhika, 2021 Hak cipta dilindungi undang-undang All right reserved

Layout: Akademia Pustaka Desain cover: Diky M. Fauzi Editor: Dwi Astuti Wahyu N vi + 146 hlm: 14 x 21 cm Cetakan Pertama, Januari 2021 ISBN: 978-623-6704-47-9 Anggota IKAPI Hak cipta dilindungi undang-undang. Dilarang memplagiasi atau memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini tanpa izin tertulis dari penerbit.

Diterbitkan oleh: Akademia Pustaka Perum. BMW Madani Kavling 16, Tulungagung Telp: 081216178398 Email: [email protected] Website:www.akademiapustaka.com

ii

KATA PENGANTAR Puji syukur kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan rohmat serta karuniaNya pada alam semesta, serta telah memberikan kesehatan, dan kelancaran dalam melakukan segala aktifitas sehari hari, Sehingga dapat mengembangkan ide serta gagasan dalam membuat satu karya mengenai sejarah perkembangan dari suatu kesenian daerah. Perlu diketahui bersama bahwa, Indonesia adalah Negara yang kaya akan keanekaragaman kesenian dan kebudayaan, salah satu keanekaragaman kesenian dan kebudayaan tersebut ada di Kabupaten Tulungagung. Kabupaten Tulunggagung adalah wilayah yang kaya akan pemandangan alam yang eksotis dan juga keanekaragaman kesenian yang sangat bercirikan kearifan local. Salah satu kesenian yang khas dari Tulungagung adalah kesenian jaranan. Kesenian jaranan di Tulungagung memiliki berbagai macam pakem gerakan yang terus berkembang di setiap periodenya. Macam macam pakem gerakan jaranan yang ada di wilayah Tulungagung seperti halnya pakem jaranan jawa, pakem jaranan sentherewe, pakem jaranan pegon, dan pakem jaranan campursari. Serta kesenian jaranan di Tulungagung memiliki ciri khas yang lain seperti tata rias, tata busana, hingga perlengkapan yang perlu dipersiapkan saat pementasan dimulai. Perkembangan kesenian jaranan di Tulungagung pada periode tahun 1995 hingga 2020 M memiliki perkembangan yang berbeda beda disetiap pakem gerakan. Perkembangan dapat dilihat pada bertambahnya kelompok kelompok kesenian jaranan. Selain itu, pada periode tahun 2020 adalah tahun yang sangat berat untuk para seniman jaranan di Tulungagung.

iii

Wabah pandemi Covid-19 sangat berdampak terhadap sepinya pertunjukan dan berbagai event tentang kesenian jaranan. Perlunya pencatatan tulisan mengenai hal tersebut, sehingga tertarik untuk mengangkat perkembangan kesenian jaranan di Tulungagung dengan Judul: Sejarah Perkembangan Kesenian Jaranan di Tulungagung pada Tahun 1995 Hingga 2020 M. Meskipun terdapat kekurangan dalam hal observasi, penggalian informasi dari wawancara secara langsung yang terbatas akibat wabah pandemic ini, setidaknya isi dari tulisan ini dapat memberikan gambaran kesenian jaranan yang ada di kawasan Tulungagung serta dapat menambah wawasan atau khasanah tentang kesenian. Saya, Dr. Dwi Astuti Wahyu Nurhayati, S.S., M.Pd., selaku editor meminta maaf apabila dalam karya ini terdapat kekeliruan dan penulisan istilah yang kurang tepat. Terimakasih banyak kepada para pihak yang telah membantu dalam memberikan sumbangsih keilmuan dan informasi seperti beberapa para pelaku seni jaranan dan juga termasuk para narasumber dari dinas terkait seperti halnya Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Tulungagung serta Dinas Kebudayaan dan Pariwisata mengenai karya ini. Semoga dengan adanya karya ini dapat memberikan wawasan baru terhadap kesenian jaranan utamanya di daerah Tulungagung dan sekitarnya. Saya, selaku editor berharap di kemudian hari, karya ini dapat dikembangkan oleh siapa saja dan ditambahkan dengan data data terbaru mengenai perkembangan kesenian jaranan di wilayah Tulungagung. Tulungagung, Desember 2020 Editor, Dr. Dwi Astuti Wahyu Nurhayati, S.S., M.Pd

iv

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR....................................................................................... iii BAB I PENDAHULUAN ................................................................................ 1 A. Pengertian Sejarah .......................................................................... 1 B. Bukti Sejarah ...................................................................................... 8 C.

Sejarah dan Seni .............................................................................12

D. Sejarah Perkembangan Suatu Kesenian .............................13 E.

Sasaran Karya ..................................................................................26

BAB II KABUPATEN TULUNGAGUNG A. Profil Tulungagung........................................................................31 B. Sejarah Kabupaten Tulungagung ...........................................42 C.

Ragam Kesenian Lokal Tulungagung ...................................44

D. Kajian Kesenian di Tulungagung ............................................46 BAB III PAKEM ALIRAN JARANAN DI TULUNGAGUNG A. Kesenian Jaranan Jawa Klasik ..................................................57 B. Jaranan Sentherewe......................................................................68 C.

Jaranan Pegon ..................................................................................81

D. Jaranan Campursari ......................................................................85

v

BAB IV UNSUR PENDUKUNG PENYAJIAN PERTUNJUKAN JARANAN A. Lighting ....................................................................................... 91 B. Sound System........................................................................... 93 C.

Tata Rias Dan Tata Busana ................................................ 94

D. Musik Pengiring ...................................................................... 96 E.

Sesajen ......................................................................................102

BAB V PERKEMBANGAN KESENIAN JARANAN DI TULUNGAGUNG A. Kesenian Jaranan Di Tulungagung Tahun 1995 Sampai 2005 M......................................................................109 B. Kesenian Jaranan Di Tulungagung Tahun 2006 Sampai 2015 M......................................................................116 C.

Kesenian Jaranan Di Tulungagung Tahun 2016 Sampai 2020...........................................................................119

D. Kesenian Jaranan Di Tulungagung Era Pandemi ..124 BAB VI UPAYA PELESTARIAN KESENIAN JARANAN DI TULUNGAGUNG A. Penampilan Jaranan Di Acara Hajatan .......................132 B. Penampilan Jaranan Dalam Hari Besar .....................133 C.

Pelestarian Melalui Festifal .............................................135

D. Masuknya Kesenian Jaranan Pada Ekstrakurikuler136 DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................143 IDENTITAS PENULIS ...............................................................................145 TENTANG EDITOR ....................................................................................146

vi

BAB I PENDAHULUAN

A. PENGERTIAN SEJARAH Asal muasal dari munculnya istilah Sejarah ini berasal dari Bahasa Arab “Syajarotun” yang memiliki arti sebuah pohon.1 Dalam Bahasa Arab juga, kata sejarah disebut dengan tarikh. Adapun penggunaan kata tarikh dalam Bahasa Indonesia yang artinya waktu atau periode. Dalam Bahasa Yunani, penggunaan kata sejarah memiliki makna Historia yang berarti ilmu serta keilmuannya. Begitupun juga dalam penyebutan Bahasa Inggris adalah History, yaitu kisah masa lalu. Dalam Bahasa Prancis historie, Bahasa Italia storia, dan juga Bahasa Jerman geschichte, yang berarti yang terjadi, dan Bahasa Belanda dikenal gescheiedenis. Dari beberapa ulasan pengertian di atas dapat disimpulkan kembali bahwa sejarah memiliki arti menyangkut waktu dan peristiwa. Oleh karena itu, masalah waktu penting dalam memahami peristiwa, sejarawan cenderung mengatasi masalah ini dengan membuat sebuah periodisasi. Sejarah merekam kehidupan manusia, perubahan yang terus menerus, merekam ide-ide, dan merekam kondisikondisi material yang telah membantu atau merintangi perkembangnnya. Selanjutnya, John Tosh berpendapat 1 Kuntowijoyo. 1995. Pengantar Ilmu Sejarah. Yogyakarta: Tiara Wacana. Hlm 2.

1

Sejarah Perkembangan Kesenian Jaranan

bahwa Sejarah adalah memori kolektif, pengalaman melalui pengembangan suatu rasa identitas sosial manusia dan prospek manusia tersebut di masa yang akan datang.2 Kemudian seorang negarawan dari Indonesia yaitu M. Yamin berpendapat bahwa Sejarah adalah ilmu yang berhubungan dengan cerita sebagai hasil penafsiran kejadian masa lalu. Gustafson berpendapat bahwa Sejarah merupakan puncak gunung pengetahuan manusia. Sedangkan Benedetto Croce berpendapat bahwa sejarah merupakan rekaman kreasi baik teoritikal maupun praktikal. Baverley Southgate berpendapat bahwa sejarah didefinisikan sebagai studi atau pembelajaran mengenai peristiwa di masa lalu.3 Indonesia adalah Negara yang kaya akan berbagai sumber daya alam dan kaya akan historisnya. Negara Indonesia juga termasuk kedalam Negara yang kondisi geografisnya sangat strategis. Indonesia diapit oleh dua benua dan dua samudra. Benua Asia dan Benua Australia merupakan benua yang secara tata letak geografis sangat berdekatan dengan Indonesia. Begitu juga dengan Samudra Hindia dan Samudra Pasifik yang mengelilingi kepulauan Indonesia. Maka dari itu, tak menutup kemungkinan Negara Indonesia memiliki kekayaan dan khasanah Sejarah yang banyak. Indonesia pernah dihuni para manusia purba sekitar 40.000 tahun SM. Hal ini menandakan bahwa Negara Indonesia merupakan Negara yang sudah memiliki peradaban sejak dahulu kala. Sehingga pada masa itu bangsa ini sudah memiliki kebiasaan ataupun tradisi serta kepeercayaan. Salah satu kepercayaan yang berkembang pada masa itu adalah animisme. Animisme adalah suatu kepercayaan yang dimana para penganutnya percaya pada

2 Burke, Peter. 2015. Sejarah dan Teori Sosial. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia. Hlm 4-5. 3 Kuntowijoyo. 2003. Metodologi Sejarah. Yogyakarta: PT. Tiara Wacana. Hlm 4.

2

Alif Bayu Mahardhika

benda-benda mati, seperti, batu besar, kayu, gunung, hingga pohon yang dianggap memiliki roh. Bahkan, mereka menyembah roh leluhurnya yang dianggap memiliki posisi yang paling mulia. Roh leluhur ini biasanya disebut sebagai hyang berarti Tuhan, mereka para manusia pra sejarah mempercayai bahwa roh leluhur adalah pengendali alam semesta yang bisa mendatangkan kebutuhan sehari hari, menyembuhkan berbagai macam penyakit, hingga mempercayai bahwa roh leluhur atau nenek moyang dapat menjaga mereka dari mara bahaya. Oleh karena itu, mereka sangat menghormati roh roh leluhur yang telah ada di alam baka. Selanjutnya, menurut Kuntowijoyo Sejarah ialah suatu ilmu yang dapat mengkaji berbagai peristiwa yang terjdi pada masa lalu dengan berpegang pada peristiwa, ruang, dan juga waktu. Oleh karena itu, sejarah selalu lekat akan adanya periodesasi periodesasi serta kurun waktu dari sebuah peristiwa. 4 Dalam sejarah senantiasa mengandung unsur 5W + 1H yang berfungsi sebagai alat yang berintegrasi dengan kejadian yang sesungguhnya. Unsur 5W + 1H juga dapat digunakan untuk menjawab berbagai persoalan yang telah diananlisis melalui pendekatan sejarah. Seperti halnya apa yang diketahui, dimana kejadian terjadi, kapan kejadian tersebut terjadi, siapa pelaku yang ada dalam peristiwa tersebut, dan mengapa peristiwa tersebut dapat terjadi. Serta sebagai pelengkap dari berbagai unsur tersebut adalah bagaimana solusi dari pemecahan masalah yang telah terjadi. ada beberapa konsep yang dikemukakan dalam ilmu ilmu sejarah antara lain: 1. Perubahan Pada dasarnya perubahan merupakan suatu bentuk istilah yang berfokus kepada sesuatu hal yang menjadi berbeda “unik”. Pandangan serta Konsep tersebut 4 Kuntowijoyo. 1995. Pengantar Ilmu Sejarah. Yogyakarta: Tiara Wacana. Hlm 3.

3

Sejarah Perkembangan Kesenian Jaranan

demikian sangat utama dalam sejarah dan pembelajaran sejarah, mengingat sejarah itu sendiri pada hakikatnya adalah suatu bentuk fakta perubahan. Alvin Toffler yaitu seorang futuris dari USA mengemukakan bahwa perubahan tidak sekedar penting dalam berkehidupan, tetapi perubahan itu sendiri adalah bagian dari kehidupan. 2. Peristiwa Konsep didalam peristiwa mempunyai makna menjadi suatu kejadian yang menarik atau unik maupun luar biasa karena memiliki sifat keunikan. Di sebuah penelitian sejarah, suatu peristiwa selalu menjadi objek kajian penelitian, mengingat salah satu karakteristik ilmu kesejarah yaitu mencari keunikan-keunikan yang terjadi didalam peristiwa tertentu, dengan penekanan pada suatu tradisi dan pandangan relativisme. 3. Sebab dan Akibat Makna dari kata sebab merujuk kepada pengertian berbagai factor pendukung atau determinan fenomena pendahulu yang mendorong terjadinya sesuatu perbuatan, perubahan, maupun peristiwa yang berkelanjutan, sekaligus sebagai suatu kondisi yang mendahului sebuah peristiwa. Sedangkan akibat adalah sesuatu yang menjadikan hasil akhir atau hasil suat perbuatan maupun dampak dari suatu bentuk peristiwa. 4. Nasionalisme Konsep pandangan nasionalisme, secara sederhana memiliki arti cinta tanah air dan bangsanya sendiri, dimana kepentingan negara dan bangsa mendapat perhatian lebih dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. 5. Kemerdekaan Konsep merdeka atau bebas adalah nilai yang paling penting dalam kehidupan berpolitik bagi setiap negara dan bangsa maupun masyarakat luas yang senantiasa diagung-agungkan, sekalipun tidak selamanya dipraktikkan. Arti penting sebuah kemerdekaan ini 4

Alif Bayu Mahardhika

dapat dilihat pada aturan aturan yang mengatur hak-hak asasi manusia, sebagaimana tercantum dalam Deklarasi Hak-Hak Manusia secara Universal yang disetujui dengan sah oleh Majelis Umum Perserikatan BangsaBangsa (PBB) pada tanggal 10 Desember 1948. 6. Kolonialisme Sejak abad ke-15 dan 16, bangsa barat atau biasa dikenal dengan bangsa Eropa melakukan ekspansi dan juga penjajahan ke berbagai Negara di penjuru dunia seperti kedatangan bangsa belanda ke Negara Indonesia. Para bangsa eropa datang ke Indonesia memiliki Tujuan yang disebut dengan 3G atau Gold, Glory, Gospel. Gold berarti mereka mencari keemasan atau harta benda, Glory berarti mereka mencari kejayaan atau peperangan hingga Gospel yang berarti para koloni bertugas untuk menyebarkan agama nasrani. Hingga pada puncak perkembangannya, kolonialisme mulai meluas di penjuru dunia pada abad ke-19. Dimana hampir setiap negara di Eropa memiliki daerah jajahan di Asia, Afrika, dan Amerika. 7. Revolusi Revolusi memiliki arti yaitu peradaban yang berkembang pesat dengan cepat. Revolusi banyak terjadi di berbagai Negara. Peristiwa revolusi biasanya berkaitan dengan kondisi sosial dan politik suatu Negara. Peran pemerintahan dalam peritiwa revolusi bisa dibilang cukup penting. Terkadang, peristiwa revolusi diikuti dengan perintah yang cenderung otoriter. , seperti halnya: a. Inferiornya lembaga militer terhadap militer lainnya dari berbagai negara pesaingnya pada perang dunia. b. Elite yang otonom mampu menentang atau menghadang implementasi kebijaksanaan yang dijalankan pemerintah pusat. c. organisasi pedesaan, sebagai kelompok petani yang memiliki kebijakan otonom 5

Sejarah Perkembangan Kesenian Jaranan

8. Fasisme Fasisme atau suatu faham facism adalah nama pengorganisasian pemerintah dan masyarakat secara totaliter oleh kediktatoran serta otoriter partai tunggal yang sangat memiliki rasa nasionalis yang sempit, rasialis, militeristis, dan imperialis. 9. Komunisme Komunisme atau faham kominism Pada dasarnya, konsep dari istilah komunisme merujuk kepada setiap pengaturan sosial yang didasarkan pada kepemilikan, produksi, konsumsi, dan swapemerintahan yang diatur secara komunal atau bersama-sama. 10. Peradaban Konsep peradaban atau civilization ialah sebuah konsep yang berfokus pada suatu entitas kultural seluruh pandangan hidup manusia yang mencakup nilai, norma, institusi, dan pola pikir terpenting dari suatu masyarakat yang terwariskan dari generasi ke generasi. Selain itu, peradaban menunjuk kepada suatu corak maupun tingkatan moral yang menyangkut penilaian terhadap sebuah totalitas bentuk kebudayaan. Jadi, peradaban jauh lebih lebar konteks pembahasannya dari suatu kebudayaan yang saling mempengaruhi. 11. Perbudakan Pada dasarnya, konsep bentuk perbudakan atau siavery adalah istilah yang menggambarkan suatu kondisi dimana seseorang maupun sekelompok masyarakat tidak mempunyai kedudukan dan fungsi sebagai manusia yang memiliki hak asasi sebagai manusia yang sesungguhnya. 12. Waktu Waktu dalam hal ini berupa: Hari, Tanggal, Bulan, Tahun, Windu, dan Ahad ialah konsep esensial dalam sejarah. Begitu pentingnya mengenai waktu yang dimanfaatkan baik pada riset kesejarahan dan empiris dalam prespektif kronologis, fungsional, strukturalis, maupun 6

Alif Bayu Mahardhika

sebuah simbolis. Secara alternatif, ilmuwan sejarah atau sejarawan dapat menggunakan penempatan subjektif dari saat lampau, sekarang, dan akan datang. Mengenai pentingnya pemahaman tentang pembagian periode atau waktu, menurut Sztompka terdapat enam fungsi waktu, yaitu (a) sebagai penyelaras sebuah perilaku atau tindakan, (b) sebagai bahan koordinasi, (c) sebagai bagian dalam tahapan, proses atau rentetan peristiwa, (d) menempati ketepatan sebuah penelitian, (e) menentukan ukuran, (f) dan juga untuk membedakan suatu masa tertentu dengan masa atau periode lainnya.5 13. Fenimisme Kata atau istilah fenimisme merupakan nama suatu bentuk gerakan emansipasi wanita dari sub-ordinasi pria. Menurut Maggie Humm semua pergerakan yang berbentuk feminis mengandung tiga unsur asumsi pokok. Pertama, gender adalah suatu konstruksi yang menekan kaum wanita sehingga cenderung menguntungkan pria. Kedua, konsep patriarki-dominasi kaum pria dalam lembaga-lembaga sosial melandasi konstruk tersebut. Ketiga, pengalaman dan pengetahuan kaum perempuan yang harus dilibatkan untuk mengembangkan suatu masyarakatnonseksis di masa mendatang. 14. Liberalism Pandangan liberalisme mengacu kepada sebuah doktrin atau ketetapan yang maknanya hanya dapat diungkapkan melalui penggunaan kata-kata sifat yang menggambarkan nuansa-nuansa khusus. Selanjutnya, liberalism juga biasa diartikan sebagai wujud kebebasan individu maupun golongan. 15. Konservatisme Paham atau pandangan konservatisme merujuk kepada doktrin yang menyakini bahwa kenyataan suatu 5 Burke, Peter. 2015. Sejarah dan Teori Sosial. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia. Hlm 7.

7

Sejarah Perkembangan Kesenian Jaranan

masyarakat dapat ditemukan pada perkembangan sejarahnya. Oleh karenanya, pemerintah membatasi diri dalam hal campur tangan/ ikut campur terhadap perilaku kehidupan masyarakatnya, dalam arti tidak boleh melupakan pada akar-akar sejarahnya sebelumnya. Sejarah juga memiliki sifat kronologis. Artinya, segala rentetan peristiwa haruslah tercatat dan tak luput dari pantauan. Namun, kronologis juga harus berdasar pada fakta dan data yang konkrit. Urutan-urutan peristiwa harus dapat diurutkan berdasarkan peristiwa yang sudah benar benar terjadi. Unsur manusia, unsur waktu, dan unsur ruang haruslah ada dalam setiap rentetan peristiwa sehingga dapat terukur dan juga sistematis. Sejarah juga harus tetap konsisten pada tujuannya yaitu pencatatan sejarah secara objektif. Jangan sampai sejarah digunakan sebagai alat propaganda oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Oleh karena itu, para sejarawan dan juga peneliti sejarah haruslah memperhatikan hal tersebut. 6

B. BUKTI SEJARAH Dalam penulisan sebuah sejarah serta catatan sejarah, maka dapat diartikan bahwa sumber dan bukti sejarah adalah segala sesuatu yang memiliki wujud atau riil dan tidak berwujud atau abstrak serta bermanfaat bagi penelitian sejarah sejak zaman purba sampai sekarang. Sumber sejarah adalah bukti dan fakta adanya sejarah. Berdasarkan sifatnya, sumber sumber sejarah dapat dibagi menjadi 3 yaitu : 1. Sumber primer merupakan sumber sejarah yang didapatkan oleh para peneliti sejarah secara langsung. Seperti halnya menyaksikan peristiwa secara langsung.

6 Abdullah, Taufik. 1985. Ilmu Sejarah dan Historiografi. Jakarta: PT. Gramedia. Hlm 7.

8

Alif Bayu Mahardhika

2. Sumber sekunder adalah sumber yang kedua. Para peneliti mendapatkan sumber sekunder yang atrtinya para peneliti tidak menyaksikan dan tidak terlibat langsung dalam peristiwa. Namun, sumber sekunder dapat diperoleh dari saksi kunci peristiwa sejarah. 3. dan yang terakhir yaitu Sumber tersier ialah sumber yang didapatkan oleh para peneliti sejarah dengan menggali berbagai informasi berdasarkan studi pustaka dan studi literatur dari berbagai dokumen maupun arsip peninggalan. Bukti dari sejarah dapat dibedakan dalam dilihat dari sumber sumbernya dapat dibedakan sebagai berikut: 1. Sumber tertulis Prasasti, Kronik, Babad, Piagam, Dokumen, Laporan, Arsip, dan Surat Kabar merupakan contoh contoh sumber sejarah yang berupa sebuah data tulisan. Menurut sejarawan Sartono Kartodirdjo, sumber tertulis dapat diklasifikasikan menjadi berikut ini : a. Otobiografi b. Surat pribadi atau memo, catatan atau buku harian, dan c. Memoir, Koran, Novel, Dokumen dari pemerintahan. 2. Sumber Lisan Sumber lisan dapat dilakukan jika seorang peneliti sejarah melakukan penelitian dengan metode wawancara. Wawancara yang dilakukan oleh para peneliti ini dilakukan dengan menggali berbagai informasi yang dijelaskan oleh saksi atau pelaku sejarah. Namun, dalam mencari sumber lisan para peneliti sejarah harus benar benar tetap pada koridor keobjektifan. Terkadang, para peneliti turut larut dalam paparan cerita yang diungkapkan oleh saksi sejarah sehingga para penelitis sejarah tidak teruji keobjektifitasannya. 9

Sejarah Perkembangan Kesenian Jaranan

Dalam mencari sumber lisan, seorang peneliti atau sejarawan juga harus berhati hati. Keobjektifitasan seorang saksi harus benar benar dipastikan terlebih dahulu. Sebagai Seorang saksi sejarah dalam kaitannya sebagai sumber lisan, saksi sejarah tidak boleh terlalu memihak terthadap apa yang mereka lihat. Dalam artian, seorang saksi sejarah harus benar benar mengemukakan bukti temuannya secara jujur serta tidak memihak suatu golongan tertentu. Begitu juga bagi seorang peneliti. Seorang peneliti dan juga seorang sejarawan harus berada pada posisi netral. Perlakuan seorang peneliti harus benar benar professional dalam mencari sumber sumber lisan guna mendukung hasil penelitian yang baik. Seorang peneliti juga boleh untuk memilah data atau hasil sumber lapangan yang dinilai tidak sesuia dan juga keluar dari konteks sebuah penelitian yang diteliti. 3. Sumber benda Sumber benda yaitu sumber sejarah yang didapatkan seorang peneliti serta sejarawan dari peninggalan benda-benda kebudayaan, misalnya, alat-alat atau benda budaya. Seperti kapak, gerabah, perhiasan, manik-manik, candi, dan juga patung. Sumber benda juga disebut sebagai sumber Korporal. Sebuah bukti dari peninggalan sejarah merupakan sumber penulisan sejarah. Pada dasarnya, fakta fakta sejarah yang didapatkan ketika dilapangan merupakan data yang benar benar terpilih dan terseleksi. Adanya fakta fakta yang ditemukan pada penelitian lapangan dapat berbentuk benda atau bangunan secara konkret. Misalnya: candi, patung, perkakas dan alat berburu yang sering disebut artefak. Dikatakan sebagai benda artefak apabila semua benda baik secara keseluruhan atau sebagian hasil karya atau buatan tangan manusia. seperti, candi, patung, dan perkakas. Berbagai perlatan buatan manusia yang dihasilkannya dapat memberikan ciri bahwa tingkat 10

Alif Bayu Mahardhika

kehidupan masyarakat pada saat itu sudah mengalami peningkatan akal dan budaya yang cukup tinggi, bahkan dapat juga meggambarkan suasana alam semesta, pikiran, status sosial, dan kepercayaan para penciptaNya dari suatu masyarakat, hal inilah yang perlu dicermati oleh para sejarawan dan pelaku sejarah lainnya. Secara umum, fakta fakta sejarah yang diperoleh peneliti sejarah ketika melakukan penelitian haruslah mengandung unsur unsur pertanyaan apa, dimana, bagaimana, mengapa, dan juga kapan peristiwa tersebut terjadi. Pada dasarnya fakta sejarah merupakan sebuah bukti yang harus dimiliki oleh para peneliti. Kebenaran dari suatu fakta yang diperoleh oleh seorang peneliti haruslah bersifat empiris. Fakta sejarah yang telah diperoleh haruslah diolah dengan tepat sehingga nantinya para pembaca dapat tertarik dengan hasil penelitian dan larut dalam cerita sejarah. Pada sejarah perkembangan sebuah kesenian, yaitu sejarah perkembangan kesenian jaranan di Kabupaten Tulungagung harus mmengedepankan sebuah fakta yang berada di lingkungan sosial masyarakat sehingga sesuai dengan kondisi lapangan nantinya. Sejarah yang berada di lingkungan sosial masyarakat harus juga mengedepankan masalah dan fakta sosial. Menurut Kuntowijoyo, bahwa fakta sosial yang ada di lingkungan masyarakat merupakan ciri tumbuh kembangnya lingkungan masyarakat yang selalu memliki ciri khas, tradisi, adat istiadat hingga hal menarik lainnya yang dapat diangkat menjadi sebuah fakta sosial. Seperti halnya kegiatan gotong royong yang berada di lingkungan Desa memiliki rasa yang sangat kental akan rasa persatuan, hal ini juga berbeda dengan kegiatan gotong royong yang berada di perkotaan yang mana masyarakat kota lebih cenderung individualistik. Hal ini merupakan peristiwa yang unik serta dapat dinilai sebagai hal pembeda diantara keduanya.7 7

Kuntowijoyo. 2003. Metodologi Sejarah. Yogyakarta: PT. Tiara Wacana.

11

Sejarah Perkembangan Kesenian Jaranan

C. SEJARAH DAN SENI Sejarah sebagai seni disini dimaksutkan sebagai suatu kemampuan menulis yang baik serta menarik mengenai suatu kisah atau peristiwa di masa lalu yang ditulis oleh peneliti. Disini, sejarah perlu dipelajari oleh siapa saja. Hal ini bukan tanpa alasan, sejarah selain digunakan sebagai suatu bentuk untuk menggali fakta dari sebuah peristiwa atau lebih yang berasal dari masa lalu, mempelajari ilmu sejarah juga menjadi penting karena bisa membantu untuk menggali berbagai informasi yang belum terkuak atau belum tergali fakta fakta dari peristiwa tersebut. Sejarah dan seni disini dimaksutkan adalah bagaimana sebuah kisah atau fakta fakta sejarah itu ditulis. Dalam artian, seorang sejarawan dalam menulis sebuah fakta sejarah atau rangkaian peristiwa harus memiliki intuisi, imajinasi, emosi serta gaya bahasa penulisan yang baik. Sebuah karya dikatakan unik dan menarik apabila isi dari sebuah karya tersebut memberi kesan berbeda kepada para pembacannya. Seperti halnya penulisan Sejarah Perkembangan Kesenian Jaranan di Kabupaten Tulungagung. Dalam contoh penulisan judul tersebut terkesan menarik. Akan tetapi, perlu adanya penjelasan yang lebih spesifik dalam pokok pembahasannya. Dalam penulisan bisa ditambahkan kata asing, istilah padan kata, ataupun pemberian angka hingga periodesasi penulisan penelitian sejarah. Agar penulisan judul sejarah tersebut menarik, maka penulis menambahkan kurun periode sebagai penjelas dalam pembahasan karya sejarah. Sehingga menjadi: Sejarah Perkembangan Kesenian Jaranan di Kabupaten Tulungagung pada Tahun 1995-2020 M. dari penulisan judul sejarah tersebut sudah bisa tertuju atau terfokus pada pembahasan. Sejarawan harus memiliki intuisi dalam penulisan sebuah karya atau penelitian sejarah. Intuisi diperlukan Hlm 74.

12

Alif Bayu Mahardhika

saat memilih topic penelitian sehingga rangkaian fakta fakta yang didapatkan ketika dilapangan dapat terangkai secara baik menjadi sebuah kisah. Begitu juga imajinasi dibutuhkan oleh sejarawan dalam perihal menyusun fakta fakta sejarah sehingga berhasil ditemukan fakta sejarah yang objektif, bulat, serta dapat mudah dipahami oleh para pembaca. Perlu diketahui, bahwa kontruksi atau gambaran sejarawan tentang sebuah peristiwa tidak bisa sama persis dengan peristiwa yang sebenarnya, hal ini dikarenakan sejarawan maupun peneliti membutuhkan imajinasi untuk merangkai fakta fakta sejarah yang sudah tersedia. Hal ini tentu saja tidak mudah. Oleh karena itu, seorang sejarawan harus memiliki jiwa seni yang tinggi. Namun disaat yang bersamaan tidak bisa serta merta tergesa gesa dalam menentukan bukti bukti sejarah yang baru. Sebuah karya sejarah atau penulisan sejarah harus menarik untuk dibaca oleh para pembaca. Seni dibutuhkan dalam penulisan karya karya sejarah. Selain dari dokumen dan data, dengan tujuan tidak membuat sejarah itu terdengar kaku atau mebosankan bagi para pembaca.

D. SEJARAH PERKEMBANGAN SUATU KESENIAN Sejarah sebagai pengetahuan atau ilmu yang terdapat dalam suatu susunan pengetahuan tentang beragam peristiwa dan cerita yang terjadi di dalam lini aspek masyarakat pada masa lampau yang disusun secara sistematis dan menggunakan metode yang didasarkan atas asas-asas, proses suatu prosedur dan metode serta teknik penulisan dan juga teknik ilmiah yang diakui oleh para penulis sejarah serta para sejarawan. Jadi, menjadi seorang sejarawan harus bisa dan mampu mencatat apa yang sesungguhnya terjadi sehingga sejarah akan menjadi objektif dan benar tanpa ada campur tangan orang yang tidak bertanggung jawab. Dari segi paradigma sejarah atau cara pandang sejarah, sejarah memandang manusia tertentu yang mempunyai tempat 13

Sejarah Perkembangan Kesenian Jaranan

dan waktu tertentu serta terlibat dalam kejadian tertentu. Sejarah tidak hanya melihat manusia dalam gambaran dan hanya berupa objek saja, melainkan juga pendukung dalam sebuah keobjektifan sejarah. Berikutnya, sejarah memiliki fungsi yang sangat penting dalam suatu peristiwa. Sejarah harus mencatat rentetan rentetan peristiwa. Jika diamati secara seksama terhadap perkembangan seni di nusantara dari masa lampau sampai tiba masa globalisasi saat ini, sangatlah dibutuhkan sebuah penjajakan rentetan peristiwa sejarahnya dimulai dari masa prasejarah hingga saatnya masa sekarang ini. dengan melihat seni pertunjukan Indonesia di masa silam akan dapat diketahui pasang surutnya berbagai bentuk seni pertunjukan. Itulah namanya perkembangan. Secara keseluruhan, perkembangan kesenian di indonesia dapat dipilah melalui zaman budaya sebagai berikut: 1. Masa Prasejarah Awal Pada zaman prasejarah awal di Indonesia belum ditemukan data mengenai kemungkinan adanya bentuk seni pertunjukan (berbeda dengan peninggalan palaeolithik di Eropa di mana terdapat lukisan gua yang menggambarkan figure-figur manusia yang seperti dalam sikap menari). Pada periode ini, segala bentuk aktifitas sosial masih sangat sederhana. Pada masa prasejarah awal ini manusia sudah sedikit mengenal bentuk bentuk seni dasar. Khususnya di Indonesia, hal ini dibuktikan dari adanya peninggalan atau situs di gua leang Sulawesi selatan. Bukti peninggalan yang berupa telapak tangan berwarna kecoklatan masih jelas tergambar di dinding gua hingga kini. Manusia praaksara juga sudah bisa menciptakan karya seni walaupun dalam bentuk yang masih sangat sederhana. Mereka memulai menciptakan sebuah karya seni yang memiliki fungsi guna terhadap kehidupan mereka. Misalnya, para manusia praaksara menciptakan kapak genggam yang mana berfungsi sebagai alat 14

Alif Bayu Mahardhika

berburu mencari bahan makanan. Disamping kapak genggam memiliki nilai seni, kapak genggam juga memiliki nilai fungsi. 2. Masa Prasejarah Akhir Pada Zaman Prasejarah awal, Terdapat beberapa benda yang terbuat dari logam. Logam logam tersebut merupakan hasil zaman ini terdapat berbagai bentuk yang karya, yang berdasar analogi etnografik, dapat ditafsirkan serta dapat diartikan sebagai gambargambar orang menari dengan mengenakan hiasan kepala bulu-bulupanjang dan mungkin mengenakan topeng, baik dalam rangka upacara maupun tarian, dapat dikenali dalam berbagai benda tinggalan prasejarah masa tersebut. Contoh dari masa ini antara lain: topeng, gambar wajah pada nekara, kapak perunggu, sarkofag, dan arca menhir. Serta terdapat berupa Lukisan gua pada zaman inipun menggambarkan figure-figur manusia yang seperti sedang menari. 3. Masa Hindu Budha Pada Zaman ini menunjukan sebuah lonjakan data berkaitan dengan kesenian pertunjukan. Hal ini lebihlebih didukung oleh terdapatnya sumber sumber tertulis. Hal ini juga disebabkan oleh Akulturasi dengan kebudayaan India. Akulturasi adalah penggabungan dari dua kebudayaan menjadi satu namun tanpa menghilangkan kebudayaan aslinya. Akulturasi membawa agama Hindu dan Budha sebagai penanda utamanya, pada masa ini memperlihatkan juga pengaruh besar di bidang seni, termasuk seni pertunjukan. Reliefrelief candi memperlihatkan adegan-adegan dimana orang menari dan bermain musik. serta beragam kesenian yang bernuansa hindu budha. 4. Masa Islamisasi Pada Zaman islamisasi ini memperlihatkan suatu masukan tersendiri dalam perkembangan seni pertunjukan di Indonesia, khususnya dalam seni musik dengan ciri khasnya berupa permainan rebana. Namun, 15

Sejarah Perkembangan Kesenian Jaranan

perlu diketahui bersama bahwa zaman islamisasi diindonesia dimulai ketika para sunan atau wali songo menyebarkan ajaran islam di pulau jawa. Pada periode ini, perkembangan kesenian islam masih bernuansa hindu budha, namun nuansa kesenian islam tetap menjadi tujuan utama. Cara akulturasi kesenian juga terdapat pada masa ini. Dapat diambil contoh, pertunjukan kesenian wayang kulit dimasa sunan kalijaga. Sunan kalijaga menampilkan pertunjukan kesenian wayang kulit dengan tokoh tokoh pewayangan Mahabharata yang notabene terdapat di kitab hindu budha. Namun dengan kecerdasannya sunan kalijaga, beliau menambahkan nilai nilai ajaran islami kedalam pementasan pewayangan tersebut dengan tujuan sebagai media penyebaran ajaran islam di tanah jawa. 5. Zaman kolonialisme Kedatangan bangsa eropa ke Negara Indonesia bukanlah hanya bertujuan untuk penjajahan saja. Namun, kedatangan bangsa eropa juga membawa kebudayaan barat dan juga pemikira pemikiran barat. Selain itu bangsa barat juga membawa kultur pendidikan formal maupun nonfromal di Negara jajahannya. Melalui pendidikan tersebut bangsa barat dengan mudah memasukkan nilai nilai seni dan kebudayaan masuk kedalam ranah pendidikan. Bangsa eropa atau bangsa barat memasukkan musik-musik diatonik kepada para anak didik di sekolah. 6. Zaman Kemerdekaan Republik Indonesia Pada awal kemerdekaan Negara Indonesia sekitar tahun 1945 hingga tahun 1965 keberadaan kesenian di Indonesia belum berkembang dengan pesat. Namun, perkembangan kesenian pada zaman kemerdekaan mulai menunjukkan jati diri khasanah keanekaragaman keesenian. Adanya kesenian keronconng dan pop klasik menjadi tolak ukur dan awal mula bangkitnya ragam kesenian nasional yang dimiliki tanpa ada campur 16

Alif Bayu Mahardhika

tangan era kolonialisme. Hal tersebut menjadikan suatu kebanggaan bagi bangsa Indonesia kala itu. Perkembangan suatu sejarah dapat dilihat dalam bukti bukti atau fakta sejarah maupun informasi yang diperoleh dari berbagai narasumber ataupun tokoh sejarah yang memiliki keterkaitan dengan peristiwa sejarah. Peristiwa sejarah dapat terjadi dimana saja contoh terdekat adalah lingkungan masyarakat. Dalam lingkungan masyarakat selalu memiliki perkembangan suatu peristiwa yang kerap muncul tanpa disadari oleh masyarakat. Masalah sosial yang kerap muncul di masyarakat dapat dikategorikan sebagai peristiwa sejarah. Tentunya hal tersebut harus berdasar pada teori dan juga fakta yang diperoleh dari lapangan. Indonesia adalah Negara yang kaya akan keanekaragaman budaya. Kondisi ini dapat dilihat pada kultur masyarakat hingga kondisi geografis Negara Indonesia. Beberapa keanekaragaman yang ada di Indonesia seperti bahasa daerah, suku, adat istiadat, hingga tata perilaku bersosial yang beragam membuat ciri khas tersediri bagi bangsa Indonesia. Indonesia adalah negara yang terdiri dari pulau pulau, dimana setiap pulau terdapat suku yang menempati tempat tersebut. Hal ini membuat Indonesia memiliki kebudayaan yang beranekaragam. Keanekaragaman budaya tersebut merupakan salah satunya adalah keanekaragaman kesenian serta tradisi. Kesenian merupakan unsur kebudayaan yang universal dan dipandang dapat menonjolkan sifat serta ciri khas suatu bangsa. Kebudayaan juga masih satu bagian dengan Kesenian, begitu juga sebaliknya. dan kesenian merupakan sarana yang dipergunakan untuk memberikan serta menunjukkan rasa estetika dari dalam jiwa-jiwa manusia. Definisi kesenian diambil dari kata Seni yang berarti Proses dari manusia (menciptakan) atau intisari ekspresi dari kreativitas yang mengandung unsur keindahan dan 17

Sejarah Perkembangan Kesenian Jaranan

keelokan, orang yang menciptakan sebuah kreativitas seni disebut Seniman. Pengertian seni menurut kuntjaraningrat, kesenian ialah kompleks dari kumpulan ide ide, normanorma, gagasan, nilai-nilai, serta peraturan dimana komplek aktivitas dan tindakan tersebut selalu memiliki pola dari manusia itu sendiri dan pada umumnya berwujud berbagai benda benda hasil ciptaan manusia.8 Kesenian merupakan salah satu dari bagian kebudayaan kebudayaan manusia secara umum, karena dengan berkesenian merupakan suatu bentuk cerminan dari suatu bentuk peradaban yang tumbuh dan berkembang sesuai dengan keinginan dan citacita yang berpedoman kepada nilai-nilai serta norma yang berlaku dan dilakukan dalam bentuk aktifitas berkesenian, sehingga masyarakat mengetahui bentuk kesenian itu sendiri. Kesenian sebagai karya atau hasil simbol simbol manusia merupakan sesuatu yang misterius dan juga unik untuk dibahas. Namun demikian, secara bahasan yang luas jika berbicara masalah kesenian, orang akan langsung terimajinasi dengan kata “indah atau keindahan”. Kesenian akan selalu dekat dengan masyarakat. Sebagai salah satu bagian yang penting dari kebudayaan, kesenian adalah ungkapan kreatifitas dari kebudayaan itu sendiri. Masyarakat yang senantiasa menyangga kebudayaan dan juga kesenian, mencipta, memberi peluang untuk bergerak, melestarikan, menularkan, mengembangkan untuk kemudian menciptakan kebudayaan serta perkembangan kesenian yang baru lagi. Kesenian dianggap sebagai bentuk cerminan hasrat manusia akan suatu keindahan itu agar dapat dinikmati, terkadang masyarakat luas menyebutkan bahwa suatu kesenian adalah bentuk hiburan. Itulah ringkasnya para masyarakat dalam berpendapat. Sebenarnya kesenian ini bukan hanya sebagai bentuk hiburan semata. Melainkan 8 Dr. Mukminan. 2015. Dasar-Dasar Ilmu Sosial. Universitas Negeri Yogyakarta. Hlm 9.

18

Alif Bayu Mahardhika

kesenian ini sebagai bentuk suatu karya yang maha indah dan juga sebagai objek untuk diapresiasi. Nilai-nilai yang terkandung dalam sebuah pertunjukan seni merupakan nilai nilai yang penuh akan beragam makna. Dapat diperoleh juga nilai nilai yang terkandung dalam suatu bentuk kesenian merupakan pesan moral sekaligus tanda aturan yang harus dipatuhi bersama. Jadi, kesenian bukanlah hanya sebagai bentuk hiburan atau karya seni semata melainkan juga sarat akan nilai dan makna yang terkandung didalamnya Munculnya suatu kesenian bukanlah suatu hal yang tanpa sengaja. Namun memang hal tersebut merupakan suatu bentuk dari adanya aktifitas manusia didalam berkehidupan. Sebuah kesenian merupakan hal yang unik untuk dibahas dalam suatu bentuk penulisan sejarah. Sejarah diharapkan dapat mencatat dari adanya suatu perkembangan bentuk kesenian di suatu daerah. Pasalnya, banyak kesenian kesenian yang sangat ikonik disuatu daerah mengalami kepunahan begitu saja. Tidak ada catatan khusus yang membahas secara terperinci perkembangan kesenian dari tahun ketahun. Oleh karena itu, perlunya catatan sejarah guna mencatat kemunculan serta perkembangan dari suatu kesenian yang ada. Hal ini dimaksutkan juga sebagai wujud pelestarian kesenian sendiri selain dari pencatatan munculnya dari suatu kesenian tersebut. Dengan adanya sejarah perkembangan suatu kesenian, dapat memunculkan ide ide gagasan baru dari para tokoh masyarakat, seniman, hingga para pelaku sejarah guna memperbarui data serta dokumen guna mendukung penelitian selanjutnya. senantiasa berkembang bersama dengan situasi dan konteks sosial yang melingkupinya. Tidak pernah ada suatu kesenian, tradisi, dan sejenisnya yang tidak berubah. Jika ada kesenian yang tidak berubah berarti kesenian tersebut telah selesai bahkan mati. Dalam kebudayaan secara universal setiap kesenian bersentuhan dengan tradisi yang lain. Sehingga setiap kesenian, tradisi 19

Sejarah Perkembangan Kesenian Jaranan

berhubungan, bersentuhan, dan berinteraksi dengan kesenian yang lain. Sejarah sebagai sarana pencatatan sebuah peristiwa selalu mengedepankan nilai nilai objektifitas suatu data yang ditemukan di lapangan. Sejarah sangat berhati hati dalam memilah hasil temuan yang berupa data primer, data sekunder, serta data tersier yang digunakan dalam pencatatan peristiwa. Dalam pencatatan peristiwa yang berhubungan dengan kesenian, sejarah tidak bisa menghilangkan nilai nilai kultural yang ada dalam sebuah kesenian. Nilai nilai kultural yang senantiasa sarat akan pesan moral, pesan tradisi harus benar benar diperhatikan sebaik mungkin. Dalam artian, sejarah harus tetap mencatat berbagai peristiwa dalam sebuah perkembangan kesenian, tanpa menghilangkan nilai nilai kebudayaan serta tradisi yang ada didalam kesenian tersebut. Lingkungan sosial masyarakat sebagai wadah dari berkembanganya suatu kesenian juga tak luput ikut diperhatikan dalam sejarah. Melalui lingkungan sosial masyarakat, sebuah kesenian tumbuh menyatu dengan kultur yang ada. Seperti halnya sejarah perkembangan kesenian jaranan di Kabupaten Tulungagung. Kesenian jaranan sudah menjadi ciri khas di Kabupaten Tulungagung. Kondisi kultural yang ada dimasyarakat masih sangat kental dengan budaya budaya. Mereka para masyarakat Tulungagung selalu menjunjung tinggi nilai nilai yang ada dalam sebuah bentuk kesenian dan pertunjukan. Pesan moral yang ada dalam setiap pertunjukan kesenian selalu memiliki makna tersendiri. Misalnya, pada suatu malam di Desa Gedangsewu mengadakan malam Bersih Desa yang mana menampilkan kesenian tari jaranan dari salah satu sanggar seni jaranan yang ada di kawasan Tulunggung. Para sesepuh Desa menyediakan sedekah bumi berupa ambengan atau tumpeng yang nantinya akan dimakan secara bersama sama dengan para masyarakat yang datang. Selanjutnya mereka bermunajat atau berdoa sebelum pelaksanaan 20

Alif Bayu Mahardhika

kesenian jaranan dipentaskan. Mereka melakukan do’a/ tahlil meminta rahmat dari Allah SWT agar Desa mereka senantiasa aman, damai, sejahtera. Setelah do’a/ tahlil selesai mereka menyantap ambengan yang sudah tersedia sebelumnya secara bersama sama. Kemudian, pementasan kesenian jaranan dimulai. Fungsi dari pementasan disini selain sebagai hiburan masyarakat yaitu berfungsi sebagai bentuk ucapan rasa syukur terhadap Tuhan, alam semesta, para leluhur Desa, hingga sesama makhluk tuhan. Sebelum acarara penampilan kesenian jaranan, biasanya Sesepuh Desa membacakan silsilah sejarah Babat Desa. Silsilah Babat Desa dibacakan bertujuan untuk memberikan pengetahuan serta memperkenalkan leluhur Desa yang sudah berjasa dalam memimpin Desa tersebut pada zaman dahulu. Selanjutnya setelah pembacaan silsilah Babat Desa, Sesepuh Desa membacakan do’a agar pementasan kesenian jaranan berjalan lancer tanpa halangan apapun sampai pementasan selesai. Penampilan dari kesenian jaranan juga sarat akan makna. Terkadang pihak yang mengundang kelompok sanggar jaranan tersebut berpesan untuk menampilkan gerakan gerakan yang bisa menumbuhkan semangat para masyarakat hingga tembang tembang yang dinyanyikan berisi pesan perdamaian. Didalam pertunjukan kesenian jaranan. Ada hal unik yang selalu ditunggu tunggu oleh para penontonnya. Yaitu babak ndadi atau dalam bahasa Indonesia (Pemanggilan Roh Leluhur). Pemanggilan roh leluhur ini menjadi daya tarik tersendiri dalam sebuah pertunjukan. Para pemain dari jaranan akan dimasukkan roh leluhur oleh para pemain jaranan yang senior. Tanpa sadar, mereka akan berjoget sesuka hati bahkan terkadang gerakannya tidak mengikuti tempo music yang dialunkan. Ada juga para pemain yang dimasukkan roh leluhur meminta makanan yang tak lazim kepada juru acara. Seperti halnya kopi pahit, ayam hidup, bunga segar, dan masih banyak yang lainnya. Namun, seiring dengan perkembangannya kesenian jaranan sudah mulai banyak yang meninggalkan hal hal 21

Sejarah Perkembangan Kesenian Jaranan

magis tersebut dan sudah berkembang sebagai jaranan kreasi baru. Babak ndadi tetap ada dalam susunan pementasan, namun lebih terkesan dibuat gerak tari yang seolah olah kemasukan roh leluhur. Hal ini bertujuan untuk meminimalisir nilai yang diambil para penonton setelah pementasan berakhir. Dengan harapan lain, penonton tidak untuk meniru adegan yang ada pada babak ndadi tersebut. Perkembangan kesenian juga terkadang disebabkan oleh permintaan pasar. Sejarah mencatat bahwa pada periode periode tertentu pasti memiliki ciri khas perkembangannya. Pada kurun waktu ’90 an hingga 2000 an, perkembangan kesenian seperti jaranan, reog, serta tari tari tradisional sangat digandrungi masyarakat. Pementasan kesenian pada saat itu sudah peka akan adanya permintaan pasar bahwa suatu pertunjukan lebih menarik jika direkam dalam bentuk audiovisual contohnya melalui VCD serta DVD Player. Pada periode tersebut. Para pelaku seni khususnya di Kabupaten Tulungagung berlomba lomba untuk mengabadikan pertunjukan kesenian melalui media VCD serta DVD dan mulai diperjual belikan di lapak lapak penjualan VCD. Tentunya harus dengan izin edar pasaran. Sesungguhnya, perlunya izin edar ini dirasa sangat menyulitkan para pelaku seni yang ingin mengekspresikan karyanya. Hal ini bukan tanpa alasan, adanya beberapa berkas yang harus dipenuhi para pelaku seni untuk mendapatkan lisensi legal ijin edar dari sebuah karya melalui VCD ataupun DVD. Masalah bukan hanya berhenti sampai disitu saja, para pelaku seni melalui produser atau konseptor harus benar benar memiliki konsep dari sebuah produksi pertunjukan. Konseptor adalah orang dibalik layar dalam pementasan suatu karya yang memiliki peran penting dalam produksi serta konsep produksi suatu karya. salah dalam mengambil konsep dalam pementasan hingga kemasan pertunjukan, akan berpengaruh dalam nilai jual sebuah VCD atau DVD di pasaran. Oleh karena itu, sang konseptor sangat bertanggung jawab dalam memberikan 22

Alif Bayu Mahardhika

konsep pertunjukan agar terkesan beda serta menarik minat pasaran. Pada kurun waktu 2015 an, perkembangan pementasan kesenian, terutama kesenian jaranan di Kabupaten Tulungagung selain melalui pementasan panggung utama juga dipentaskan melalui streaming video di youtube. Terobosan baru guna mengikuti perkembangan zaman yang serba digital turut diikuti para pelaku seni. Pada awal mulanya, para pelaku seni sedikit mengalami kendala produksi hingga proses pengunggahan video di youtube. Namun semuanya bisa teratasi tanpa masalah besar yang berarti. Kuncinya harus ada komunikasi yang solid antar generasi senior serta generasi senior. Sejarah mencatat, terdapat suatu perkembangan kesenian yang ada di Kabupaten Tulungagung. Menurut Bapak Handoko, seorang mantan konseptor dari sanggar seni jaranan di Kabupaten Tulungagung berpendapat: di era 1995 hingga 2000 an masyarakat sangat tertarik serta antusias menonton kesenian jaranan dengan selingan dangdut serta campursari. Sebelumnya, masyarakat enggan untuk menyaksikan suatu pertunjukan ksenian dengan alasan konsep acara yang monoton atau begitu begitu saja tanpa ada perubahan. Setelah Bapak handoko memiliki Konsep pertunjukan kesenian jaranan dengan diselingi alunan music dnagdut dan campursari, ternyata respon masyarakat sangat antusias. Pak handoko adalah mantan konsepror sanggar seni jaranan Turonggo safitri Putro Di Kawasan Gedangsewu. Selain dari perkembangan kesenian melalui perekaman VCD dan DVD, perkembangan kesenian juga terdapat pada pakem pakem gerakan tari yang ada dalam suatu pementasan. Pada era periode 1990 an pementasan kesenian seperti halnya menggunakan pakem gerakan lama yang notabene bertempo lambat dan sesuai dengan alunan music yang dibunyikan dari gamelan. Gerakan cenderung lambat dan terkesan monoton. Terlebih lagi jika para pesinden menyanyikan langgam langgam jawa kuno 23

Sejarah Perkembangan Kesenian Jaranan

yang tidak semua para penonton mengerti maksut atau artinya. Hingga pada akhirnya pada kurun periode 2000’an dengan pelopor kesenian jaranan dangdut kreasi memberikan nuansa baru pada pakem-pakem gerakan tari pada kesenian jaranan. Kemunculan pakem pakem baru gerakan ternyata sempat menjadi perdebatan kala itu dikalangan seniman kesenian jaranan. Para senior kesenian jaranan beranggapan bahwa kemunculan pakempakem gerakan baru akan merusak dan menghilangkan makna asli dari kesenian tersebut. Namun, dengan diskusi panjang pada akhirnya satu pihak dengan pihak yang lain saling memahami. Bahwa yang dimaksutkan adanya pakem gerakan baru bukanlah menghilangkan pakem gerakan lama, melainkan untuk mempersegar serta memberikan keragaman baru gerak tari tanpa menghilangkan pakempakem gerakan yang lama. Kesenian merupakan salah satu unsur yang terdapat dalam kebudayaan. Dikarenakan sebagai salah satu unsur kebudayaan, maka kesenian juga turut serta dalam membantu sebuah kemajuan peradaban serta kebudayaan dari suatu bangsa. Dikarenakan dengan hal tersebut, kesenian merupakan bukti bahwa kesenian merupakan faktor penting dalam kebudayaan. Walaupun kesenian dan kebudayaan ada sisi pembeda dari keduanya, namun kesenian serta kebudayaan merupakan satu kesatuan bentuk yang senantiasa berkesinambungan antar satu sama lainnya. Kesenian yang berbasis dengan kebudayaan tentunya tidak dapat terelakkan menjadi sebuah penentu dalam kehidupan pekerja seni. Dapat diambil contoh bahwa banyak seniman di Kabupaten Tulungagung yang sangat berkonsentrasi pada kesenian. Kabupaten Tulungaguung sering disebut sebagai kota dengan banyak seniman. Banyak unsur unsur kesenian di Kabupaten Tulungagung. Keseniaan jaranan merupakan salah satu unsur kesenian yang sangat melekat di kota tersebut. Tidak hanya kesenian jaranan saja, akan tetapi kesenian yang lain juga turut serta dalam mengisi khasanah kesenian yang ada di 24

Alif Bayu Mahardhika

Kabupeten Tulungagung antara lain kesenian reog kendang, hingga wayang kulit. Oleh karena itu, pencatatan sejarah harus tetap ada dalam sebuah kesenian. Beragam khasanah kesenian yang ada dalam suatu daerah harus benar benar dicatat serta ditulis dalam catatan sejarah sebagai wujud pelestarian dari kesenian tersebut. Hal ini menegaskan bahwa sebuah fakta sejarah dari suatu perkembangan kesenian memiliki eksistensi yang tidak bisa lepas dari komponen komponen sumber daya manusia yang menopang. Lingkungan sosial masyarakat merupakan sebuah kultur serta unsur penting yang harus dipertimbangkan dalam pencatatan sebuah perkembangan. Maka dari itu, rangkaian rangkaian komponen tersebut harus senantiasa bergerak bersama. Saling menopang dan saling mendukung antar satu sama lain agar tetap berkesinambungan dan juga sesuai dengan yang diharapkan. Berkaitan dengan hal tersebut, saat ini para pekerja seni di segala aspek kesenian yang ada, tentunya memperoleh kesempatan yang baik pada pengembangannya. Semua ini dikarenakan dapat menjadikan salah satu unsur kebudayaan yang penting dalam peradaban. Oleh karena itu, sebuah kesenian harus memiliki sebuah kreatifitas serta inovasi baru dalam setiap perkembangannya. Bukan tanpa alasan, hal ini ditujukan untuk menopang keberlanjutan kesenian dimasa yang akan datang. Multi kreatifitas seni harus ada pada jiwa seorang seniman. Adanya suatu perubahan dalam setiap perkembangan pasti terdapat perdebatan, bahkan tak jarang juga sampai timbul konflik intern pada pelaku perubahan. Ini adalah sebuah risiko yang memang harus dihadapi. Hal terpenting adalah bagaimana perubahan tersebut memiliki dampak positif terhadap setiap kalangan serta senantiasa memberikan manfaat. Dengan adannya perkembangan, suatu bentuk tatanan sosial masyarakat akan jauh lebih baik dari sebelumnya. Belajar dari masa lalu sangatlah 25

Sejarah Perkembangan Kesenian Jaranan

penting. Bagaimana kita mengambil risiko serta bagaimana kita memanagemen sebuah risiko yang sudah pasti ada pada setiap keputusan. Maka dari itu sejarah hadir untuk mencatat berbagai peristiwa dalam sebuah perkembangan, terutama perkembangan kesenian yang harus dicatat dan diabadikan.

E. SASARAN KARYA Secara umum karya ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran dan juga informasi terbaru kepada dunia pendidikan, Budaya, dan sejarah untuk dapat mengetahui Sejarah Perkembangan Kesenian Jaranan di Kabupaten Tulungagung pada Tahun 1995 hingga 2020 Masehi. Bagi dunia Pendidikan Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai masukan pandangan Sejarah dari Perkembangan Kesenian Jaranan di Kabupaten Tulungagung pada periode tahun 1995 sampai 2020 Masehi. Bagi para budayawan hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai masukan bagi para budayawan mengenai berbagai informasi terbaru tentang kesenian yang ada di Kabupaten Tulungagung pada periode tahun 1995 sampai 2020 Masehi khususnya kesenian jaranan. Bagi peneliti lainnya, Hasil penelitian ini dapat digunakan oleh peneliti yang akan datang sebagai bahan kajian penunjang dan bahan pengembang perancang penelitian dalam meneliti hal-hal yang berkaitan dengan topik di atas. Dalam Pembahasan ini, penulis akan memaparkan objek penelitian sebagaimana adanya, kemudian dianalisis menggunakan perangkat analisis pendekatan ilmu sejarah. Pendekatan sejarah merupakan suatu pendekatan yang membahas suatu bentuk tari melalui kurun periode waktu dan juga saksi sejarah. Selain itu, pada penelitian ini, sejarah juga mencakup seluruh aspek budaya dan sosial masyarakat pendukungnya.

26

Alif Bayu Mahardhika

Melalui metode kualitatif yang dipadukan dengan sejarah, yakni untuk membuat suatu rentetan kontruksi peristiwa masa lampau secara objektif, serta sistematis dengan mengumpulkan bukti bukti pendukung sejarah dan juga nantinya akan ditarik kesimpulan dari berbagai sumber yang telah diperoleh. Untuk proses penelitiannya pada konteks sejarah yaitu menguji dan menganalisa secara kritis terhadap bukti bukti pendukung seperti dokumen dokumen, rekaman video ataupun audio, serta peninggalan masa lalu yang relevan dengan topic penelitian yang otentik dan informasinya dapat dipercaya. Serta data data yang diperoleh dapat dibuat interpretasi dan sintesis atas fakta fakta sehingga nantinya dapat menjadi sebuah catatan sejarah yang objektif serta dapat dipercaya. Metode historis dalam penelitian ini bertumpu pada langkah langkah berikut: 1. Heuristik Yaitu kegiatan berupa mengumpulkan serta menggali sumber sumber pendukung dalam fakta sejarah. Penelitian ini termasuk kedalam penelitian lapangan. Pada tahapan ini dilakukan dengan langkah langkah sebagai berikut: a. Observasi Observasi dilakukan guna memperoleh pola pola persebaran budaya yang ada dilingkungan masyarakat. Dalam hal ini peneliti melakukan pengamatan di masyarakat. Adapaun hasil dari observasi nantinya berupa nama nama para pelaku seni jaranan serta sejarawan yang masih hidup serta dapat dimintai informasi melalui wawancara terkait adanya sejarah perkembangan kesenian jaranan di Kabupaten Tulungagung.

27

Sejarah Perkembangan Kesenian Jaranan

b. Wawancara Proses wawancara dapat dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan bukti bukti sejarah dalam bentuk lisan atau ucapan. Kegiatan wawancara yang sesuai dalam topic pembahasan adalah mewawancarai beberapa pimpinan jaranan serta para penari jaranan dengan ketentuan sudah diseleksi terlebih dahulu secara individu oleh penulis sehingga dapat teruji keobjektifitasannya. Bentuk wawancara yang dilakukan oleh peneliti yakni wawancara bebas terpimpin. Yaitu wawancara untuk mencari garis besar pembahasan tentang hal hal yang akan ditanyakan kepada narasumber. Hal ini dilakukan karena jaranan adalah kesenian yang mengandung unsur tari dan music, sehingga untuk merekonstruksi bentuk penyajian pertunjukannya diperlukan cara tersendiri. Salah satunya dengan mewawancara secara langsung para pelaku seni yaitu para pemain dan juga pemusik dari jaranan baik yang masih aktif pentas maupun sudah menjadi senior. c. Dokumenter Yaitu proses untuk mencari serta menyelidiki sumber atau data yang diambil saat waktu pertunjukan sedang berlangsung yang berkaitan dengan kesenian jaranan di Tulungagung. d. Verifikasi Verifikasi data digunakan untuk menguji dan juga menganalisis data yang diperoleh secara kritis. Selanjutnya dari hasil verifikasi dapat dilanjutkan dengan kritik sumber. Kritik dapat dibedakan menjadi dua macam dalam penelitian ini. Yaitu kritik intern dan juga kritik extern. Kritik ekstern digunakan untuk mengkritik dekatnya para saksi atau pelaku seni dengan 28

Alif Bayu Mahardhika

kesenian jaranan. Dekat disini meliputi dekat secara geografis maupun dekat secara kronologis. Selanjutnya bahasa serta dialek yang digunakan juga tak luput diperhatikan demi menilai keobjektifan data lisan. e. Interpretasi Proses berikutnya yaitu interpretasi. Interpretasi dimaksudkan yaitu menafsirkan makna makna dari fakta dan bukti sejarah yang diperoleh. Pada tahap ini penulis melakukan penafsiran terhadap fakta sejarah tentang sejarah perkembangan kesenian jaranan di Kabupaten Tulungagung dengan periode waktu 1995 sampai 2020 Masehi. Proses interpretasi dilakukan dengan menguraikan dan menyatukan. Peneliti menganalisis fakta yang sesuai dengan pokok penelitian. f. Historiografi Historiografi yaitu penulisan dari sejarah yang diperoleh melalui fakta fakta. Historiografi dapat juga dijadikan sebagai hasil dari sebuah penelitian sejarah. Pada tahap ini juga pengumpulan berbagai sumber sumber dokumen, sumber lisan, dokumentasi foto serta bukti pendukung lainnya dijadikan satu bahasan hingga dapat ditarik suatu kesimpulan.

29

Sejarah Perkembangan Kesenian Jaranan

30

BAB II KABUPATEN TULUNGAGUNG

A. PROFIL TULUNGAGUNG Secara administrasi tata letak wilayah Kabupaten Tulungagung ada pada 154 Kilometer dari kota Surabaya. Tepanya arah Barat Daya. Secara letak geografis dari Kabupaten Tulungagung adalah pada posisi 111’43’-112’07’ BT dan 7’51’-8’18’ LS dengan titik nol derajat dari Greenwitch.9 Sementara batas batas wilayah Kabupaten Tulungagung berbatasan dengan kabupaten disekitarnya seperti diselatan berbatasan dengan kabupaten trenggalek, utara berbatasan dengan Kabupaten Kediri, serta di sisi timur berbatasan dengan Kabupaten Blitar. Kabupaten Tulungagung memiliki beragam potensi wilayah yang tidak kalah hebat dengan wilayah yang lainnya. Beragam potensi di Kabupaten Tulungagung seperti potensi wisata, potensi budaya, wisata kuliner, industri kreatif, serta sentra tepat pelelangan ikan yang ada di Tulungagung sisi selatan.

9 www.DisBudParPora.Wordpress. Diakses Tanggal 20 Desember 2020. Pukul 13.00.

31

Sejarah Perkembangan Kesenian Jaranan

Kabupaten Tulungagung memiliki 19 Kecamatan, antara lain: 1. Kecamatan Sendang 2. Kecamatan Pagerwojo 3. Kecamatan Gondang 4. Kecamatan Kauman 5. Kecamatan Karangrejo 6. Kecamatan Ngantru 7. Kecamatan Kedungwaru 8. Kecamatan Tulungagung 9. Kecamatan Boyolangu 10. Kecamatan Sumbergempol 11. Kecamatan Ngunut 12. Kecamatan Rejotangan 13. Kecamatan Pucanglaban 14. Kecamatan Kalidawir 15. Kecamatan Tanggunggunung 16. Kecamatan Campurdarat 17. Kecamatan Pakel 18. Kecamatan Bandung 19. Kecamatan Besuki Dari 19 Kecamatan yang berada di Kabupaten Tulungagung, ada satu Kecamatan yang bearada di kawasan perkotaan. Yaitu Kecamatan Tulungagung. Kecamatan Tulungagung memiliki 14 kelurahan. Antara lain Kelurahan Bago, Botoran, Jepun, Kampungdalem, Karangwaru, Kauman, Kedungsoko, Kenayan, Kepatihan, Kutoanyar, Panggungrejo, Sembung, Tamanan, dan Tertek. Menurut data dari badan pusat statistik Kabupaten Tulungagung pada tahun 2016-2020, jumlah penduduk di Kabupaten Tulunggagung tahun 2016 sejumlah 1.029.257 jiwa, pada tahun 2017 sejumlah 1.035.976 jiwa, untuk

32

Alif Bayu Mahardhika

tahun 2018 adalah 1.042.748 jiwa, tahun 2019 berjumlah 1.049.573 jiwa, tahun 2020 sejumlah 1.056.451 jiwa.10 Letak geografis Kabupaten Tulungagung yang berada di sisi selatan jawa timur membuat Kabupaten Tulungagung sangat ikonik dengan pantai pantainya yang eksotis. Pantai pantai yang terkenal di Tulungagung antara lain pantai Gemah, pantai Popoh, serta pantai Sine. Selain pantai, Kabupaten Tulungagung juga menyuguhkan pesona wisata perkebunan yang hijau. Antara lain perkebunan teh yang ada di Penampian, air terjun di kawasan Sendang hingga Bendungan Wonorejo. Untuk jumlah sungai yang ada di Kabupaten Tulungagung kurang lebih ada 27 sungai. Secara garis besar, Kabupaten Tulungagung dikelilingi oleh banyak sungai. Kecuali Kecamatan Pucanglaban dan Kecamatan Tanggunggunung. Beberapa sungai di kawasan Tulungagung rata rata melewati lebih dari 1 Kecamatan. Misalnya Sungai Parit Agung yang melintasi selatan Kabupaten Tulungagung, Sungai Song yang melintas barat Kabupaten Tulungagung, dan Sungai Brantas yang melintasi utara Kabupaten Tulungagung. Sedangkan bila dilihat dari jarak rata-rata dari Kecamatan ke Ibukota Kabupaten yang memiliki jarak terjauh adalah Kecamatan Pucanglaban yang kurang lebih sejauh 36 Km. Sungai sungai yang ada di daerah Tulungagung merupakan aliran sungai yang menjadi saksi keberadaan daerah yang dulunya terkenal dengan sebutan kawasan Ngrowo. Sungai tersebut memiliki peradaban yang pada dasarnya memiliki keterkaitan dengan daerah yang dialirinya. Seperti halnya jaman dahulu disaat belum adanya saranan transportasi seperti yang kita alami sekarang, jalan aspal, para masyarakat terdahulu menggunakan saranan sungai sebagai media transportasi dari satu daerah ke daerah lainnya dengan menggunakan alat yang biasa disebut gethek. 10

Data Bappeda Tulungagung, Profil Kab. Tulungagung. 2020, Tahun 2018.

33

Sejarah Perkembangan Kesenian Jaranan

Bahkan ada sebuah catatan cerita yang patut dituangkan, yaitu pada zaman dahulu, apabila seseorang ingin menuju suatu daerah, dan daerah tersebut sulit untuk dijangkau, apabila menggunakan jalur darat maka orang tersebut memanfaatkan fasilitas aliran sungai untuk alat transportasi menuju daerah tujuannya. Sehingga apabila dibayangkan pada masa kehidupan zaman dahulu masih sangat natural sekali. Selain itu, masyarkat menggunakan fasilitas alam untuk bertahan hidup. Betapa tinggi perjuangan mereka pada saat itu. Catatan kisah lampau yang tentunya dituturkan melalui lisan oleh generasi tua dapat dijadikan gambaran bagi generasi muda. Betapa agungnya kehidupan masa lampau. Kehidupan dengan lingkungan sekitar yang termanfaatkan secara baik. Peradaban aliran sungai yang ada di daerah Tulungagung, emang sepatutnya mendapatkan sentuhan dari berbagai kalangan, hal ini dimaksutkan agar dapat dimanfaatkan secara optimal pada masa generasi berikutnya. Dengan adanya berbagai visi dan misi kehidupan untuk membangun peradaban daerah yang lebih baik senantiasa tetap mengharmoniskan keberadaan tradisi dengan lingkungan masyarakat. Keberadaan sungai sungai di kawasan Tulungagung menggambarkan daerah Tulungagung merupakan kawasan yang memiliki potensi agraris atau memiliki tingkat kesuburan yang baik. Sungai sungai yang ada di Tulungagung selain untuk pengairan sawah, juga untuk mengantisipasi ketika datangnya bencana banjir bandang yang pernah menerjang kawasan Tulungagung dan sekitarnya.

34

Alif Bayu Mahardhika

Gambar II.1: Foto kawasan Perkotaan Tulungagung yang dilanda banjir tahun 1976. 11

Gambar II.2: Banjir yang menggenang pasar wage Tulungagung tahun 1970 an. 12

11 Wawancara, dokumentasi dari DinPerpus dan Arsip Tulungagung, pada tanggal 15 Desember 2020. Pukul 09.30 WIB. 12 Wawancara, dokumentasi dari DinPerpus dan Arsip Tulungagung, pada tanggal 15 Desember 2020. Pukul 09.30 WIB.

35

Sejarah Perkembangan Kesenian Jaranan

Dengan adanya aliran sungai sebagian masyarakat memiliki budaya yang berkaitan dengan sungai atau rawarawa. Terutama perahu gethek. Tempo dulu saat menuju wilayah perkotaan Tulungagung terutama masyarakat yang berada diluar pusat kota ketika akan pergi menuju kota, sebagian masyarakat menggunakan perahu gethek menyusuri sungai Ngrowo. Kabupaten Tulungagung juga memiliki beragam makan khas yang dapat dijadikan sebagai wisata kuliner jika ingin berwisata di Kabupaten Tulungagung. Kekayaan cita rasa makan yang khas dari Tulungagung dapat menjadi daya tarik wisatawan. Cita rasa yang khas dari masakan Tulungagung adalah bersantan dan pedas. Kabupaten Tulungagung juga mempunyai makanan-makanan khas yang bisa menjadi referensi untuk wisata kuliner jika berkunjung ke Tulungagung. Makanan yang menjadi ciri khas Tulungagung yaitu :

a. Nasi Lodho Tulungagung Sebenarnya kuliner ini mirip dengan kare ayam, hanya saja ayamnya dipanggang atau diasap terlebih dulu dan disajikan bersama nasi dan tiwul. Tiwul adalah nasi yang terbuat dari gaplek atau singkong dengan pelengkap gudhangan yang berbahan dasar sayur-sayuran, namun dalam perkembangannya lebih banyak yang disajikan pada warung kaki lima serupa dengan kare ayam. Lodho Tulungagung dibedakan dalam 2 genre, yaitu Lodho kuah kental dan encer. kekentalannya berasal dari konsentrasi santan, biasanya rasanya pedas, ayamnya ayam kampung. b. Sate dan Gule Kambing Sate Tulungagung mirip dengan sate lainnya dan tampak sederhana, terdiri dari daging kambing yang ditusuk dalam sujen atau tusuk sate yang terbuat dari bambu. Sate disajikan dengan bumbu kecap yang diberi merica dan petis, serta ditaburi dengan irisan bawang merah, di beberapa warung ditambah irisan daun jeruk. Berbeda pula tampilan Sate di kabupaten Trenggalek atau biasa 36

Alif Bayu Mahardhika

disebut dengan Sate Bendo. Sate Bendo dalam penyajiannya ditaburi kecambah sama seperti daerah Nganjuk, tidak seperti sate Madura dan sate Ponorogo dan Kediri, yang bumbu-nya mengandung kacang, Sehingga rasanya memang khas Tulungagung an. c. Nasi Pecel Tulungagung Nasi pecel dengan karakter sambal pecel seperti di daerah Kabupaten Blitar, yang membedakan dengan pecel dari daerah lain seperti Madiun atau Ponorogo adalah karakter sambal kacang yang pedas manis karena terdapat penambahan gula jawa atau gula aren serta aroma daun jeruk yang kuat. d. Kerupuk Rambak Tulungagung Kerupuk yang terbuat dari kulit sapi hingga kerbau serupa kerupuk jangek di Padang, Sumatra Barat. Namun dengan karakter yang lebih renyah, sentra industri kerupuk ini ada di seputaran Botoran Panggungrejo kota, Sembung. e. Kue Geti Geti adalah nuget terbuat dari wijen yang dicampur dengan kacang serta dimasak dengan gula sehingga memunculkan sensasi rasa yang manis dan gurih. f. Sredek Sredek, Makanan yang terbuat dari gethuk singkong, kemudian digoreng. Biasa dimakan dengan tempe goreng dan cabe mentah sebagai lalapannya. Sredek adalah makanan khas dari wilayah Tulungagung selatan. g. Krupuk Gadung Kuliner yang untuk saat ini pembuatannya hanya dikuasai oleh sedikit orang. Pada umumnya para pengrajinnya orang tua. Karena pengolahannya harus diperam dulu menggunakan abu untuk menghilangkan kandungan getah gadung agar tidak menyebabkan efek mabuk atau pusing kepala ketika dimakan.

37

Sejarah Perkembangan Kesenian Jaranan

h. Soto Ayam Kampung Warung soto dengan aroma rempah yang kuat dan kemiri sebagai penguat rasa banyak ditemui disekitaran pinggiran jalan Kecamatan Kauman dan Kecamatan Gondang. Kabupaten Tulungagung juga merupakan salah satu kabupaten di Jawa Timur yang memiliki sumber daya alam yang begitu melimpah. Salah satunya yaitu sumber daya alam batu kapur dan marmer. Industri marmer di Tulungagung terpusat pada satu wilayah, yaitu Kecamatan Campurdarat. Kecamatan Campurdarat sangat mendukung adanya kegiatan penambangan batu marmer. Pasalnya, pada kawasan Kecamatan Campurdarat merupakan kawasan yang dikelilingi dengan perbukitan kapur dan batu marmer. Untuk pemasaran hasil penambangan batu marmer Tulungagung sudah mencapai hampir seluruh wilayah Indonesia. Sayangnya, dengan seringnya aktifitas penambangan di wilayah Campurdarat membuat kapasitas batu marmer yang ada di perbukitn kapur semakin menipis. Kabupaten Tulungagung juga memiliki produk produk unggulan seperti batik. Beberapa batik yang terkenal di Tulungagung diantaranya Batik Tulungagung sangatlah minim. Contohnya yaitu: Batik Satriomanah, Batik Makmoer, Batik Sarinah, Batik Barong Gung dan Batik Kalang Kusumo. Di Kecamatan Ngunut juga terdapat industri peralatan Tentara seperti tas ransel, sabuk, seragam, tenda dan makanan ringan seperti kacang atom. Di Kecamatan Ngunut juga terdapat industri batu bata dan genteng yang kualitasnya sangat baik. Di Kelurahan Sembung juga di kenal sebagai pusat industri krupuk rambak. Sedangkan di bagian pegunungan utara, yaitu Kecamatan Sendang terdapat perusahaan susu sapi perah dan perkebunan teh. Industri perikanan, dan gula merah juga dimiliki Tulungagung. Produk produk tersebut juga tidak kalah bagus kualitasnya, produk tersebut telah dikenal secara nasional. 38

Alif Bayu Mahardhika

Potensi perikanan di wilayah Tulungagung juga termasuk produk unggulan. Baik dari perairan tawar, perairan payau, hingga laut. Kegiatan usaha perikanan dalam memanfaatkan potensi tersebut meliputi cabang cabang usaha tangkap laut dan perairan umum, budidaya udang di tambak dan budidaya ikan konsumsi maupun ikan hias air tawar di kolam pasangan, kolam tanah yang berupa pekarangan, tegalan, dan sawah. Usaha tangkap laut berada di perairan pantai selatan Pulau Jawa yaitu Samudra Indonesia dengan potensi panjang pantai 61,470 km, Total Potensi sebesar 25.000 ton per tahun. Perkembangan budidaya ikan air tawar di Kabupaten Tulungagung dikelompokkan pada dua usaha yaitu budidaya ikan hias dan konsumsi. Ikan hias dikhususkan pada ikan mas koki dengan jenis lain seperti kaliko, tosa, rasket, mutiara, lion head atau kepala singa, mata kantong atau mata bola, mas lowo, tekim, spenser, rensil dan 40 jenis ikan lainnya. Sedangkan ikan konsumsi yang berorientasi pasar adalah dominasi ikan Lele, Gurami, Tombro, Nila hitam, dan Tawes.13 Tulungagung juga memiliki beberapa bangunan bersejarah, seperti candi. Candi candi yang berada di Kabupaten Tulungagung tersebar di berbagai tempat, ada yang berada di dataran rendah hingga perbukitan. Salah satu contohnya yaitu Candi Cadi. Candi Dadi terletak puncak bukit yang berada di kawasan Boyolangu. Selain candi dadi, juga terdapat Candi Sanggrahan yang terletak di Desa Sanggarahan Kecamatan Boyolangu. Tulungagung juga memiliki candi ikonik yaitu Candi Gayatri. Candi Gayatri masih ada hubungannya dengan ibu Gayatri dari kerajaan Majapahit. Selain candi candi tersebut, masih terdapat beberapa candi antara lain Candi Mirigambar yang terletak di Kecamatan Sumbergempol, Candi Bodho di Kecamatan Kalidawir, Candi Penampihan yang berada di lereng gunung Wilis. Di sisi selatan Kabupaten 13 bappeda.tulungagung.go.id, Data Bappeda Kab. Tulungagung tahun 2018. Diakses pada tanggal 1 November 2020.

39

Sejarah Perkembangan Kesenian Jaranan

Tulungagung, tepatnya di kawasan Campurdarat. Terdapat sebuah telaga yang diberi nama Telaga Buret. Telaga ini tak pernah kering walaupun letaknya ada pada perbukitan kapur yang kering serta tandus. Dari paparan kondisi geografis hingga kependudukan diatas, nampaknya membuat perkembangan berbagai kesenian di kawasan Kabupaten Tulungagung juga beragam. Tulungagung memiliki kebudayaan dan kesenian khas yang ada di Kabupaten Tulungagung. Tulungagung mempunyai beberapa kesenian yang dapat dijadikan daya tarik untuk mendongkrak potensi pada bidang pariwisata di Kabupaten Tulungagung. Antara lain wayang kulit, jaranan klasik hingga jaranan sentherewe, roeog kendang, tiban, jedoran, kentrung, manten kucing, langen beksan, dan juga tayub Tulungagung. Kesenian jaranan dan reog kendang serta kesenian wayang kulit bahkan mendapatkan dukungan yang luas dari mayoritas masyarakat Tulungagung untuk maju dan berkembang serta disukai masyarakat sekitar bahkan sering dilaksanakan beberapa kegiatan pentas seni. Dengan latar belakang beragam kesenian yang dimiliki, Kabupaten Tulungagung tak serta merta berpuas diri. Kabupaten Tulungagung terus meng-eksplor potensi potensi yang dimiliki terutama dibidang kesenian. Beragam kegiatan bertajuk seni sering dipertunjukkan di kawasan Tulungagung. Hal ini dimaksutkan untuk menguri uri sekaligus memperkenalkan kesenian Tulungagung kepada para wisatawan melalui kegiatan kegiatan promosi di berbagai event kepariwisataan dan kesenian. Beragam kesenian yang dimiliki Kabupaten Tulungagung juga sering dipertunjukkan oleh siswa siswi sekolah dasar hingga menengah. Bahkan, para Mahasiswa di Tulungagung juga sering menampilkan berbagai kesenian di Tulungagung pada kegiatan seminar yang berada dikampus. Kegiatan semacam ini sangat penting untuk dilakukan sebagai wujud pelestarian terhadap kebudayaan dan kesenian local agar tetap lestari dan tetap menjadi ciri khas dari daerah Tulungagung. 40

Alif Bayu Mahardhika

Daerah Tulungagung, didalam perkembangan dan pemberdyaan potensi kedaerahannya memang mengalami peningkatan dari waktu ke waktu. Seiring kemajuan yang dicapai dari para pendahulu hingga sekarang, hal ini merupakan bentuk jerih payah dan perjuangan untuk membangkitkan potensi kedaerahannya, baik dari segi kedudayaan, pendidikan, kesehatan, kondisi ekonomi, kesenian, dan lain sebagainya. Sehingga sebagai generasi muda, memang sepatutnya untuk senantiasa menjaga, melestarikan, dan memberdayakan potensi kedaerahan yang ada di Tulungagung yang sudah dibangun oleh para pendahulu. Perkembangan suatu daerah tertentu memiliki makna tersendiri didalam menjalankan perubahan menuju tatanan yang lebih baik. Berbagai sinergitas komunikasi, niat tekat bulat didalamnya untuk merubah suatu kawasan dari yang sebelumnya kawasan minus menjadi kawasan yang surplus, merupakan tindakan yang nyata, dan telah dilakukan usaha tersebut oleh para pendahulu. Sebuah ungkapan yang tentunya tidak asing untuk didengarkan, yaitu lebih sulit untuk mempertahankan suatus kemajuan daripada memperjuangkan dari minus menjadi kawasan yang kaya akan potensi.

41

Sejarah Perkembangan Kesenian Jaranan

B. SEJARAH KABUPATEN TULUNGAGUNG Jika dilihat dalam prasasti lawadan tertulis ”Sukra Suklapaksa manga siramasa” bahwa menurut prasasti tersebut, Kabupaten Tulungagung lahir pada Tanggal 18 November 1205 M . kemudian, hari tersebut dijadikan sebagai hari jadi Kabupaten Tulungagung. Hari jadi tersebut dijadikan pedoman sejak kisaran tahun 2003. Dalam prasasti tersebut berisikan tentang kesetiaan masyarakat thani lawadan ketika terjadi serangan musuh dari timur Daha. Prasasti tersebut diberikan oleh raja Daha Kertajaya. Asal usul nama Tulungagung sendiri ada beberapa versi. Untuk versi pertama, nama Tulungagung berasal dari kata “Pitulungan Agung” atau jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia berarti Pertolongan dari Yang Maha Agung.14 Nama ini berasal dari peristiwa saat seorang pemuda dari gunung wilis bernama joko baru mengeringkan sumber air di Ngrowo (Kabupaten Tulungagung tempo dulu) dengan menyumbat semua sumber air tersebut dengan lidi dari sebuah pohon enau atau aren. Joko baru dikisahkan sebagai pemudayang dikutuk menjadi ular oleh ayahnya, orang sekitar kerap menyebut dengan baru klinting. Ayahnya mengatakan bahwa untuk kembali menjadi manusia sejati, Joko baru harus mampu melingkari tubuhnya di gunung Wilis. Namun, malang menimpanya karena tubuhnya hanya kurang sejengkal untuk dapat bener-bener melingkari sempurna. Alhasil Joko baru menjulurkan lidahnya. Disaat bersamaan, ayah Joko baru memotong lidahnya. Secara ajaib, lidah tersebut berubah menjadi tombak sakti yang hingga saat ini dipercayai sebagai gaman atau senjata sakti, tombak ini masih disimpan dan dirawat hingga saat ini oleh masyarakat sekitar.

14 Ali Imron, Agus. 2016. Sejarah Seni/ Budaya di Tulungagung Selatan. Tulungagung: Percetakan Langgeng. Hlm 47.

42

Alif Bayu Mahardhika

Sedangkan versi kedua nama Tulungagung berasal dari dua kata yaitu Tulung dan Agung, Tulung diatikan sumber, Sedangkan kata Agung diartikan sebagai besar. Dalam pengertian berbahasa jawa tersebut, Tulungagung adalah daerah yang memiliki sumber air yang besar. Sebelum di bangunnya Bendungan Niyama di Tulungagung selatan oleh penduduk tentara Jepang, di mana-mana di daerah Tulungagung hanya ada sumber air saja. Pada masa lalu, karena terlalu banyaknya sumber air disana setiap kawasan banyak yang tergenang air, baik musim kemarau maupun musim penghujan. Dugaan yang kuat menenai etimologi nama Kabupaten Ini adalah versi ke-dua karena sebelumnya ibu kota Tulungagaung bertempat tinggal di daerah Kalambret dan di beri nama Kadipaten Ngrowo. Kata “Ngrowo” di artikan sumber air. Kabupaten Tulungagung juga memiliki kisah lahirnya melalui cerita Babat. Babad Tulungagung merupakan cerita rakyat yang diwariskan secara turun temurun atau disampaikan pada penerus berikutnya dengan cara melalui cerita dongeng dan juga dari mulut ke mulut atau lisan. Isi dari Babat Tulungagung berupa cerita asal mula bagaimana kota Tulungagung ini terjadi. Cerita tersebut terjadi sejak zaman pra sejarah, ketika itu daerah Tulungagung masih bernama Kadipaten Ngrowo atau Bonorowo, hingga pada akhirnya berubah nama menjadi Kabupaten Tulungagung. Babad Tulungagung menjadi sumber kearifan lokal dipandang sangat bernilai dan mempunyai manfaat tersendiri dalam kehidupan masyarakatnya. Sumber kearifan lokal dengan berbagai sistem yang berkembang terjadi karena adanya kebutuhan untuk menghayati, memertahankan, dan melangsungkan hidup sesuai dengan situasi, kondisi, kemampuan, dan tata nilai yang dihayati dalam masyarakat Tulungagung.

43

Sejarah Perkembangan Kesenian Jaranan

C. RAGAM KESENIAN LOKAL TULUNGAGUNG Bisa dibilang hampir tidak mungkin apabila disetiap kehidupan pada suatu masyarakat yang terdapat di daerah tidak memiliki ragam budaya maupun ragam kesenian. Secara tidak langsung kesenian dan kebudayaan sendiri merupakan bagian dari kehidupan berproses manusia pada suatu lingkungan masyarakat. Perlu diketahui bersama bahwa, kawasan Tulungagung juga bagian dari khasanah kesenian dan kebudayaan jawa yang merupakan warisan dari leluhur yang lestari dan adi luhung.

Gambar II.3: Parade reog kendang dan jaranan pada hari jadi Tulungagung Tahun 1970. 15 Ragam kesenian dan kebudayaan yang ada di Kawasan Tulungagung sejatinya termasuk warisan budaya jawa, yang seharusnya perlu untuk dilestarikan dan diambil sisi baiknya. Sekecil apapun keberadaan lingkungan masyarakat, tetap memiliki kebudayaan yang menjadi sinergitas didalam kehidupan bermasyarakat. Ragam 15 Observasi dan Dokumentasi dari DinPerpus dan Arsip Tulungagung, pada tanggal 15 Desember 2020.

44

Alif Bayu Mahardhika

keunikan yang ada di lingkungan masyarakat, khususnya yang ada di Kabupaten Tulungagung merupakan hasil karya mereka para pendahulu didalam berproses untuk menjalani kehidupan. Sungguh mengagumkan, daerah Tulungagung secara pribadi memiliki berbagai ragam kesenian dan kebudayaan yang mayoritas memiliki ciri khas tersendiri, seperti halnya Kabupaten Tulungagung yang memiliki Kesenian khas yaitu Jaranan. Sudah melekat identitas Tulungagung dengan Kesenian Jaranan ini. Jaranan adalah sebuah warisan kesenian yang harus dilestarikan bersama karena unik, dan juga telah mewarnai dunia keragaman Kesenian Tulungagung bahkan Nusantara. Sehingga ragam kesenian dan kebudayaan yang ada di skala regionalitas merupakan wujud tataran budaya yang perlu untuk dilestarikan melalui berbagai cara. Namun, hal yang paling terpenting disini adalah mampu mengedepankan nilai nilai kebaikan disetiap Kesenian dan Kebudayaan yang sudah ada. Menonjolkan eksotisme dan nilai-nilai filosofis disetiap kesenian dan kebudayaan, memang menjadi kebutuhan setiap generasi penerus agar senantiasa memiliki filososfis hidup.

Gambar II.4: Parade tari tarian dalam rangka hari jadi Tulungagung tahun 1970.16 16 Observasi dan Dokumentasi dari DinPerpus dan Arsip Tulungagung, pada tanggal 15 Desember 2020.

45

Sejarah Perkembangan Kesenian Jaranan

Adanya kesenian dan kebudayaan yang ada dikalangan masyarakat merupakan sesuatu yang khas dan insani. Tak terasa keberadaan dari kesenian dan kebudayaan telah menggerakkan diberbagai sektor bidang dalam kehidupan masyarakat, baik dalam sektor pariwisata, pendidikan, ekonomi, hingga industri. Dalam hal ini manusia mengakui adanya alam sebagai totalitas dalam berbudaya untuk berproses kehidupan. Kearifan lokal yang ada di daerah Tulungagung khususnya, bisa dijadikan tolak ukur didalam memecahkan permasalahan yang ada saat ini. Dengan adanya beragam kesenian dan kebudayaan baru, jangan sampai keberadaan kearifan lokal turut diabaikan, atau dimusnahkan begitu saja. Seiring kemajuan dalam segi berpikir, maka penataan ruang dan waktu untuk melestarikan atau mendokumentasikan menjadi acuan khusus. Sungguh disayangkan apabila keberadaan kearifan local yang berupa kesenian dan kebudayaan, musnah begitu saja seiring dengan majunya pola berpikir disetiap generasi. Seluruh lapisan dan elemen masyarakat yang memiliki kesenian dan kebudayaan setidaknya menjadi kesatuan yang optimal. Sehingga pelestarian kesenian dan kebudayaan perlu harus diperhatikan secara seksama.

D. KAJIAN KESENIAN DI TULUNGAGUNG Daerah Tulungagung menyimpan ragam eksotis warisan leluhur, pada dasarnya yang masih dianut, dipercayai, dan diyakini oleh sebagian minoritas masyarakat, tepatnya masyrakat yang berada di kawasan pesisir selatan wilayah Tulungagung. pada penanggalan Jawa dan hari hari tertentu, kegiatan regionalitas diselenggarakan, istilah lain yang dipakai masyarakat contohnya sedekah bumi dengan menampilkan berbagai pertunjukan kesenian seperti halnya kesenian jaranan. 46

Alif Bayu Mahardhika

Kesenian dan Tradisi yang berkembang di masyarakat sangat banyak jumlahnya. Tradisi sendiri merupakan kebiasaan yang dilakukan terus menerus, dihayati secara mendalam, dimiliki, dipelihara dan dipertahankan oleh masyarakat. Kesenian dan tradisi merupakan dua hal warisan secara turun temurun yang diwariskan kepada generasi baru untuk terus melestarikan dan mengambil nilai nilai moral yang ada didalamnya. Secara umum, nilai yang dikembangkan dan dipertahankan oleh masing masing kelompok masyarakat adalah dinilai dari sudut pandang spiritual, yang tentunya dipadukan dengan keselarasan terhadap lingkungan. Terdapat perbedaan yang sangat penting antara masyarakat tradisional dengan masyarakat modern, dalam hal ini bahwa masyarakat tradisional dicirikan oleh kesenian dan tradisi yang religiokultural, sementara itu masyarakat modern dicirikan oleh sifat sekuler dan rasional, dan structural secara fungsional berhubungan satu sama lain. Kesenian bukanlah sesuatu yang statis, melainkan keberadaan kesenian dapat mengalami perkembangan kemajuan dan terlestarikan pada suatu daerah. Sehingga perubahan secara tidak langsung terkonsepsi secara tidak sadar maupun secara sadar. Dengan adanya proses masuknya unsur unsur perkembangan modernisasi yang ada, maka kesenian yang selama ini masih memegang pakem pakem dari warisan leluhur, lambat laun mengalami bentuk akulturasi maupun asimilasi secara perlahan namun pasti. Suatu daerah pasti memiliki identitas ciri khas sendiri dan tentunya itu akan memiliki perbedaan maupun kemiripan dengan daerah yang lainnya, membangun suatu peradaban tidak semudah membalikkan telapak tangan. Berbagai sinergitas yang ada di masyarakat memiliki peran penting didalam membangun peradaban. Sehingga dibutuhkannya berbagai sinergi masyarakat untuk dapat melahirkan peradaban yang baik, dan memiliki nilai nilai 47

Sejarah Perkembangan Kesenian Jaranan

kebaikan hingga anak cucunya. Keberadaan suatu kesenian yang ada di suatu daerah merupakan bentuk pembuktian, bahwasanya daerah tersebut memiliki peradaban dalam kehidupannya. Sebagaimana di kawasan Tulungagung, banyak menyimpan misteri dari suatu peradaban mulai dari sudut pandang sejarah, sosial, budaya, tradisi, kesenian, politik, dan unsur unsur kepercayaan masyarakat. Keberadaan peradaban yang ada pada suatu daerah memberikan suatu gambaran bahwasannya daerah tersebut telah memiliki hunian kelompok masyarakat turun temurun. Penggalian potensi yang hilang, dengan ditemukannya bukti bukti yang autentik baik berupa arkeolog, sumber sejarah, serta bukti pendukung lainnya seperti halnya wawancara, memberikan suatu energi positif untuk membangun rekonstrksi alur peradaban pada masanya. Sehingga dengan adanya pengungkapan sejarah perkembangan suatu kesenian dapat menjadikan suatu tolak ukur maju mundurnya suatu kawasan. Kesadaran yang membuka pikiran dan hati nurasi disetiap insan generasi muda, khususnya Tulungagung. Setidaknya mampu untuk dipertahankan dan melestarikan warisan peradaban serta kesenian yang sudah ada. Menanamkan nilai nilai karakter local dan kecintaan terhadap kesenian daerah setempat melalui pembelajaran warisan peradaban memang diperlukan, mengingat warisan peradaban terlebih lagi warisan kesenian menyimpan berbagai nilai nilai pelajaran yang baik. Hal ini perlu dibutuhkannya kesadaran bukanlah kesombongan, untuk terus belajar dan mempelajari karakter setiap peradaban yang diwarisi oleh leluhur. Nilai dan juga pesan moral yang ada dalam sebuah kesenian tersebut dapat dilihat sebagai sebuah konsepsi eksplisit dan implisit yang khas dimiliki seseorang, suatu kelompok atau masyarakat, suatu nilai yang diinginkan yang dapat mempengaruhi pilihan yang tersedia dari bentuk bentuk, cara cara, dan tujuan tujuan tindakan yang 48

Alif Bayu Mahardhika

berkelanjutan. Nilai yang hanya dapat disimpulkan dan ditafsirkan dari ucapan, perbuatan, maupun materi yang dibuat manusia yang diturunkan melalui aktifitas pendidikan dalam sebuah kesenian. Karena itulah, fungsi langsung nilai adalah untuk mengarahkan tingkah laku individu dalam situasi sehari hari, Sedangkan fungsi tidak langsungnya adalah untuk mengekspresikan kebutuhan dasar yang berupa motivasi. Daerah Tulungagung sejatinya memiliki khasanah berbagai peradaban yang belum terungkap dengan harmonis dan juga dari berbagai sisi sudut pandang, baik politik, religi, sejarah, budaya, kesenian, maupun secara global. Tulungagung menyimpan peradaban yang masih penuh misteri. Sehingga dalam mendokumentasikan bukti lapangan untuk merekontruksi keberadaan peradaban didaerah Tulungagung memerlukan proses waktu yang tidak sebentar. Sehingga harus memiliki sinergisitas yang postif. Peradaban yang membangun daerah Tulungagung merupakan wujud didalam membentuk karakter disetiap generasi pada suatu peradaban. Daerah Tulungagung, sangatlah luas kajiannya yang dapat ditelusuri secara objektif. Tulungagung, bila ditinjau dari berbagai sudut pandang, mulai dari perspektif politik, sejarah, sosial, budaya, tradisi, religi, dan kesenian, keberadaanya dapat digali secara optimal. Kesinambungan antar generasi memang harus dibutuhkan, menitik beratkan dalam merekontruksi jejak jejak dari peradaban yang membangun daerah Tulungagung. Terutama dalam bidang kesenian, daerah yang terkenal dengan istilah Ngrowo ini sampai sekarang menyimpan berbagai potensi yang penuh eksotis, dan mampu menawan hati. Jika meninjau kembali peradaban peradaban Tulungagung pada masa lampau dengan berbagai metode untuk mendapatkan data yang objektif sesuai dengan realita. Pencarian berbagai informasi harus terdapat kesesuaian, sehingga dapat memunculkan karakter kedaerahannya sesuai dengan peradaban secara realita 49

Sejarah Perkembangan Kesenian Jaranan

yang terjadi pada masa lampau, atau bahkan masih bertahan hingga saat ini. Peradaban yang terdokumentasikan merupakan wujud realita kehidupan masyarakat masa lampau didalam berproses dalam kehidupan. Kabupaten Tulungagung sangat terkenal dengan beragam kesenian yang ada. Salah satunya adalah kesenian jaranan. Jaranan sendiri merupakan suatu bentuk kesenian yang berkembang dan digandrungi para masyarakat Desa dan juga pegiat seni lainnya. Sudah menjadi ciri khas masyarakat ketika kesenian jaranan ditampilkan pada acara acara kemasyarakatan seperti khitanan, acara pernikahan, hingga bersih desa dan larung sesaji pada masyarakat disekitar pesisir pantai atau kawasan selatan Tulungagung. Pementasan kesenian jaranan biasanya diselenggarakan di ruang terbuka seperti lapangan, panggung tarub bahkan pendopo di Balai Desa. Semuanya tergantung maksut dan juga tujuan pementasan jaranan sendiri. Beragam kesenian yang ada di Kabupaten Tulungagung mayoritas hampir semuanya menjadi kesenian ikonik atau khas Kabupaten Tulungagung. Salah satunya adalah kesenian jaranan. Selain kesenian jaranan sentherewe juga masih banyak kesenian kesenian lainnya. Seperti halnya kesenian tari reog kendang Tulungagung yang pernah menjadi rekor muri pada tahun 2013 dengan kategori peserta tari terbanyak. Selanjutnya, Kabupaten Tulungagung juga memiliki banyak kebudayaankebudayaan yang juga menjadi ciri khas tersendiri. Yaitu temanten kucing yang berada di kawasan Tulungagung Selatan. Khususnya di Kabupaten Tulungagung terdapat beberapa Kecamatan yang masih memiliki sanggar sanggar kesenian jaranan seperti Kecamatan Sumbergempol, Kecamatan Boyolangu, dan Kecamatan Gondang. Kabupaten Tulungagung. kesenian jaranan masih menjadi bentuk kesenian yang digandrungi atau diminati 50

Alif Bayu Mahardhika

masyarakat. Hal ini dapat dilihat dari adanya beberapa sanggar sanggar seni jaranan. Kesenian jaranan yang ada di Boyolangu ini berupa kesenian jaranan klasik dan juga kesenian jaranan sentherewe. Jaranan Klasik merupakan kesenian jaranan yang memiliki gerak tari atau pakem tarian yang bertempo lambat serta masih menyesuaikan alunan gamelan tempo dulu. Jenis langgam langgam yang dinyanyikan juga berupa langgam langgam jawa kuno. Sementara Kesenian Jaranan merupakan kesenian tari yang sangat popular di Tulungagung. Jaranan merupakan seni jaranan yang menambahkan instrumen alat musik drum, bas, gitar, dan keyboard ke dalam musik iringannya. Tidak hanya penambahan instrumen alat musik namun juga penggabungan gerak tari sang penari jaranan serta lagu dangdut dan juga campursari ke dalam penampilannya. Pada periode atau kurun waktu 1995 sampai dengan 2000 an, kesenian jaranan sempat menjadi seni pertunjukan yang sangat diminati masyarakat. Pada tahun tersebut munculah inovasi baru dalam tatanan konsep pertunjukan kesenian jaranan. Terkhusus jaranan sentherewe. Semula, kesenian jaranan hanya berfokus pada pakem pakem utama pertunjukan. Yaitu dengan menampilkan gerak tari dengan alunan gamelan serta sinden dan juga ndadi atau pemanggilan roh nenek moyang. Hingga pada akhirnya, muncullah terobosan baru pada tahun 1997 yang dipelopori oleh sanggar seni jaranan Turonggo Safitri Putro yang ada di kawasan Gedangsewu, Boyolangu dengan menambahkan kreasi dangdut dan campursari didalam kemasan konsep pertunjukan kesenian jaranan. Mulai saat itulah, masyarakat kembali tertarik dengan pertunjukan kesenian jaranan. Terkhusus kesenian jaranan sentherewe yang ada di boyolangu Kabupaten Tulungagung. Hal ini dapat menjadi daya tarik tersendiri dalam hal penelitian sejarah. Tahap demi tahap perkembangan dapat dirasakan oleh para pelaku seni dan juga para masyarakat luas. Dengan adanya perkembangan sejarah. Munculah 51

Sejarah Perkembangan Kesenian Jaranan

inovasi baru dalam sebuah bentuk tatanan yang tentunya dapat menjadi contoh perubahan dikemudian hari terkhusus dalam dunia kesenian. Sejarah tentu dapat tercipta apabila para pelaku dalam sejarah tersebut dapat menganggap suatu hal sebagai keunikan dan juga sebagai tolak ukur dimasa depan nanti. Melalui sejarah pula, peristiwa peristiwa yang unik dan penting dapat terekam dalam catatan sejarah. Oleh karena itu, perlunya pencarian berbagai informasi baik secara lisan maupun tulisan dalam menggali sejarah suatu kesenian. Terutama kesenian jaranan sentherewe yang telah tersohor di Kabupaten Tulungagung. Namun pada saat ini, banyak generasi muda yang enggan untuk melanjutkan warisan kesenian dan kebudayaan yang diwariskan oleh para leluhur kepada generasi penerus. Adanya kemajuan teknologi bukanlah suatu alasan untuk meninggalkan kesenain lokal. Khususnya kesenian jaranan sentherewe. Hal ini perlu dilakukan penanaman nilai nilai sejarah perkembangan kesenian dan juga budaya agar kesenian tersebut tidak hilang termakan oleh zaman dan juga para generasi penerus kesenian jaranan sentherewe di Boyolangu Kabupaten Tulungagung dapat mewarisi kebudayaannya. Karena siapa lagi yang akan melanjutkan kesenian tersebut kalau bukan penerus bangsa, untuk lebih mengenal budayanya daerah dan bangsa sendiri. Pada dasarnya Kesenian jaranan atau dalam bahasa Indonesia disebut sebagai seni kuda lumping ini merupakan kesenian budaya yang didalamnya menceritakan sejarah singkat tentang terlahirnya kesenian tari jaranan itu sendiri. Dalam pementasan jaranan terdapat gerakan tari dan alat-alat musik yang mengiringi seperti gamelan, gong, kenong, kendang. Jaranan terkenal dengan kegiatan mistis atau magis disetiap pementasannya, mulai dari yang kesurupan, sampai memakan hal-hal yang tidak wajar, seperti memakan rumput dan pecahan kaca. Namun, banyak juga yang dalam konsep pementasannya hanya sebagai wujud hiburan saja dan tidak lebih. Dalam 52

Alif Bayu Mahardhika

artian, kesenian jaranan ini yang sudah mengkemas konsep acara dengan kreasi dangdut dan campursari. Tari merupakan salah satu bentuk perilaku komunikatif. Melalui komunikasi gerak tari yang indah, seseorang atau sekelompok masyarakat dapat belajar mengenai nilai, keyakinan, sikap, dan perilaku budaya dalam lingkungannya. Seringkali tari menjadi media yang lebih efektif dalam pengungkapan simbol perasaan. Tari dikatakan sebagai media komunikasi karena di dalamnya terdapat bahasa yang dirubah menjadi visualisasi dalam bahasa tubuh. Seperti yang kita ketahui bahwa bahasa merupakan susunan dari huruf, fonem, dan kata yang terjalin dan mengandung sebuah arti tersendiri. Sejarah dari Kesenian jaranan dapat dijadikan sebagai simbol identitas komunal, yang didalamnya membahas asal muasal serta gaya atau bentuk konsep dari suatu pementasan. gaya merupakan representasi budaya dan komunal masyarakatnya. Identitas kultural suatu kelompok suku atau masyarakat luas dapat dikenali lewat unsur-unsur budaya material yang diungkapkan melalui gaya-gaya tarinya. Hal ini sejalan dengan prinsip kearifan lokal, yaitu menjunjung tinggi dan juga melestarikan hal yang menjadi warisan budaya dan kebiasaan masyarakat setempat. Sebagai masyarakat yang selalu dekat dengan kesenian serta budaya, kita harus serta merta mensyukuri karunia Tuhan Yang Maha Esa atas diberikan akal dan pikiran sehingga dapat mengenal sejarah dari suatu kesenian dan juga sekaligus dapat mengapresiasi dari suatu karya. Sejarah dengan kesenian atau kebudayaan bukanlah suatu hal yang berseberangan dalam suatu bahasan, akan tetapi keduannya merupakan suatu hal atau konteks dan bahasan yang sama dalam ilmu-ilmu sosial. Hal ini berbeda dengan lingkungan atau wilayah daerah yang berada di pinggiran kota. Tidak ada identitas mengikat yang dihasilkan, sehingga tidak menutup kemungkinan adanya unsur budaya lain yang masuk dan diterima sebagai bagian dari budaya mereka. Kaitannya 53

Sejarah Perkembangan Kesenian Jaranan

dengan bahasa gerak tari, hal ini menjadi perhatian sebab struktur bahasa yang dihasilkan akan memiliki makna berbeda dan terdiri dari beberapa faktor yang mempengaruhi bentuk pertunjukannya. Seperti Jaranan yang secara historis merupakan identitas kesenian Jawa Timur khususnya Tulungagung dapat diterima di kalangan masyarakat dan sebagai budaya local yang harus dipertahankan serta apa yang menjadikan kesenian jaranan senterewe ini tetap bertahan di dalam berbagai perubahan sosial kehidupan masyarakat modern ini. Dalam setiap bentuk aktifitas manusia, pasti mempunyai deretan peristiwa hingga sejarah. Contohnya kesenian jaranan sentherewe yang ada di kawasan Boyolangu, Kabupaten Tulungagung sendiri pasti mempunyai jalan sejarah dalam perkembangannya. Dimulai dari awal terbentuknya paguyupan sanggar seni jaranan, hingga pada akhirnya eksis sampai sekarang. Pengambilan periode sejarah sebagai titik focus dalam suatu pembahasan sangat perlu dilakukan, tak terkecuali jika ingin membahas tentang perkembangan dari suatu kesenian. Terlebih lagi, kultur atau kebiasaan masyarakat dalam suatu periode dengan periode yang selanjutnya pasti juga berbeda. Oleh karena itu, dalam hal sejarah perkembangan kesenian jaranan sentherewe juga perlu adanya batasan batasan periode. Jika menilik kembali pada titik awal munculnya kesenian tersebut yaitu dimulai tahun 1990-an, maka periode yang diambil berkisar pada tahun tersebut dengan memperhatuikan perkembangan di masyarakat. Selain itu, pengambilan dan penentuan focus periode bertujuan agar suatu bahasan tidak terlalu lebar. Hingga selanjutnya dilanjutkan pada periode saat ini sebagai wujud representasi dari bentuk perkembangan. Hal ini juga tidak terlepas dari kondisi kemasyarakatan terhadap adanya kesenian jaranan yang ada di kabupaten Tulungagung sendiri. Perlu adanya penggalian informasi guna mengenal lebih dalam tentang kesenian jaranan di Kabupaten Tulungagung, terkhusus perkembangannya sejarahnya. 54

Alif Bayu Mahardhika

Menurut pendapat penulis, kesenian dalam bentuk apapun itu perlu adanya catatan sejarah. Hal ini semata mata sebagai wujud pengawasan dan pelestarian khusus guna tetap lestari dan tidak musnah oleh perkembangan zaman. Peran serta masyarakat dan pemerintah daerah dalam memperkenalkan jaranan pada kalangan luas nampaknya perlu dilakukan. Pasalnya banyak kalangan masyarakat khususnya kalangan muda di zaman modern ini yang kurang begitu faham tentang jaranan.

55

Sejarah Perkembangan Kesenian Jaranan

56

Alif Bayu Mahardhika

BAB III PAKEM ALIRAN JARANAN DI TULUNGAGUNG

Kesenian jaranan di Kabupaten Tulungagung tentunya memiliki pakem pakem gerakan serta jenis jenis aliran didalamnya. Pakem gerakan merupakan suatu bentuk ciri khas yang dimiliki suatu kelompok kesenian. Sebenarnya tidak hanya terdapat pada kesenian jaranan saja, namun juga terdapat dalam tari serta kesenian yang lainnya. Kesenian jaranan di Kabupaten Tulungagung pada umunya memiliki tiga pakem gerakan. Yaitu pakem gerakan jaranan jawa klasik, pakem gerakan jaranan sentherewe, dan pakem gerakan jaranan pegon. Adapun penjelasannya adalah sebagai berikut:

A. KESENIAN JARANAN JAWA KLASIK Jaranan jawa klasik, merupakan sebuah kesenian budaya yang berkembang di daerah Tulungagung. Jaranan tersebut merupakan jaranan yang tertua di kawasan Tulungagung, diperkirakan sudah mulai ada sekitar abad XVIII. Istilah jawa klasik yang terdapat pada nama jaranan jawa, merupakan simbol dari etnis masyarakat jawa sendiri. Sehingga dampak dari permainan jawa masih berpakem pada budaya asli Jawa. Setiap pertunjukan 57

Sejarah Perkembangan Kesenian Jaranan

jaranan jawa klasik selalu didampingi oleh dukun. Fungsi dukun sendiri dalam tradisi kesenian jaranan jawa sebagai pengendali kesurupan atau bisa juga disebut sebagai juru gambuh. Juru gambuh biasanya bertugas untuk meminta izin dari yang bahurekso, dhanyangan atau punden Desa yang pada saat itu daerah tersebut dijadikan tempat pertunjukan jaranan jawa klasik. Sedangkan tujuan utama melakukan ritual meminta izin tersebut adalah nantinya ketika pertunjukan dilaksanakan jaranan tidak akan terjadi hal hal yang tidak diinginkan.17 Adanya jaranan jawa klasik merupakan ungkapan rasa syukur masyarakat para petani terhadap hasil panen yang diperolehnya. Hal ini juga suatu anggapan bahwa roh leluhur masih ada disekitarnya sebagai pelindung. Sehingga pertunjukan tradisi jaranan jawa tidak jauh dari sifat mistik atau magis. Sehingga jaranan jawa masih memiliki sifat dan karakter unsur mistik, utamanya para petani yang menggunakan ritual tersebut. Selain sebagai tradisi ritual petani dan juga sebagai ungkapan terhadap yang bahurekso atau leluhur yang dihormati didaerah tersebut, pertunjukan kesenian jaranan jawa klasik juga dapat dinikmati sebagai hiburan masyarakat luas. Sehingga jaranan jawa klasik mempunyai fungsi tidak hanya sekedar sebagai ritual belaka, melainkan juga bisa dijadikan sebagai seni pertunjukan, serta menunjukan identitas khas suatu kesenian kebudayan daerah yanitu terkhusus daerah Tulungagung.18 Pada dasarnya semua warisan leluhur baik yang berupa seni jaranan jawa klasik merupakan pertunjukan yang diilhami oleh unsur kepercayaan mitologui yang dipadukan dengan pengetahuan mistisme sehingga patut 17 Wawancara dengan Bpk. Handoko, di Ds. Gedangsewu. Tanggal 30 Oktober 2020 18 Ali Imron, Agus. 2016. Sejarah Seni/ Budaya di Tulungagung Selatan. Tulungagung: Percetakan Langgeng. Hlm 225.

58

Alif Bayu Mahardhika

untuk tetap dilestarikan keberadaanya, karena transisi perubahan akan menjadi tantangan baru didalamnya. Jaranan sendiri pada masa sekarang sudah beralih menjadi media hiburan, ekonomis, maupun rekreasi keluarga. Nilai nilai mistisme maupun kekeramatannya sudah memudar. Kesenian jaranan berpakem jawa klasik di Kabupaten Tulungagung sudah ada pada zaman kolialisme di Indonesia. Dalam arsip berupa foto yang disimpan pada Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Tulungagung mencatat bahwa perkembangan kesenian jaranan yang ada di kabupaten Tulungagung pertama kali adalah kesenian jaranan jawa klasik. Hal ini berbarengan dengan munculnya kesenian reog kendang yang sekarang menjadi ciri khas Kabupaten Tulungagung.

Gambar III.1: Penampilan kesenian jaranan jawa klasik di sekitar alun alun Tulungagung tahun 1976.19 Sekitar tahun 1930 an kesenian jaranan jawa klasik di Tulungagung berkembang ditengah masyarakat. Kehadiran 19 Wawancara, dokumentasi dari DinPerpus dan Arsip Tulungagung, pada tanggal 15 Desember 2020. Pukul 09.30 WIB.

59

Sejarah Perkembangan Kesenian Jaranan

kesenian jaranan jawa klasik biasa hadir dalam perayaan acara pemerintahan seperti hari jadi Kabupaten Tulungagung atau perayaan buka giling pabrik gula sebagai wujud syukur atas hasil yang telah dicapainya. Para pemimpin Desa juga sering mempersembahkan pementasan kesenian jaranan sebagai hiburan saat acara Bersih Desa. Bahkan, bukan hanya itu saja. Masyarakat juga banyak yang menampilkan kesenian jaranan jawa klasik ini dalam kegiatan kemasyarakatan seperti khitanan atau acara perkawinan Jaranan jawa klasik merupakan kesenian jaranan yang masih kental akan unsur kejawennya. Unsur unsur yang ada dalam kesenian jaranan jawa klasik ini seperti gerak tari yang masih sangat sederhana. Namun ada beberapa pakem gerakan yang harus ada pada pertunjukan pementasan kesenian jaranan jawa klasik. Seperti halnya awalan, jejeran, jogetan, serta ndadi. Untuk tempo gerakan pada tariannya, jaranan jawa klasik mempunyai tempo gerakan tari yang lambat. Namun, gerakan tersebut tetap mengikuti iringan serta tempo musik yang dibunyikan melalui gamelan. Para penari jaranan jawa klasik dalam mengikuti tempo musik yang dibunyikan, mereka sembari menyabetkan cemethi atau pecut yang digenggamnya. Selain menjadi penghias properti, cemethi disini juga sebagai tanda serta pengingat ketukan gerak serta kepaduan antara penari dan pemusik. Alunan musik gamelan yang dibunyikan untuk mengiringi tarian jaranan ini juga masih bertempo lambat dengan menyanyikan beberapa langgam langgam jawa kuno yang tentu sarat akan makna dan juga pesan. Para penyanyi atau pesinden dalam menyanyikan tembang tembang maupun langgam pada kesenian jaranan jawa klasik yaitu dengan posisi duduk bertimpuh. Para pemusik atau penabuh pengiring serta pesinden jaranan jawa klasik sangatlah sedikit. Berkisar antara sepuluh orang yang terdiri dari dua penabuh gong, dua penabuh kenong, penabuh bonang, peniup trompet, dua pemukul kendang, serta dua orang perempuan sebagai sinden yang menyanyikan langgam langgam pengiring jaranan. Tak jarang juga tidak ditemukan alat music 60

Alif Bayu Mahardhika

elektronik seperti keyboard yang turut mengiringi alunan iringan musik kesenian jaranan jawa klasik. Hampir seluruhnya merupakan alat musik jawa klasik yaitu berupa gamelan. Selain para pemusik atau penabuh. penari juga turut dibahas pada kesenian jaranan jawa klasik. Jumlah penari dalam satu pertunjukan kesenian jaranan jawa klasik tidak terlalu banyak. Menurut Bapak Sujarno saat wawancara tanggal 30 Oktober 2020 di Desa Sobontoro, para penari jaranan jawa klasik hanya berkisar lima orang saja ditambah dengan pemain barongan sejumlah dua orang. Barongan disini dimainkan oleh satu orang tiap topengnya. Berat topeng pada barongan bisa mencapai lima kilogram. Melalui bukti berupa foto yang didapat dari Dinas Kearsipan dan Perpustakaan, bahwa mulai sekitar tahun 1975 an kesenian barongan sering disandingkan dengan pertunjukan kesenian jaranan. Wujud topeng dari kesenian jaranan pada tiap pakem atau aliran gerakan kesenian jaranan juga berbeda beda. Ada yang sederhana, juga ada yang rumit ukirannya pada barongan tersebut.

Gambar III. 2: Penampilan jaranan dan barongandi Pucanglaban Tulungagung pada bulan November 2020. 20

20 Observasi, dokumentasi pertunjukan kesenian jaranan di Pucanglabar, pada tanggal 28 November 2020.

61

Sejarah Perkembangan Kesenian Jaranan

Adanya barongan pada tiap pertunjukan kesenian jaranan ini diyakini sebagai penangkal mara bahaya. Bentuk serta desain topeng pada barongan yang terkesan menyeramkan inilah yang diyakini dapat mengusir mara bahaya yang datang. Oleh karena itu, setiap adanya pementasan kesenian jaranan jawa klasik selalu dibarengi dengan pertunjukan barongan. Kemunculan para pemain barongan yakni pada sesi akhir pertunjukan kesenian jaranan. Adanya kemunculan para penari barongan menandakan akan berakhirnya pertunjukan kesenian jaranan jawa klasik. Untuk gerakan tari yang ada pada penari barongan jawa klasik sangat sederhana. Namun, sesekali dipertontonkan beberapa atraksi hingga debus. Gerakan tari pada barongan yaitu dimulai ketika para penari mengangkat tinggi topeng barongan dan dilanjutkan memakainya. Tangan para penari barongan jawa klasik ini sesekali diayunkan ke kanan dan kekiri sperti membentuk sebuah gerakan jurus dari pencak silat. Hingga gerakan akhir yaitu meliukkan badan sembari merangkak. Untuk properti utama yang dipakai para penari jaranan jawa klasik yaitu berupa anyaman bambu berbentuk kuda dengan disisipkan ijuk sebagai penghias anyaman kuda agar terkesesan menyerupai rambut kuda yang asli. Untuk jaranan jawa klasik mempunyai ukuran “jaran” lebih besar dibanding dengan aliran atau pakem gerakan jaranan yang lainnya. Untuk ukuran “jaran” atau anyaman bambu yang berbentuk kuda ini tidak diketahui persis ukurannya, namun ukurannya dapat berkisar panjang seratus tigapuluh sentimeter dan juga tingginya berkisar enampuluh sentimeter. Cukup besar, namun inilah yang menjadi pembeda dengan jaranan yang lainnya. Untuk properti pendukung dari kesenian jaranan jawa klasik adalah berupa gelang kaki yang diberi lonceng atau biasa disebut sebagai “krincingan”. Krincingan yang berada dikaki menjadi ciri khas dari kesenian jaranan di berbagai pakem aliran gerakan. Seluruh berbagai pakem 62

Alif Bayu Mahardhika

pakem aliran gerakan pasti harus ada krincingan kaki. Jadi, setiap para penari melakukan garakan tariannya, para penari turut menghentakkan kakinya sehingga bunyi “cring” selalu ada mulai dari awal gerakan tarian hingga akhir tarian dipentaskan. Jumlah lonceng atau “krincingan yang ada pada gelang kaki biasanya berjumlah banyak. Sehingga hasil bunyi yang bersumber dari krincingan tersebut selaras dengan gerak tari serta alunan music yang dibunyikan. Ada sekitar sepuluh krincingan atau lebih yang harus ada dalam gelang kaki. Lebih banyak krincingan di kaki para penari, maka semakin seirama antara gerak tari dan alunan musik. Untuk properti berupa pakaian yang dikenakan para penari jaranan jawa klasik tidak terlalu banyak dan tidak terlalu rumit. Bahkan terkesan sangat sederhana. Berdasarkan foto pada tahun 1930 an, 1990 an, 2000 an yang berhasil dihimpun dari Dinas Kearsipan dan Perpustakaan kabupaten Tulungagung serta dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Tulungagung menunjukkan bahwa pakaian atau kostum yang dikenakan oleh para penari jaranan jawa klasik sangatlah sederhana yaitu dengan mengenakan celana pendek yang diikat dengan dengan jarik serta mengenakan ikat kepala batik atau yang sering disebut dengan “udeng”.21 Pemakaian udeng sebagai ikat kepala pada kesenian jaranan jawa klasik ini juga sangat sederhana. Udeng berbentuk segi empat yang dilipat menjadi dua bagian hingga membentuk segi tiga lebar. Kedua sisi segitiga udeng tersebut dirapikan dan dirapatkan hingga terkesan rapi. Udeng yang telah berbentuk segitiga kemudian diikatkan pada kepala sesuai dengan selera masing masing. Udeng pada kesenian jaranan jawa klasik sangatlah sederhana. Tidak mempunyai bentuk khusus yang harus diikuti, namun tetap terkesan indah untuk dipakai sebagai ikat kepala para penari jaranan jawa klasik. 21 Wawancara dengan Bapak Handoko. Di Desa Gedangsewu, Pada tanggal 30 Oktober 2020.

63

Sejarah Perkembangan Kesenian Jaranan

Seiring dengan perkembangan zaman, properti dari kesenian jaranan jawa klasik mengalami perubahan bentuk. Hal ini guna mengikuti perkembangan zaman serta pasar peminat kesenian. Namun, agar tetap berbeda dengan pakem kesenian jaranan yang lainnya, properti yang digunakan para penari jaranan jawa klasik haruslah lebih simple dan juga sederhana. Biasanya berbeda daerah juga berbeda properti yang digunakan. Namun secara garis besar sama bentuk properti yang digunakan oleh para penari jaranan jawa klasik. Tata letak panggung jaranan jawa klasik di Kabupaten Tulungagung juga dibilang cukup unik. Para penari jaranan jawa klasik menari dengan tanpa alas kaki langsung diatas tanah. Luas arena tari ini tidak ditentukan. Kurang lebih dengan panjang antara 15 meter dan lebar 15 meter. Panggung tersebut beralaskan tanah dengan dikelilingi pagar bambu. Pagar bambu digunakan sebagai batas para penari menari dan juga penonton.22 Biasanya, para penari nantinya juga ada adengan “ndadi” yang biasanya para penari berlari dan meloncat ke berbagai arah. Hal ini digunakan sebagai penghalang agar para penonton agar tidak terkena kontak fisik dengan para penari. Kesenian jaranan jawa klasik biasanya tidak memiliki baground atau layar belakang panggung. Panggung jaranan jawa klasik biasanya hanya membatasi pagar bambu atau kain dengan para kru dan pemain musik dibelakang panggung Untuk sebaran kelompok kesenian jaranan jawa klasik juga sangat banyak di kawasan Tulungagung. Menurut data serta dokumen yang diperoleh penulis melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Tulungagung, tercatat ada 37 kelompok sanggar seni jaranan. Data tersebut dikelompokkan berdasarkan pakem aliran gerakan masing masing kesenian jaranan. Data yang didapatkan oleh penulis ini merupakan data yang dihimpun dengan kurun waktu antara tahun 2000 hingga 22 Wawancara dengan Bapak Handoko, di Desa Gedangsewu, pada tanggal 30 Oktober 2020.

64

Alif Bayu Mahardhika

tahun 2010. Untuk rincian kelompok kesenian jaranan jawa klasik antara lain sebagai berikut: NO.

KELOMPOK KESENIAN

NO. INDUK

KETUA

ALAMAT

1.

Sinar Budaya

068

Ranu

2.

Turangga Budaya

132

Hadi Sunyata

-

3.

Sido rukun

148

Sukidi

Ds. Ngunut

4.

Turangga Jati

162

Muri Kuswo

Ds. Kedung Cangkring. Kec. Pagerwojo

5.

Mara suka

173

Panidja

Ds. Waung, Kec. Boyolangu

6.

Rangga saputra

175

Wiyana

Ds. Sendang

7.

Turangga Jawa

281

Sangat Sutowo

Ds. Kedung Cangkring, Kec. Pagerwojo

8.

Ngesti Tungga

286

Mujono

Ds. Bangoan, Kec. Kedungwaru

9.

Sopo Ngira Budaya

357

Sumani

Jl. MT. Haryono, Tulungagung

10.

Nulada Utama

373

Juremi

Ds. Rejoagung, Kec. Kedungwaru

11.

Mulya Budaya

378

salim

65

Ds. Mulyosari, Kec. Pagerwojo

Ds.

Sejarah Perkembangan Kesenian Jaranan Ngluntung, Kec. Sendang. 12.

Turonggo Mulyo

527

Rokani

Ds, Gendingan, Kec. Kedungwaru

13.

Turonggo Kembang Jaya Kusuma

540

Slamet Puji

Ds. Rejoagung, Kec. Kedungwaru

14.

Turonggo Wargo Budoyo

583

Jatmiko

Ds. Ringinpitu, Kec. Kedungwaru

15.

Turonggo Wilis

620

Murtadji

Jl. Recobarong, Kec. Ngunut

16.

Pandu Budoyo

651

Budi

Ds. Sendang

17.

Guyub Rukun

653

Sukarsu m

Ds. Boyolangu

18.

Sari Budoyo

656

Sajuri

Ds. Tunggulsari, Kec. Kedungwaru

19.

Mulyo Budoyo

658

Yapan

Ds. Krosok, Kec. Sendang

20.

Turonggo Seto

664

Juri

Ds. Dono, Kec. sendang

21.

Sekar Jati Waseso

668

Ponidin

Ds. Tapan, kec. kedungwaru

22.

Turonggo Mudho

680

Surani

Ds. Nglurup, Kec. Sendang

66

Alif Bayu Mahardhika 23.

Renggo Saputro

683

Wiyono

Ds, Sendang

24.

Turonggo Mulyo

696

Kas tomo

Ds, Geger, Kec. Sendang

25.

Turonggo Kridha Asmoro

700

Karmani

Ds. Geger, Kec. Sendang

26

Wargo Tunggal

701

Karmani

Ds. Geger, Kec. Sendang

27.

Wargo Rukun

703

Dasiran

Ds. Nglurup, Kec. Sendang

28.

Turonggo suro

725

Danang Catur

Ds. Sidorejo, Kec. Kauman

29.

Mitro Taruno Budoyo

727

Juli Budiano

Kel. Kepatihan, Kec. Tulungagung

30.

Kudo Putro Yuwono

728

Palil Dar manto

Ds. Batangsaren, Kec. Kauman

31.

Yo Budhoyo

729

Drs. Han doyo

Ds, Bolorejo, Kec. Kauman

32.

Condro Mowo

731

Sutrisno

Ds, Junjung Kec. Sumbergempo l.

33.

Turonggo Anom

746

Sumarno Oon

Ds, Rejoagung, Kec. Kedungwaru

34.

Turonggo Mudo Budoyo

751

Sugito

Kel. Kepatihan, Kec. Tulungagung

67

Sejarah Perkembangan Kesenian Jaranan 35.

Tresno Budoyo

776

Sukar

Ds, tapan, Kec. Kedungwaru

36.

Mulyo Budoyo

779

Salim

Ds, Nglutung, Kec. Sendang

37.

Among Mitro Budoyo

783

Kadar Wahono

Jl. P. sudirman 8/48, Kec. Tulungagung.

Tabel III. 1: Daftar kelompok jaranan jawa klasik tahun 2000-2010. 23 Seiring dengan pergantian periode waktu, ternyata kesenian jaranan jawa klasik yang ada di kawasan Tulungagung ini tak lekang oleh waktu. Dibuktikan dengan adanya data pertambahan kelompok kesenian jaranan di periode tahun 2011 hingga tahun 2020 sebanyak 60 kelompok sanggar seni jaranan jawa klasik yang tersebar di seluruh wilayah Tulungagung.24

B. JARANAN SENTHEREWE Jaranan Sentherewe merupakan suatu tari dalam seni pertunjukan yang melukiskan para prajurit yang menunggangi kuda atau tengah melakukan sesuatu dengan kudanya. Pada umunya jaranan sentherewe sama dengan Jaranan pada umumnya, hanya saja tata busana yang digunakan seperti wayang wong yang merupakan ciri utama dari Jaranan Sentherewe dan menjadi berbeda 23 Verifikasi data kelompok jaranan jawa klasik tahun 2010. Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, Kab. Tulungagung. 24 Data kelompok seni jaranan, Dinas Kebudayaaan dan Pariwisata Kab. Tulungagung tahun 2011 hingga 2020.

68

Alif Bayu Mahardhika

dengan Jaranan yang lain. Gerak pada Jaranan Sentherewe sudah banyak dipengaruhi oleh gerak tari-tarian Ngremo. Proses munculnya kesenian jaranan sentherewe ini merupakan hasil perilaku interaksi dan juga sosialisasi antar seniman jaranan melalui bermacam macam perubahan dan juga perkembangan dalam perjalanan waktu yang lama. Pemberian nama Sentherewe merupakan perpaduan dari dua buah kata yang masing masing kata menjadi “senthe” dan “rawe”. Senthe adalah sejenis tumbuh tumbuhan ubi yang masuk dalam marga dari tumbuhan talas.25 Tumbuhan tersebut mempunyai buah didalam tanah dan sebagai pohonnya adalah tangkai daun yang memanjang dan tidak keras, Sedangkan bentuk daunnya lebar segitiga. Getah tumbuhan tersebut bila terkena kulit manusia rasanya akan gatal. Sedangkan rewe merupakan sebuah kata yang mengalami akulturasi, yang awalnya berupa kata rawe, yaitu sejenis tumbuhan yang menjalar. Bentuk daunnya oval, satu tangkai tiga daun, yang mempunyai bulu bulu lembut berwarna putih maya pada batang daunnya. Bulu bulu lembut tersebut bila mengenai kulit manusia, menimbulkan rasa gatal. Sehingga inti dari keterkaitan dengan jaranan sentherewe adalah bila penari jaranan sentherewe sudah kesurupan atau ndadi selalu bergerak seperti orang yang gatal gatal setelah terkena daun rawe. Berbagai perkembangan dan perubahan kesenian Jaranan Sentherewe di era industri pariwisata dan juga era digital pada tahun 2020 terdapat banyak hal yang menguntungkan bagi eksistensi kesenian itu sendiri. Dari sisi permintaan dan peminat pasar, kesenian Jaranan Sentherewe semakin banyak peluang untuk tampil diberbagai event. Upaya yang dilakukan Pemerintah Daerah Tulungagung melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Tulungagung dalam hal turut 25 Ali Imron, Agus. 2016. Sejarah Seni/ Budaya di Tulungagung Selatan. Tulungagung: Percetakan Langgeng. Hlm 256.

69

Sejarah Perkembangan Kesenian Jaranan

melestarikan Kesenian Jaranan Sentherewe melalui kegiatan festival dan juga perlombaan yang di dalamnya memberikan kebebasan berkreasi, sangat memungkinkan grup-grup Jaranan Sentherewe untuk melakukan inovasi. Namun, dengan catatan bahwa kreatifitas dan inovasi tidak sampai merusak pakem pakem gerakan yang telah dimiliki. Jaranan Sentherewe merupakan perkembangan dari Jaranan Jawa yang paling tertua setelah jaranan jawa klasik di Kabupaten Tulungagung. Pertunjukan Jaranan Sentherewe biasanya dilakukan di halaman, lapangan atau pun tempat terbuka lainnya, penonton akan mengitari penari tersebut untuk mengapresiasikan pertunjukan jaranan. Pertunjukan Jaranan akan dimulai biasanya pada siang, sore atau malam hari, namun kebanyakan sering dilakukan pada malam hari sebagai pemeriah acara hajatan seperti, Pernikahan, Bersih Desa, Khitanan dan lain sebagainya.26 Sudah menjadi tradisi masyarakat menampilkan kesenian Jaranan dalam setiap acara bersih desa, hajatan, maupun acara lainnya untuk memeriahkan acaranya tersebut. Pertunjukan Jaranan biasanya dilakukan di tempat yang luas seperti tanah lapang atau outdoor dengan panggung, dan penonton yang mengelilinginya untuk melihat pertunjukan Jaranan. Awal mula berdirinya Jaranan Sentherewe yaitu dari berbagai proses interaksi antar seniman yang disosialisasikan dalam lingkungan masyarakat antar seniman. Pengurangan dan penambahan gagasan inovasi terjadi dalam kurun waktu tertentu sesuai dengan lingkungan dan keadaan masyarakat sekitar. Jaranan sentherewe ini didalam sudut pandang masyarakat mempunyai spesifikasi yang mistik dan magir, namun dalam perkembangannya kesenian jaranan sentherewe mengedepankan aspek pertunjukan tarinya dan sedikit mulai meninggalkan kesan kesan mistis dan magis.

26 Ali Imron, Agus. 2016. Sejarah Seni/ Budaya di Tulungagung Selatan. Tulungagung: Percetakan Langgeng. Hlm 255.

70

Alif Bayu Mahardhika

Walaupun Reog Kendhang atau Reog Dhodhog termasuk ikon Kabupaten Tulungagung, namun banyak dari masyarakat yang lebih memilih untuk menampilkan dan mengembangkan Jaranan Sentherewe. Jaranan Sentherewe merupakan kesenian tradisional yang berada di Kabupaten Tulungagung dan telah tumbuh dan berkembang hampir di seluruh masyarakat Kabupaten Tulungagung. Susunan gerak yang digunakan para penari jaranan Sentherewe ini merupakan gerakan-gerakan pakem pada pertunjukan Jaranan Sentherewe terdahulu yang dibuat oleh nenek moyang. Sampai pada saat ini para penari jaranan berpakem sentherewe masih menggunakan gerakan-gerakan tersebut. Alasan tersebut dikarenakan para anggota grup Jaranan atau para pelaku seni sangat menghargai karya dari nenek moyang yang telah membuatnya, sehingga untuk merubah-rubah gerakan seperti pada zaman sekarang yang terbilang sudah modern dan lebih kreasi sangat disayangkan sekali, selain merubah karya nenek moyang perubahan modern kreasi juga tidak dapat dinalar oleh pikiran. Seperti mengangkat eblek yang merupakan simbol dari kuda, dan lain sebagainya. Berikut ragam gerak yang pada umumnya digunakan pada penari jaranan sentherewe menurut para penari jaran di salah satu sanggar seni jaranan sentherewe dan Campursari yang bernama “New Turonggo Safitri Putro”: NO.

RAGAM GERAK SENTHEREWE

URAIAN

1

Negar

Gerakan seperti jalan cepat atau hampir lari.

2

Junjungan 1

Pecutan, kemudian kaki kiri diangkat dan ditekuk tangan kanan lurus memegang pecut, tangan kiri memegang Jaranan, kaki kiri seleh, kaki kanan angkat dan tekuk tangan kanan

. .

71

Sejarah Perkembangan Kesenian Jaranan ditekuk sejajar depan dada. 3

Junjungan 2

Pecutan, kemudian tangan kanan berada dipinggul, kaki kiri tumpuan dan kaki kanan bergerak ke pojok kanan depan dan pojok kiri depan kepala tolehan kanan kiri. Kemudian menunduk kaki kanan dan kiri ditekuk tangan kanan dan kiri bertemu hampir di depan wajah. Berdiri lagi kaki kiri angkat tekuk, kaki kanan tumpuan dan encotan tangan kanan luru ke samping tangan kiri tetap memegang Jaranan.

4

Gedrugan

Menjatuhkan ujung depan telapak kaki di belakang kaki yang lain dengan posisi menyilang.

5

Lawung

Kaki pada posisi tanjak atau dibuka seperti posisi seorang pesilat.

6

Campursarian

Penari bergerak mengikuti irama musik Campursarian (Pecut dilambaikan).

7

Ndadi

Kesurupan menentu).

8

Perangan

Penari Jaranan dan celengan atau barongan seperti sedang berperang (gerakan tidak menentu).

.

.

.

.

. .

(gerak

tidak

Tabel III. 2: Ragam gerak Jaranan Sentherewe. 27

27 Sumber wawancara dengan Bapak Handoko/ Konseptor Turonggo safitri putro. Tanggal 30 Oktober 2020, di Desa Gedangsewu. Pukul 16.00 WIB.

72

Alif Bayu Mahardhika

Musik iringan Jaranan Sentherewe pada umumnya menggunakan gong, kenong, kendhang, saron, balungan, ketipung, dan slompret. Iringan musik pada kesenian jaranan sentherewe disini lebih terkombinasi dengan iringan melalui alat musik modern. Alat musik modern yang dimainkan bersama gamelan antara lain keyboard, bass, hingga drum. Alat musik modern dimasukkan dalam pertunjukan jaranan sentherewe bukanlah tanpa alasan, karena dalam salah satu sesi pertunjukannya, para penari kesenian jaranan sentherewe akan berjoget mengikuti alunan musik dangdut dan campursari. Oleh karena itulah alat musik modern dimasukkan dalam pertunjukan kesenian jaranan sentherewe sebagai wujud penyegaran dalam arti lain menambah keragaman alat music jaranan.28 Langgam langgam jawa dalam pementasan kesenian jaranan sentherewe masih tetap dinyanyikan oleh para pesinden. Namun, pada kesenian jaranan sentherewe para pesinden lebih memperkaya khasanah lagu lagu dangdut campursari dan dangdut. Pada kesenian jaranan jawa klasik, saat menyanyikan langgam langgam jawa para pesinden bernyanyi dengan duduk. Berbeda dengan kesenian jaranan sentherewe, para penyanyi atau pesinden menyanyikan tembang tembang sesekali dengan berdiri.

28 Desty Erika Putri, 2019. Pada Jurnal: Perkembangan Jaranan Safitri Putro Periode Tahun 2010-2019 Di Kabupaten Tulungagung. Universitas Negeri Surabaya. Hlm 2.

73

Sejarah Perkembangan Kesenian Jaranan

Gambar III.3: Beragam alat music gamelan yang dibunyikan saat pementasan kesenian jaranan.29 Menurut Bapak Sujarno saat wawancara tanggal 30 Oktober 2020 di Desa Sobontoro, bahwa untuk jumlah para pemusik serta para pesinden pada pertunjukan kesenian jaranan sentherewe lebih banyak dibangding pertunjukan kesenian jaranan dengan pakem gerakan yang lainnya. Jumlah pemusik dan pesindan dalam satu pertunjukan kesenian jaranan sentherewe berjumlah kurang lebih 30 an orang. Dengan rincian kuang lebih 15 orang pada posisi penabuh alat musik gamelan dan alat music modern, 2 orang sebagai pesindan dan penyanyi serta sisannya sebagai penari jaranan dan penari barongan hingga penari celengan. Tak jarang juga, dalam satu pertunjukan kesenian jaranan sentherewe membawa personil lebih dari 30 orang. Mereka para personil jaranan sentherewe biasanya sudah tergabung dalam satu sanggar seni jaranan.

29 Observasi dan wawancara dengan Bapak Sujarno, seniman jaranan. Desa Sobontoro, 30 Oktober 2020. Pukul 14.00

74

Alif Bayu Mahardhika

Sehingga pada saat ada acara pementasan, mereka dengan mudah mengkoordinir anggota mereka.30 Durasi penampilan kesenian jaranan sentherewe berkisar 3 hingga 4 jam. sedikit lama, namun kemasan pementasan dalam satu pertunjukan sangatlah menarik dan tidak membosankan. Dalam pementasan kesenian jaranan sentherewe dapat ditemukan ciri khas atau keunikan tersendiri yang tidak dimiliki oleh pakem gerakan serta aliran jaranan yang lainnya. Dari segi unsur gerakan, para penari jaranan sentherewe dapat mengkombinasikan gerakan jaranan asli dengan gerakan kontemporer hingga gerakan kreasi. Selain itu dari segi lagu dan instrument musik lebih bisa dipadukan sesuai perkembangan minat masyarakat. Untuk pemilihan lagu, biasanya para sanggar seni jaranan sentherewe memiliki seorang konseptor pertunjukan. Tugas dari seorang konseptor yaitu mencari referensi gerakan terbaru tanpa menghilangkan gerakan inti dari kesenian jaranan. Selanjutnya para konseptor juga harus memperbanyak referensi lagu yang harus dinyanyikan para pesinden dan para penyanyi saat pementasan. Referensi lagu terbaru harus diperkaya akan aransemen dan keterpaduan dalam beragam alat musik gamelan dan modern. Masyarakat nampaknya lebih menyukai lagu lagu yang sedang buming pada periode saat ini ketika pementasan kesenian jaranan ditampilkan. Properti yang ada pada penari kesenian jaranan sentherewe hampir sama seperti properti yang dipakai pada kesenian jaranan jawa klasik. Mulai dari jaranan yang terbuat dari anyaman bambu dan diberi ijuk sebagai rambut jaranan. Untuk jaranan sentherewe, jaranan yang terbuat dari anyaman bambu berukuran lebih kecil dibanding ukuran jaranan yang dipakai pada kesenian jaranan jawa klasik. Jika jaranan yang terbuat dari 30 Wawancara dengan Bapak Sujarno di Desa Sobontoro, tanggal 30 Oktober 2020.

75

Sejarah Perkembangan Kesenian Jaranan

anyaman bambu pada jaranan jawa klasik berkisar memiliki panjang seratus tigapuluh sentimeter, maka ukurang jaranan yang terbuat dari anyaman bambu pada kesenian jaranan sentherewe lebih kecil yaitu berkisar Sembilan puluh sentimeter hingga seratus sentimeter. Pada jaranan yang terbuat dari anyaman bambu tersebut memiliki aksen aksen lukisan serta pewarnaan yang lebih mencolok. Jaranan diwarnai dengan warna merah dengan dipadukan warna hitam sehingga terkesan indah dan menarik. Disisi depan dan belakang jaranan dikaitkan tali penyangga agar para penari lebih mudah dalam memakai properti jaranan pada saat menari. Selain jaranan yang terbuat dari anyaman bambu, pada kesenian jaranan sentherewe para penarinya juga dilengkapi dengan cemethi atau pecut. Pecut yang dibawa para penari memiliki panjang kurang lebih limapuluh sentimeter dengan pegangan pecut dihiasi dengan warna warna yang senada dengan jaranan. Sebenarnya, cemethi atau pecut yang dipakai dalam kesenian jaranan sentherewe ada dua macam. Yang pertama yaitu pecut yang dipakai properti para penari saat menari, yang kedua pecut berukuran besar dan panjang yang digunakan para pimpinan sanggar seni jaranan sentherewe. Nantinya, pecut yang berukuran besar dan panjang tersebut dihentakkan ke udara hingga berbunyi sebagai tanda pementasan jaranan sentherewe akan segera dimulai. Pada jaranan sentherewe, para penari juga menggunakan gelang kaki atau krincingan kaki dan juga udeng. Untuk krincingan yang ada di kaki jumlah lonceng kecilnya sangat banyak, sama dengan jumlah krincingan yang dipakai para penari jaranan jawa klasik yaitu sekitar sepuluh conceng kecil yang mengelilingi gelang kaki, sehingga ketika para penari menghentakkan kakinya di bawah tampak senada dan seirama dengan iringan music yang dimainkan dari gamelan dan juga alat music elektronik. 76

Alif Bayu Mahardhika

Untuk pemakaian udeng atau ikat kepala, jaranan sentherewe sangat variatif. Mereka para penari menggunakan ikat kepala yang berbentuk segitiga lebar dan tak jarang dihiasi dengan kain yang berwarna terang dan juga manik manik berwarna warni layaknya ikat kepala yang digunakan saat pementasan drama atau wayang orang. Cara mengikatnya pada kepala juga sangat beragam, biasanya para penari jaranan sentherewe sudah merancang bentuk udengnya masing masing dengan dijahit sehingga pada saat pementasan mereka tidak tergesa gesa dalam memakai udeng. Sanggar sanggar seni jaranan sentherewe selalu memiliki identitas masing masing untuk kostum dan property yang digunakan sang penari ketika pementasan. Terutama penggunakan udeng atau ikat kepala. Contohnya sanggar seni jaranan sentherewe di kawasan Gedangsewu Kabupaten Tulungagung memiliki ciri khas udeng batik yang dikombinasikan dengan kain berwarna lain, begitupun dengan sanggar seni jaranan yang ada di kawasan Kauman atau Gondang. Selain udeng, para penari dari jaranan sentherewe juga mengenakan giwang bagi penari perempuan dan hiasan telinga bagi para penari laki laki. Sebenarnya ini tidak harus ada dalam properti dan atribut aksesoris, penggunaan giwang atatu anting serta hiasan telinga ini hanya bentuk inisiatif para sanggar jaranan untuk mempercantik penampilan dari seorang penari jaranan. Semakin indah dan unik pengenaan beragam properti serta aksesoris yang dikenakan, maka para penonton akan terkesima dengan penampilan para penari jaranan sentherewe ketika diatas pentas.

77

Sejarah Perkembangan Kesenian Jaranan

Gambar III. 4: Salah satu Konseptor kelompok kesenian jaranan sedang menjelaskan perkembangan jaranan.31 Ragam baju yang dikenakan para penari jaranan sentherewe juga sangat apik untuk dipandang. Baju yang dikenakan para penari sangatlah indah dan juga unik. Para penari mengenakan setelan baju atasan dan bawahan. Untuk bawahan para penari mengenakan celana pendek biasanya berwarna hitam dan bercorakkan benang berwarna emas. Untuk pakaian atasan, penari jaranan sentherewe mengenakan baju bercorakkan batik cerah dan ditutup dengan rompi berwarna hitam. Selanjutnya para penari juga dipakaikan centhing atau sabuk dan ditutup dengan kain jarik yang menutupi centhing. Panggung pementasan yang dipakai untuk kesenian jaranan sentherewe juga sangat beragam. Panggung biasanya memiliki panjang sekitar lima belas meter dengan diberikan background kain atau kayu yang dilukis menyerupai sebuah candi. Background pada panggung pementasan jaranan sentherewe ini difungsikan sebagai penghias panggung utama dan juga difungsikan sebagai 31 Observasi dan wawancara dengan Bapak Handoko, konseptor pertunjukan kelompok seni jaranan Safitri Putro. Pada tanggal 30 Oktober 2020. Pukul 15.30 WIB.

78

Alif Bayu Mahardhika

pemisah antara para pemusik dan arena pertunjukan tari. Jika penampilan jaranan sentherewe pada malam hari, panggung dihiasi dengan lampu sorot yang menambah keindahan para penari jaranan sentherewe pentas. Untuk wilayah sebaran kesenain jaranan di Tulungagung juga sangat luas. Namun, mayoritas kelompok Kesenian Jaranan Sentherewe berada di wilayah Boyolangu dan juga Sendang. Dari data yang diperoleh penulis dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata dan juga Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Tulungagung bahwa Kesenian Jaranan Sentherewe pada kurun waktu 2000 hingga 2010 adalah sebagai berikut: No.

NO. INDUK

KETUA

1 Turonggo Santi Budaya

004

Slamet

2 Krida Birawa

007

Sung kono

Ds.Beji, Kec. Boyolangu

3 Putra Budaya

009

suripto

Ds. Dono, Kec. Sendang

4 Krida Remaja

013

Drs. Suhadi

Ds. Panggungrejo, Kec. Kauman

5 Rukun Budaya

Tri

017

Supani

.

Kel. Kutoanyar, Kec. Tulungagung

6 Turangga Krida Taruna

019

Warsito

.

Ds. Picisan, Kec. Sendang

7 Turangga Muda

030

Madi

Ds. Kaligentong, Kec. kalidawir

8 Gema Budaya

031

Purnani

9 Turangga Muda

040

Sunari

.

KELOMPOK KESENIAN

Eka

.

.

ALAMAT Ds. Gondosuli, Gondang

Kec.

Ds. Gondang

. .

79

Ds. Kec.

Bukur,

Sejarah Perkembangan Kesenian Jaranan Sumbergempol 10.

Puji Rahayu Budaya

044

Supari

Jl. Mastrip I/ 40 Tulungagung

11.

Turangga Larasari Putra

057

Budi Siswanto

Ds.Sobontoro , Kec. Boyolangu

12.

Turangga Budaya

058

Siswandi

Ds.Jatimulyo, Kec. Kauman

13.

Krida Kartika

062

Sunarto

Ds. Waung, Kec. Boyolangu

14.

Taruna Budaya

064

Lasidi

Ds. Nyawangan, Kec. Sendang

15.

Putra Bhirawa

065

Marahan

Ds. Ketanon, Kec. Kedungwaru

16.

Cahya Budaya

070

Saliyo

Ds. Dukuh, Kec. Gondang

17.

Santosa Muda

073

Santoso

Kel. Tulungagung

18.

Putra Mandura

078

Sunaryo

Ds. Panggungrejo, Kec. Kauman

19.

Satriya Budaya

087

Musa

Ds. Balerejo, Kec. Kauman

20.

Taruna Jaya

089

waseso

Ds. Pulosari, Kec. Ngunut

21.

Turangga

107

Saeran

Ds.Pinggirsar i, Kec. Ngantru

Mega

Aji 22.

Ngesti Budaya

109

Sumoro

Ds.Gedangan, Kec. Karangrejo

23.

Wahyu Budaya

112

Darman

Kel. Tulungagung

24.

Sakti Budaya

113

Parnu

Ds. Nglurup, Kec. Sendang

25.

Putra

115

Supardi

80

Ds.

Ngrejo,

Alif Bayu Mahardhika Bhirawa

26.

Sekar Agung Budaya

Kec. Tanggunggunun g 122

Sapoan

Ds. Babatan, Kec. karangrejo

Tabel III. 3: Daftar kelompok jaranan sentherewe tahun 2000-2010. Sumber DinParBud Tulungagung. Jaranan Sentherewe yang ada di Tulungagung pada periode berikutnya juga mengalami pertambahan. Pertambahan kelompok sanggar dari kesenian jaranan sentherewe ini tidak sebanyak kesenian jaranan jawa klasik. Tercatat sejumlah 30 kelompok sanggar seni jaranan yang mendaftarkan keanggotaanya kepada Dinas Pariwisata dan Kebudayaan. 32

C. JARANAN PEGON Jaranan pegon merupakan ciri khas kesenian dari daerah Tulungagung. Jaranan pegon ini termasuk modifikasi dari kesenian wayang orang. Pada awal perkembangannya jaranan pegon berada di daerah timur Tulungagung, seperti halnya pada kawasan Pucanglaban, Tanggunggunung, Boloyangu, dan juga wilayah Kalidawir.33 Perkembangan kesenian tersebut tidak hanya berada di kawasan timur saja, melainkan dikawasan utara daerah Tulungagung juga mengalami perkembangan. Seperti yang ada di daerah Sendang, Pagerwojo dan Gondang. Kesenian tersebut juga menjadi ikon wilayah masing masing.

32 Data kelompok kesenian Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kab. Tulungagung, Tahun 2011 hingga 2020. 33 Ali Imron, Agus. 2016. Sejarah Seni/ Budaya di Tulungagung Selatan. Tulungagung: Percetakan Langgeng. Hlm 258.

81

Sejarah Perkembangan Kesenian Jaranan

Kesenian jaranan pegon sendiri setiap daerahnya memiliki kelompok jaranan lebih dari sepuluh kelompok. Daerah sendang sendiri menurut catatan dinas kebudayaan dan Pariwisata pada tahun 2001 hingga 2004 bahwasannya daerah tersebut memiliki kelompok jaranan pegon sebanyak duapuluh lima kelompok. Sedangkan Bandung, Besuki, Karangrejo, dan Tulungagung Kota belum memiliki kesenian yang serupa. Modifikasi antara seniman wayang orang denagn seniman jaranan yang hingga memunculkan sebuah kesenian baru, yaitu jaranan pegon. Dengan sendirinya bahwasanya budaya tidak bersifat permanen, melainkan elastis dan dapat bertransisi dengan kebudayaan lain. Seperti kesenian wayang orang. Kesenian tersebut pada awalnya merupakan kesenian yang berada di keraton Yogyakarta dan keraton Surakarta, sehingga dua keraton tersebut merupakan sumber sebagai acara ritual di masyarakat. Sehingga kesenian kesenian yang ada di daerah daerah mayoritas berkiblat kepada Keraton Yogyakarta maupun Keraton Surakarta atau bisa diistilahkan sebagai matraman. Untuk properti yang dikenakan para penari jaranan pegon ini hampir sama dengan penari jaranan sentherewe. Jaranan yang terbuat dari anyaman bambu juga tidak terlalu besar, para penari jaranan pegon juga membawa cemethi atau pecut ketika menari, dan juga para penari mengenakan krincingan atau gelang kaki. Nampak dari secara keseluruhan tidak ada yang berbeda, namun dari tiap penampilan penari jaranan pegon juga lebih berfariatif. Terkadang juga terlihat para penari jaranan pegon lebih banyak mengenakan aksesoris dibanding dengan para penari jaranan dengan pakem atau aliran yang berbeda. Untuk tata panggung yang digunakan para penari pegon cukup variatif, ada yang menggunakan panggung besar dan juga ada yang menari langsung beralaskan tanah. Jika para penari menari secara langsung diatas panggung, maka para konseptor sanggar yang merancang sebuah 82

Alif Bayu Mahardhika

pertunjukan harus benar benar mengatur dan mengukur antara jumlah penari dan juga luas panggung. Tak jarang, para penari jaranan pegon berjumlah sangat banyak ketika mereka pentas. Ditambah lagi para penonton yang penasaran untuk mendekat dan ikut naik ke atas panggung. Pada pertunjukan kesenian jaranan pegon juga dimasukkan tarian barongan dan juga celengan. Celengan merupakan tarian yang mencerminkan sikap dari hewan babi. Biasannya kemunculan barongan dan celengan ini berada pada pertengahan pertunjukan dan juga akhir. Hal yang menarik untuk dibahas pada tarian celengan adalah properti yang digunakan oleh penari celengan. Penari celengan ketika menari menggunakan anyaman bambu yang dibentuk menyerupai hewan babi hutan. Untuk ukurannya didesain lebih kecil dibandingkan dengan jaranan. Pada anyaman bambu yang dibuat menyerupai bentuk babi juga dilukis aksen aksen yang khas dan unik. Seperti halnya penggambaran gigi taring. Biasanya, alur kemunculan tari celengan yaitu setelah para penari jaranan selesai mementaskan tarinya dengan diakhiri ndadi. Selanjutnya penari celeng yang berjumlah satu hingga dua orang muncul diatas panggung dengan menari layaknya seperti celeng atau babi hutan yang sedang mencari mangsa. Nilai nilai yang ada pada kemunculan celeng ini adalah diibaratkan sebagai mara bahaya yang datang dan harus diusir. Pengusiran mara bahaya ini dapat ditangkat melalui kemunculan barongan yang tampil dengan para penari celeng. Para penari celeng dan barongan melakukan gerakan bertarung satu sama lain hingga mereka akhirnya ada yang kesurupan. Bagi generasi penerus kesenian jaranan, terkhusus kesenian jaranan pegon hal ini menjadi salah satu pembelajaran yang penting untuk menambah pengetahuan tentang prilaku kehidupan masyarakat terdahulu dalam menciptakan sebuah kesenian dan dapat mengambil pembelajaran di dalamnya untuk kehidupan saat ini. Tari ini juga menambah pengetahuan akan warisan budaya 83

Sejarah Perkembangan Kesenian Jaranan

yang dimiliki Indonesia. Pembelajaran dari makna-makna yang terkandung didalamnya dapat kita ambil agar kita lebih kritis dan menjadi manusia yang berbudaya sehingga dapat hidup lebih baik dan bijaksana. Untuk sebaran kesenian jaranan pegon di Tulungagung tidaklah sebaknya kesenian jaranan jawa maupun kesenian jaranan sentherewe. Pasalnya, kesenian jaranan pegon banyak ditampilkan ketika ada kegiatan tertentu saja dan juga sanggar sanggar jaranan yang berpakem pegon tidak mengalami penambahan yang cukup siknifikan. Berikut data yang diperoleh dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata dan juga penyesuaian data dengan Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Tulungagung. Data yang diperoleh ini adalah data pada kurun periode antara Tahun 2000 an hingga Tahun 2010, Rinciannya sebagai berikut: NO.

KELOMPOK KESENIAN

NO. INDUK

KETUA

1.

Marga Budaya

8

Janu

Ds. Nyawangan, Kec. Sendang

2.

Agung Budaya

66

Suyatno

Ds.Segawe, Kec. Pagerwojo

3.

Cipto Kawedar

170

Sinto

Ds.Demuk, Kec. Pucanglaban

4.

Saputra Jaya

179

Mukri

Ds.Panggung muni,Kec. Pucanglaban

5.

Wahyu Budaya

183

Tumini

Ds.Nyawanga n, Kec. Sendang

6.

Lestari Budaya

294

Sukemi

Ds.Krosok, Kec. Sendang

7.

Wargo Budoyo

341

Yadi

Ds.Nyawanga

84

ALAM AT

Alif Bayu Mahardhika n, kec. Sendang 8.

TuronggoJaya Saputra

431

Yasir

Ds.Tugu, Kec. Sendang

9.

Turonggo Jati

461

Mulyani

Ds. Rejotangan

10.

Krida joyo

644

Niak

Ds. Ngunut.

turonggo

Tabel III.4: Daftar Kelompok jaranan pegon tahun 2000-2010.34 Untuk kesenian jaranan pegon dikawasan Tulungagung pada periode berikutnya tak Nampak pertambahan kelompok sanggar seni jaranan pegon yang ada di kawasan Tulungagung. Sebanyak 9 kelompok kesenian jaranan pegon baru di kawasan Tulungagung. Namun, dari segi eksistensi pertunjukan kesenian jaranan pegon masih tetap ada walaupun tidak terlalu sering.35

D. JARANAN CAMPURSARI Tulungagung memang kaya akan keragaman kesenian maupun kebudayaannya. Menandakan masyarakat memiliki karakter kuat dalam berkehidupan, ragam seni dan budaya menjadi kesatuan makna yang dapat melahirkan nilai nilai kebaikan. Hakikat berkesenian merupakan wujud penyelarasan hidup, dari pribadi menuju keharmonisan terhadap alam semesta. Daerah Tulungagung merupakan sebuah kawasan yang berada di bagian selatan dari ibukota propinsi, yaitu Surabaya. Daerah yang memiliki keanekaragaman kesenian ini memang tidak terlalu menggaung di kancah nasional. 34 Data kelompok jaranan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kab. Tulungagung tahun 2010. 35 Data kelompok kesenian Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kab. Tulungagung tahun 2011 hingga 2020.

85

Sejarah Perkembangan Kesenian Jaranan

Namun, dalam kurun waktu beberapa tahun ini memiliki prestasi yang memuaskan. Mulai dari adanya pertunjukan di TMII atau Taman Mini Indonesia Indah Jakarta, biasanya berupa seni tari khas Tulungagung. Salah satu seni tari khas Tulungagung adalah kesenian jaranan campursari.36 Masyarakat Tulungagung dan sekitarnya tentu tidak asing mendengar nama jaranan campursari, salah satunya dari kelompok sanggar bernama kuda bhirawa. Sebuah organisasi kesenian jaranan campursari asal Desa Bungur, Kecamatan Karangrejo, Tulungagung ini sudah merajai berbagai pementasan di berbagai daerah. Perkumpulan warga yang tergabung dalam jaranan campursarimini didirikan pada 15 Desember 1981 dengan nomer induk 22. Organisasi kesenian jaranan campursari ini diketuai oleh Drs. Surojo, yang beralamatkan di Desa Bungur, Kecamatan Karangrejo. Siapa yang tak kenal dengan kesenian jaranan campursari kuda bhirawa. Kelompok sanggar jaranan kuda bhirawa merupakan sebuah perkumpulan kesenian yang beralirkan campursari. Kesenian ini pada kurun waktu tahun 2000 an sangatlah booming dikalangan masyarakat Tulungagung dan sekitarnya. Terutama mengenai jenis keseniannya yaitu berupa jaranan yang dipadukan dengan musik campursarian bahkan kesenian tersebut disebarluaskan melalui VCD/DVD. Sehingga bisa dinikmati oleh berbagai lapisan masyarakat. Jaranan sendiri dahulunya merupakan wujud kesenian yang memiliki nilai-nilai kesakrala. Terkadang jaranan sendiri diperagakan disaat penyambutan tamu agung, atau memang diperagakan disaat ada hajatan masyarakat. Kesakralan jaranan dapat dilihat saat pementasan diselenggarakan dengan berbagai perlengkapan seperti sesaji, dukun sebagai pengontrol ketika salah satu pemain mengalami ndadi. 36 Wawancara dengan Bapak Sujarno di Desa Sobontoro, tanggal 30 Oktober 2020.

86

Alif Bayu Mahardhika

Seiring perkembangan waktu keberadaan jaranan semakin bervariasi akibat adanya pola pemikiran modern. Salah satunya adalah jaranan campursari. Jaranan ini sempat dan bahkan masih popular dikalangan masyarakat Desa. Setidaknya jaranan campursari sampai saat ini masih terlestarikan. Keberadaanya yang sudah jarang dipentaskan, dan tentunya masih bisa dinikmati melalui audio-visual yang berupa VCD atau DVD. Untuk itulah pentingnya menjaga, melestarikan ragam kesenian daerah sebagai perwujudan identitas lokal. Jaranan campursari yang berada di lingkungan masyarakat, begitu dipercayai sebagai salah satu hiburan yang ekonomis. Ibaratnya gratis dapat ditonton oleh seluruh kalangan masyarakat tanpa terkecuali. Keunikan salah satu ketika akan pentas, cuaca mendung akan turun hujan. Namun tak perlu khawatir, dikarenakan dukun yang selalu mengikuti kemanapun kelompok jaranan campursari akan pentas senantiasa menyingkirkan mendung mendung tersebut. Hal tersebut yang sering menjadi klenik yang masih ada di kalangan masyarakat.

Gambar III.5: kegiatan latihan malam kelompok kesenian jaranan campursari pada tanggal 9 Desember 2020.37

37 Dokumentasi latihan para kelompok seni jaranan. Desa Kauman, 9 Desember 2020. Pukul 18.30 WIB.

87

Sejarah Perkembangan Kesenian Jaranan

Menghidupi kesenian jaranan, khususnya jaranan campursari memang membutuhkan tenaga, baik materi maupun moril. Maka dari itulah berkesenain jaranan campursari tidak serta merta hanya mencari materi saja, melainkan menanamkan pendidikan dan nilai kearifan lokal yang sesuai dengan perkembangan dari suatu zaman. Untuk kesenian jaranan Campursari di Wilayah Tulungagung cukup banyak. Dari data yang diperoleh tercatat sejumlah 30 sanggar kesenian jaranan campursari yang tersebar diseluruh wilayah Tulungagung sejak periode 2000 hingga 2010. Untuk kesenian jaranan campursari tidak ada wilayah yang dominan atau minim kesenian jaran campursari, hampir diseluruh Kecamatan yang ada di Tulungagung memiliki sanggar seni jaranan campursari. Untuk sebaran data sanggar kesenian jaranan campursari antara lain: NO. 1.

KELOMPOK

NO.

KESENIAN

INDUK

Bangun

5

KETUA

ALAMAT

Sutoyo

Ds. Tiudan. Kec,

Budaya 2.

Gondang

Krida

10

Wasito

Ds. Sendang

11

Suyatno

Ds. Balerejo , Kec.

Turangga 3.

Rukun Budaya

Kauman 4.

Koko

Trisna

12

Budaya 5.

Kuda Birawa

22

Hery

Ds. Krosok, Kec.

Purwanto

Sendang

Drs. Surojo

Ds. Bungur, Kec. karangrejo

6.

Turangga

26

Rusmadin

Arum 7.

Sari turangga

Ds.Pakisrejo,Kec. Rejotangan

35

Sambudi

Jari

Ds.

Tunggangri,

Kec. kalidawir

88

Alif Bayu Mahardhika 8.

Mega Budaya

39

Sutrisno

Ds. Sendang

9.

Safitri Putra

48

Kusno

Ds. Gedangsewu

10.

Wahyu

52

Katemi

Ds. Srikaton

Budaya 11.

Krida Sekti

60

Mujiono

Ds. Ngantru

12.

Resa Saputra

67

Sunaryo

Ds. Samar , Kec. Pagerwojo

13.

Suka Budaya

74

Juli

Ds.Aryojeding, Kec. Rejotangan

14.

Satria Budaya

87

Musa

Ds. Balerejo, kec. Kauman

15.

Marga Budaya

88

Kateni

Ds. Segawe

16.

Tejo Moyo

92

Momon

Ds. Kedungwaru

Agus 17. 18.

Bima Taruna Sedya Saputra

96 98

Agus

Ds. Pulerejo, Kec.

Susanto

Ngantru

Parsit

Ds. Nglurup, kec Sendang

19.

Saputra

99

Kabul

Budaya 20.

Sedya Utama

Ds. Nglurup, Kec. Sendang

100

Salim

Ds. Nglurup, Kec. Sendang

21.

Sinar Budaya

101

Kemi

Ds. Krosok, Kec. Sendang

22.

Cahyo Budaya

102

Cahyono

Ds. Kedoyo , Kec. Sendang

23.

Setya Budaya

114

Tukiran

Ds. Kedoyo, Kec. Sendang

24.

Rukun Santosa

136

89

Samsuri

Ds.Tenggong, Kec.

Sejarah Perkembangan Kesenian Jaranan Rejotangan 25.

Turangga

139

Yudi Retno

Singa Budaya 26.

Mekar sari

Ds.

Simo,

Kec.

Kedungwaru 140

Sadjit

Ds.

Tugu,

Kec.

Rejotangan 27.

Putra Birawa

144

Sugito

Ds. Dukuh Kates, Kec. Rejotangan

28.

Panji saputra

146

Yugianto

Ds.

Nyawangan,

Kec. Sendang 29.

Surya Darma

147

Sunar

Ds. Krosok, Kec. Sendang

30.

TuranggaPanji

169

Tulus Riadi

Budaya

Ds. Panjerejo, Kec. Rejotangan

Tabel III.5: Daftar Kelompok jaranan campursari tahun 2000-2010.38 Kemunculan kelompok kesenian jaranan campursari seiring dengan perkembangan zaman semakin mengalami peningkatan. Hal ini dikarenakan kesenian jaranan campursari paling bisa terbuka dengan pengaruh kesenian lainnya seperti dangdut, keroncong, dan juga campursari. Dari fleksibilitas tersebut, minat pasar terhadap kesenian jaranan campursari sangatlah tinggi. Dari data yang diperoleh dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Tulungagung mencatat pada kurun sepuluh tahun terakhir, terhitung mulai tahun 2011 hingga 2020 kelompok kesenian jaranan campursari bertambah menjadi 89 kelompok yang tersebar diseluruh kawasan Tulungagung.39

38 Verifikasi data Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kab. Tulungagung, pada tahun 2010. 39 Wawancara dengan Ibu Septifera Agni, Kasi Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kab. Tulungagung. Tanggal 22 desember 2020.

90

Alif Bayu Mahardhika

BAB IV UNSUR PENDUKUNG PENYAJIAN PERTUNJUKAN JARANAN

Unsur unsur pendukung yang terdapat dalam sebuah pertunjukan tidaklah terlepas dari satu kesatuan bagian dari sebuah pertunjukan. Jangan sekedar menyepelekan unsur pendukung yang mengiringi pemetasan tari jaranan. Bahkan, masyarakat atau para penonton justru melihat sisi lain dari sebuah pertunjukan kesenian jaranan melalui unsur pendukung yang unik, khas, dan beda dari yang lainnya.

A. LIGHTING Tata lampu atau lighting dalam sebuah pertunjukan kesenian jaranan sangatlah penting. Terlebih jika pementasan kesenian jaranan dilaksanakan pada malam hari. Tak jarang juga kesenian jaranan dipentaskan pada malam hari, biasanya orang yang mengundang kelompok jaranan meminta pertunjukan malam hari dikarenakan cuaca yang tidak panas. Pasalnya, masyarakat Tulungagung sangat antusias jika ada pertunjukan kesenian jaranan yang sedang dipentaskan.

91

Sejarah Perkembangan Kesenian Jaranan

Pencahayaan dalam tata panggung kesenian jaranan juga sangat beragam. Perlu adanya peundingan sebuah konsep pencahayaan yang harus ada keterpaduan dengan tata letak panggung dan warna background pada panggung kesenian jaranan. Biasanya para konseptor sanggar jaranan dengan tim tata panggung berunding terlebih dahulu sebelum kegiatan pementasan dilaksanakan. Perlunya pencahayaan yang terang agar penampilan para penari dapat dinikmati dengan indah saat malam hari. Ada dua jenis pencahayaan lampu yang biasanya digunakan dalam pementasan jaranan. Pencahayaan utama adalah lampu terang yang menyinari panggung dengan warna yang terang. Pencahayaan yang kedua yaitu berasal dari lampu sorot berwarna warni yang dimainkan oleh operator dari tim lighting saat sesi pertunjukan tari sedang dilaksanakan40. Untuk lampu sorot berwarna warni ini mulai ditampilkan oleh para tim panggung dan tim lighting sekitar tahun 2010 an. Hal ini dimasukkan dalam sebuah konsep pertunjukan untuk memperbarui suasana saat penampilan kelompok kesenian jaranan.41 Kunci utama dalam permainan lampu ada pada tim lighting. Beda sesi pertunjukan, lampu yang dinyalakan juga berbeda. Lampu utama yang berwarna terang dinyalakan saat acara pementasan kesenian jaranan baru dimulai dan dibuka oleh pembawa acara dengan dilanjutkan tembang atau langgam pembuka. Ketika para penari mulai masuk dalam panggung pementasan jaranan, lampu sorot berwarna warni mulai dinyalakan oleh tim operator lighting. Sesekali pementasan juga diberikan Boom Smoke atau asap-asapan guna menambah suasana berbeda dalam sebuah pementasan kesenian jaranan.

40 Wawancara dengan Bapak Handoko pada tanggal 30 Oktober 2020, di Desa Gedangsewu. Pukul 16.00 WIB. 41 Wawancara dengan Bapak Sujarno, di Desa Sobontoro. Pada tanggal 30 Oktober 2020.

92

Alif Bayu Mahardhika

B. SOUND SYSTEM Para soundman tidak hanya ada pada pertunjukan konser kolosal saja, pertunjukan kesenian jaranan saat dipentaskan ditengah masyarakat. Para tim penata suara harus memadukan mikrofon yang ada pada pemusik, penyanyi, dan pembawa acara. Terkhusus penyesuaian suara pada musik gamelan sangatlah sulit. Harus benar benar diperhatikan jarak mikrofon dengan alat musik gamelan dengan sesuai agar musik dan suara yang dihasilkan tidak sangat nyaring dan menggema. Gamelan jika didekatkan dengan mikrofon maka suara yang dihasilkan pada soundsystem akan sangat nyaring dan terkesan menggema, oleh karena factor logam yang ditabuh memiliki frekuensi yang sangat keras, maka tim dari soundsystem harus mengatur jarak mikrofon dengan gamelan sejauh empat puluh sentimeter. Lebih mudah lagi ketika dipadukan dengan alat musik modern seperti halnya keyboard, bass, gitar, maupun drum. Para tim dari soundsystem harus mengecek secara berkala saat pementasan kesenian jaranan dilaksanakan, tak jarang juga mikrofon yang tiba tiba mati atau suara terkesan lambat atau delay. Pengecekan kabel-kabel dalam tata panggung juga harus diperhatikan untuk tim soundsystem. Jangan sampai kabel kabel mengganggu para penari jaranan atau kru lainnya saat pementasan dilaksanakan. Penyelarasan suara yang bagus dengan konsep pertunjukan merupakan sebuah kesatuan estetis yang harus dipertahankan dalam sebuah pertunjukan kesenian jaranan, terlebih ketika para pesinden atau penyanyi menyanyikan sebuah lagu. Hal inilah yang sangat ditunggu tunggu oleh para penonton atau masyarakat yang sedang menonton. Jangan sampai para penonton terganggu konsentrasinya dengan suara mikrofon yang terlalu nyaring atau kurang enak didengar.

93

Sejarah Perkembangan Kesenian Jaranan

C. TATA RIAS DAN TATA BUSANA Tata rias wajah pada pertunjukkan Jaranan sangatlah pentinguntuk mendukung performa para pemain. Para pemain tari jaranan di berbagai kelompok sanggar memiliki ciri khas tata rias yang berbeda beda dan tentunya sangat unik, menggunakan riasan wajah yang terlihat angker dan terlihat gagah pada riasan para pemain Jaranan laki-laki. Begitu juga perempuan menggunakan tata rias yang gagah berani namun tetap cantik dan anggung. 42 Para pemain Jaran menggunakan tata rias dengan imajinasi tiap individu pemain atau disesuaikan dengan karakter wajah dari para penari jaranan. Namun, tata rias yang digunakan tidak terlalu tebal pada acara siang hari. Namun apabila para pemain Jaran bermain pada malam hari, mereka menggunakan tata rias sedikit tebal. Berbeda halnya dengan para penari barongan dan penari celengan yang turut mengiringi tarian jaranan saat pementasan. Para penari tarian barongan dan para penari celengan tidak menggunakan tata rias yang begitu mencolok dibanding para penari jaranan. Hal ini dikarenakan wajah para pemain menggunakan topeng pada tarian mereka dan kemunculan mereka pada suatu pertunjukan jaranan tidak begitu dominan.43 Tata busana yang digunakan oleh para pemain Jaranan di Tulungagung pada zaman dahulu dan zaman sekarang sangatlah berbeda. Ini dapat dilihat pada tata busana zaman dahulu, para pemain tarian Jaranan hanya menggunakan kaos putih dan kaos hitam atau kaos plerek putih dan plerek merah. Bahkan dari arsip foto kesenian jaranan yang diperoleh dari Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Tulungagung, pada tahun 1975,

42 Hanifati Alifa Radhia.2016 .jurnal: Dinamika Seni Pertunjukan Jaran Kepang Di Kota Malang. Jurnal Kajian Seni. Volume 02, No. 02, : 164-177. 43 Wawancara dengan Bapak Bayu Kriswanto, seorang seniman sekaligus Kasi kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, tanggal 22 Desember 2020.

94

Alif Bayu Mahardhika

para penari jaranan laki laki tidak mengenakan baju, hanya mengenakan celana pendek yang ditutup dengan kain jarik. Menurut informasi yang diperoleh dari narasumber Bapak Bayu kriswanto (Kasi Kebudayaan DinParBud Tulungagung, 22 Desember 2020), bahwa perkembangan yang terjadi pada tata rias dan busana pada grup Jaranan dari berbagai pakem aliran di Tulungagung saat ini sangat menonjol sekali. Pada grup Jaranan pada tempo 1990 an menggunakan riasan serta busana yang terlihat masih jadul atau busana dengan corak pada zaman dulu seperti atasan lengan panjang dengan corak bunga-bunga, riasan yang digunakan masih seperti rias tren pada saat itu seperti alis yang masih tipis, bedak yang masih terlihat sangat tebal.44 Tata rias yang dipakai para penari jaranan dan para pelaki laki laki terdapat perbedaan, jika penari perempuan dirias dengan gagah berani namun tetap anggun, untuk tata rias pada penari jaranan laki laki diberikan tambahan aksen godek atau rambut disisi kiri dan kanan dekat dengan telingan. Selain itu juga ditambahkan aksen kumis atau gambaran kumis yang dibaut dari pensil alis supaya terkesan lebih gagah. Sedangkan pada grup Jaranan tempo sekarang sudah menggunakan busana yang digunakan sudah terlihat sangat modern seperti yang ada pada masa sekarang dengan atasan tanpa lengan, serta penggunaan aksesoris yang lebih banyak. Riasan yang digunakan pada grup Jaranan pada zaman sekarang juga sudah terlihat mengikuti perkembangan zaman seperti alis yang terlihat rapi dan sedikit tebal, bedak yang digunakan sudah kontras dengan warna kulit dan lain-lain.45

44 Wawancara dengan Bapak Bayu Kriswanto, seorang seniman sekaligus Kasi kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, tanggal 22 Desember 2020. 45 Ibid.

95

Sejarah Perkembangan Kesenian Jaranan

Pada zaman pra kemerdekaan dan pasca kemerdekaan Nampak jarang penari jaranan perempuan di kelompok kesenian jaranan. Minimnya bukti dokumentasi atau foto pendukung yang memperlihatkan penari jaranan perempuan dan hiasan busananya. Hingga antara tahun 1990 an para penari jaranan perempuan mulai muncul. Akan tetapi tidak lebih dominan dari para penari jaranan laki laki, jumlahnya masih terbatas untuk penari perempuan. Hingga pada akhirnya antara tahun 1997 mulai muncul tarian kesenian jaranan berbagai pakem seperti jaranan jawa, sentherewe, pegon, hingga jaranan campursari yang para penarinya terdapat kelompok tari perempuan. Dapat dilihat diberbagai VCD atau DVD yang diperjual belikan dipasaran. Pada kurun waktu antara tahun 1997 hingga sekarang, busana para penari jaranan sangatlah beragam. Seperti contohnya Rompi yang digunakan oleh para penari Jaranan hamper sama dengan rompi yang digunakan oleh para penari tari remo Surabaya. Dimana dalam ornament atau aksen rompinya, terdapat ragam hias dengan garis yang tegas dan tajam. Ornamen pada rompi, terbuat dari manikmanik yang disusun dengan detail oleh para penjahit baju kesenian jaranan di Tulungagung sedemikian apik.

D. MUSIK PENGIRING 1. GONG Secara umum gong merupakan alat music yang terbuat dari logam dengan permukaan bundar. Gong dapat digantung pada bingkai atau diletakkan berjajar pada sebuah rak. Bahkan ada juga yang diletakkan diatas tikar. Selain itu ada juga yang digenggam yang dimainkan sambil berjalan atau menari. Gong yang memiliki suara rendah, ditabuh dengan pemukul kayu yang ujungnya dibalut dengan karet, kain katun, atau benang yang dililitkan pada kayu.

96

Alif Bayu Mahardhika

2. BONANG Bonang adalah salah satu alat music yang termasuk ke dalam kelompok gamelan. Alat music bonang merupakan alat music tradisional yang berasal dari tanah jawa. Alat musik bonang juga biasa dikenal sebagai sebutan pot atau ceret. Ada dua jenis bonang yang sering dimainkan para pemusik yaitu bonang pelog dan bonang slendro. Bonang biasanya ditabuh dengan menggunakan tongkat yang berlapis sama halnya dengan gong tadi. Alat musik bonang biasanya terbuat dari perunggu. Namun ada juga yang terbuat dari besi yang dicampur dengan logam. Bonang yang dipakai pada acara pertunjukan kesenian jaranan adalah bermacam macam, salah satunya bonang barung. Bonang barung merupakan jenis bonang yang memiliki ukuran sedang. Bonang barung memiliki oktaf sedang hingga tinggi. Bonang barung ini menjadi salah satu instrument yang sangat penting sebagai pembuka pertunjukan kesenian jaranan bebarengan dengan dibunyikannya slompret atau terompet jaranan. Bonang barung dimainkan sebagai menuntun lagu lagu instrument jawa serta mampu mengantisipasi nada nada yang akan datang seperti pergantian lagu langgam jawa dengan dangdut atau campursari pada pertunjukan kesenian jaranan. 3. SULING Suling merupakan alat musik tiup yang pada umumnya terbuat dari bambu. Seiring dengan perkembangan jaman alat musik suling tidak hanya terbuat dari bambu, namun juga terbuat dari bahan bahan seperti perak dan emas. Alat musik suling merupakan alat musi yang tergolong dalam alat musik yang harmonis. Alat music harmonis merupakan merupakan alat musik yang biasa digunakan untuk memainkan lagu-lagu campursari dan dangdut. Tak jarang juga para pemusik pengiring jaranan memainkan suling sebagai pengiring sinden menyanyikan langgam jawa. 97

Sejarah Perkembangan Kesenian Jaranan

Sebagai alat musik yang tergolong dalam alat musik harmonis, suling merupakan salah satu alat music pelengkap ketika terdapat alat musik modern yang tergabung dalam kelompok alat music jaranan, seperti halnya keyboard. Hal ini bertujuan agar musik yang dialunkan bersamaan dengan gamelan dan alat music yang lainnya lebih terkesan apik dan pada saat pertunjukan music yang dibawakan juga akan lebih berkelas dan berkualitas. 4. KENONG Alat musik kenong dapat diartikan sebagai salah satu alat music yang menyusun pada kelompok gamelan bertempo jawa pada pertunjukan kesenian jaranan diberbagai pakem atau aliran. Kenong berfungsi sebagai penentu batas batas gatra, serta mempertegas irama. Alat musik ini dipukul menggunakan alat pemukul kayu yang dililitkan dengan kain. Jumlah kenong dalam sebuah set instrumental gamelan jaranan biasanya lebih dari enam buah, da nada pula yang berjumlah sepuluh buah. Kenong pada kesenian jaranan disusun pada pangkon berupa kayu keras yang dialasi dengan tali, sehingga pada saat dipukul kenong tidak akan bergoyang ke samping namun dapat bergoyang ke atas dan kebawah. Sehingga kenong dapat menghasilkan suara yang merdu pada kelompok gamelan. 5. SLOMPRET Ciri khas dari sebuah pertunjukan kesenian jaran di kawasan Kabupaten Tulungagung adalah instrument slompret. Instrument pada slompret adalah instrument yang paling penting dalam pertunjukan Jaranan. Bunyi yang dihasilkan dari Slompret memberikan suatu bentuk melodi suara yang mampu membangun intensitas dalam pertunjukan jaranan, hal ini menjadikan keunikan dalam musik tari Jaranan.

98

Alif Bayu Mahardhika

Pada instrumen yang dihasilkan oleh slompret memiliki dua titi laras, yaitu titi laras slendro dan titi laras pelog. Titi laras slendro yaitu sistem urutan nada nada yang terdiri dari lima nada dalam satu tembang dengan pola jarak nada yang hampir sama rata. Nada yang terdapat dalam laras slendro yaitu siji atau ji (1), loro atau ro (2), telu atau lu (3), limo atau mo (5), dan enema tau nem (6). Sedangkan titi laras yang terdapat dalam pelog yaitu suatu sistem urutan nada-nada yang terdiri dari lima atau tujuh nada dalam satu tembang dengan pola jarak nada yang hampir tidak sama rata, yang terdiri dari ji, ro, lu, pat, mo, nem, dan pi.46 Slompret merupakan salah satu instrumen tiup dalam iringan Jaranan selain dari suling. slompret sebagai melodi untuk kebutuhan suasana pertunjukan. Instrumen tiup tersebut sebagai melodi yang disesuaikan dengan laras. Dalam sebuah kelompok jaranan hanya menggunakan satu orang pemain slompret dengan suara yang melengking dan keras. Namun, tak jarang juga para kelompok jaranan menggunakan dua orang pemain slompret sebagai cadangan. Untuk tingkat kekerasan suara tersebut bisa menjadi sebuah identitas sebuah pertunjukan jaranan. Bentuk penyajian dari instrument slompret tidak bergantung pada permainan instrumen kendang, gong, dan bonang sehingga kemandirian dalam sebuah penyajian. Pada pertunjukan Kesenian Jaranan di Tulungagung, keberadaan instrumen musik tari merupakan satu kesatuan bentuk yang saling melengkapi dalam upaya menghidupkan dan membangun suasana pertunjukkan yang mengesankan bagi para penonton yang sudah menonton. Musik tari dalam sebuah pertunjukkan kesenian jaranan akan sangat mempengaruhi ruh penari jaranan maupun nilai dalam tari agar lebih terkesan 46 Id.m.wikipedia.org. Alat Musik Gamelan, Disakses pada tanggal 15 Desember 2020.

99

Sejarah Perkembangan Kesenian Jaranan

hidup. Sehingga keberadaan slompret yang dibunyikan akan sangat berharga untuk mengungkap bagaimana hubungan musik tari dengan kesenian jaranan itu sendiri. 6. SARON Alat musik saron bukanlah alat music yang dapat dimainkan seorang diri atau dengan kata lain dimainkan dengan dua orang. Karena instrument musik ini umumnya dimainkan menjadi satu kesatuan dari kesenian gamelan jawa. Biasanya saron turut dimainkan dengan gong, rebab, dan kenong. Alat musik saron memiliki ukuran yang memiliki oktaf sedang dan juga memiliki oktaf yang tinggi. Alat musik saron juga sering disebut sebagai ricik. Didalam kesenian jaranan, biasanya memiliki dua pasang saron. Bentuk alat musik dari saron biasanya dibuat dengan menggunakan bahan dasar kayu, dan pukulannya dibentuk seperti palu. Saron dalam mengikuti iringan tarian kesenian jaranan selalu berkesinambungan dengan kendang. Cepat lambat dank eras lemah seorang penabuh saron bergantung pada komando dari kendang dan gending atau langgam yang dinyanyikan. Cara memainkan saron yaitu tangan kanan memukul wilahan atau lembaran logam menggunakan tabuh kemudian tangan kiri memencet wilahan yang dipukul sebelumnya tadi bertujuan untuk menghilangkan dengungan yang tersisa akibat dari pemukulan nada sebelumnya. 7. KENDANG Kendang merupakan salah satu alat musik yang begitu dikenal oleh banyak orang. Kendang alah alat music yang dimainkan dengan cara ditabuh atau dipukul. Alat musik tabuh ini terbuat dari kayu, berbentuk tabung yang ditutup dengan kulit binatang pada kedua alasnya. Kendang juga memiliki sebutan lain yaitu gendang. Semakin cepat kendang ditabuh, maka semakin cepat pula irama yang dimainkan.

100

Alif Bayu Mahardhika

Hal unik yang ada pada kesenian jaranan adalah adanya kendang sabet. Kendang sabet juga dapat didengarkan pada pementasan wayang kulit. Kendang berjenis satu ini akan dimainkan saat pertunjukan kesenian jaranan mulai pada puncak kesurupan atau “ndadi”. Begitu juga saat ditampilkan pada wayang kulit kendang ini dimainkan saat pertunjukan peperangan wayang kulit. Karena sesuai dengan nama kendnag ini yaitu sabet yang berarti keras dan peperangan.47 Maka umumnya kendang ini akan dipukul oleh seorang pemain kendang dengan alunan cepat dan keras. Hal ini dilakukan untuk membangun suasana yang menegangkan pada acara pementasan kesenian jaranan. Sehingga para penonton pertunjukan semakin terbawa dengan suasana yang menegangkan. 8. KENDANG DANGDUT Kendang dangdut digunakan sebagais alah satu instrument pengiring yang dipakai saat pementasan kesenian jaranan. Khususnya ada pada kesenian jaranan campursari. Kendang dangdut ini dibunyikan saat tarian sudah sampai pertengahan acara. Para konseptor pertunjukan kesenian jaranan memberikan jeda dangdutan sebagai penghibur penonton. Pada saat itulah pergantian instrument gamelan dengan instrument music modern termasuk kendnag dangdut dimainkan. Kendang dangdut terbuat dari kayu yang berbentuk tabung dengan ditutup kulit binantang. Proses pembuatan dan bahannya hamper sama dengan kendnag yang mengiringi gamelan. Akan tetapi jika diperhatikan lebih seksama, kendnag dangdut lebih pendek ukurannya dan diletakkan di atas penyangga yang terbuat dari besi. Para penabuh kendang dangdut memainkan kendang tersebut dengan duduk dikursi. Pada zaman sekarang, juga terdapat kendnag dangdut 47 Wawancara dengan Bapak Bayu Kriswanto, seorang seniman sekaligus Kasi kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, tanggal 22 Desember 2020.

101

Sejarah Perkembangan Kesenian Jaranan

elektrik yang berbentuk seperti piringan persegi yang ditopangkan pada besi penyangga. 9. GAMBANG Gambang adalah alat music tradisional yang terdiri dari 18 bilah kayu atau bambu yang dimainkan dengan cara dipukul. Kemunculan alunan musik gambang pada kesenian jaranan bisa dibilang minim. Namun keberadaan gambang selalu ada dalam instrumen gamelan yang ada pada pementasan jaranan. Keterpaduan suara gambang walaupun minim, akan tetapi dapat memberikan keharmonisan ketika gamelan dibunyikan. 10. SLENTHEM Slenthem adalah salah satu instrument gamelan dan terdiri dari lembaran logam tipis yang diuntai dengan tali dan direntangkan di atas tabung tabung dan menghasilkan dengungan nada yang indah. Cara memainkan slenthem sama seperti saron. Tangan kanan mengayunkan pemukulnya, Sedangkan tangan kiri melakukan “pathet” yakni menahan getaran yang terjadi di lembaran logam. Didalam menabuh slenthem maka lebih diperlukan naluri maupun perasaan si penabuh agar menimbulkan gema maupun bentuk dengungan dengan kesesuaian gerak tari jaranan dengan indah.

E. SESAJEN Secara etimologis atau asal usul kata, kata sesajen atau yang biasa sajen berasal dari bahasa Jawa saji (lingga). Sesaji merupakan aktualisasi dari pikiran, keinginan, dan perasaan pelaku untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhan.48 Sesaji juga merupakan wacana simbol yang digunakan sebagai sarana untuk negosiasi spiritual kepada hal-hal 48

Ria Putri Susanti, 2018. Jurnal: “Makna Simbolik Sesajen”. Universitas

Riau.

102

Alif Bayu Mahardhika

gaib. Hal ini dilakukan agar makhluk-makhluk halus di atas kekuatan manusia tidak mengganggu. Dengan pemberian makan secara simbolik kepada roh halus, diharapkan roh tersebut akan jinak, dan mau membantu hidup manusia. Sesajen/sajian adalah suatu rangkaian makanan kecil, benda-benda kecil, bunga-bungaan serta barang hiasan yang tentunya disusun menuruti konsepsi keagamaan sehingga merupakan lambang (simbol) yang mengandung arti. Dengan mempersembahkan sajian itu kepada Tuhan, dewa, atau makhluk halus penghuni alam gaib lainnya manusia bermaksud berkomunikasi dengan makhlukmakhluk halus.49 Sajen sebagai unsur penting dalam tradisi ritual masyarakat Jawa, melambangkan hubungan antara manusia dengan makhluk halus. Sajen berfungsi untuk mengatasi masa krisis dalam hidup, menjaga keselarasan alam dan juga sebagai media bagi penduduk untuk berhubungan dengan arwah nenek moyang mereka. Sajen sebagai bentuk penghormatan terhadap makhluk halus yang telah menjaga kesejahteraan hidup mereka. Sajen menurut Kodiran merupakan persembahan untuk makhluk-makhluk halus, biasanya terdiri dari makanan, bunga, uang, hingga tembakau.50 Dengan adanya sesajen dalam pertunjukan kesenian jaranan merupakan suatu bentuk persembahan kepada alam semesta termasuk persembahan kepada roh para leluhur setempat dan juga sebagai sarana untuk berinteraksi antar dimensi alam terhadap para leluhur. Adanya saranan sesajen pada saat kelompok kesenian jaranan mengalami kesurupan merupakan suatu hal yang harus ada pada arena pertunjukan. Adanya sesajen digunakan sebagai pelengkap dalam pertunjukan kesenian jaranan. Setelah pertunjukan kesenian jaranan usai, 49

Riau.

Ria Putri Susanti, 2018. Jurnal: “Makna Simbolik Sesajen”. Universitas

50 Herusatoto, Budiono. 1987. Simbolisme dalam Islam Jawa. Yogyakarta: Haninda

103

Sejarah Perkembangan Kesenian Jaranan

sesajen tidak difungsikan lagi atau hanya sebatas waktu pertunjukan saja.51 Nilai-nilai budaya lokal, salah satunya adalah kesenian jaranan merupakan sesuatu yang penting dan harus dilestarikan, karena budaya lokal merupakan salah satu inventaris budaya nasional. Namun, seiring dengan perkembangan zaman, teknologi dan arus modernisasi menyebabkan banyak orang terutama generasi muda yang akan menjadi penerus bangsa melupakan budaya lokal. Jika budaya lokal terkikis dengan budaya luar, lama kelamaan budaya lokal akan punah. Jika kebudayaan lokal punah maka salah satu budaya nasional akan hilang dan resikonya identitas kita sebagai bangsa akan sulit diakui. Budaya-budaya lokal merupakan kekayaan terbesar yang dimiliki bangsa Indonesia, oleh karena itu penting kita sebagai bangsa Indonesia untuk melestarikan kebudayaan-kebudayaan lokal salah satunya adalah kesenian jaranan, karena kesenian jaranan ini tidak dimiliki didaerah lain hanya ada di Indonesia. Sesajen dalam kesenian jaranan merupakan bagian dari budaya tradisional yang kurang mendapat perhatian. 52Sebagian dari mereka menganggap sesajen itu hanyalah tradisi dan perlengkapan dalam pertunjukan jaranan. Bahkan bagi sebagian orang yang tidak mempercayai menganggap sesajen sebagai hal yang magis dan aneh. Bentuk kearifan lokal yang dapat disimbolkan dalam sebuah sesajen harus dipelajari dalam artian pemaknaan bukan disalahkan karena itu adalah kearifan budaya lokal yang diturunkan oleh para pendahulu kita. Adanya sesajen didalam pertunjukan kesenian jaranan di Tulungagung merupakan perlengkapan yang wajib disediakan sebelum pertunjukan jaranan dimulai. Hal ini 51 Ria Putri Susanti, 2018. Jurnal:“Makna Simbolik Sesajen”. Universitas Riau. Hlm 7. 52 Salamun Kaulam, 2012. “Simbolisme dalam Kesenian Jaranan” dalam URNA Jurnal Seni Rupa, Vol. 1, No. 2, 127-138, Hlm 131.

104

Alif Bayu Mahardhika

dikarenakan sesajen adalah syarat dan ciri khas dalam setiap pertunjukan jaranan. Jika tidak ada sesajen bukanlah kesenian jaranan. Sesajen merupakan suatu media yang digunakan oleh dukun untuk mengundang leluhur-leluhur yang nantinya akan memasuki para pemain jaranan, sehingga para pemain berada di bawah naluri kesadaran, menjadi lebih kuat dan bertingkah yang lucu. Tanpa sesajen yang disediakan para pemain jaranan tidak akan bisa melakonkan perannya dalam pertunjukan itu, misalnya peran sebagai barongan yang menyukai ayam ingkung, peran sebagai hewan rakus yang memakan makanan mentah, peran sebagai wanita yang suka berdandan dan sebagainya. Sesajen yang kerap dipersiapkan saat ada pementasan kesenian jaranan di Tulungagung antara lain ayam ingkung, pisang raja, bubur merah dan putih, telur, kelapa muda, wedang atau minuman panas. biasanya wedang teh manis, teh pahit, kopi manis dan kopi pahit, air putih, beras kuning, jajanan pasar yang berupa makananmakanan tradisional, tumpeng, kembang sritaman, dupa cina, menyan dan lain-lain. Masing-masing dari jenis perlengkapan sesajen yang digunakaan tersebut tentunya mengandung makna tersendiri. Dalam pertunjukan kesenian jaranan di kawasan Tulungagung, tiap tiap umbu rampe atau bagian dari sesajen diyakini memiliki makna simbolik yang unik. Salah satunya yaitu keberadaan kemenyan yang dibakar saat prosesi jaranan masuk dalam sesi “ndadi”. Kemenyan dalam sesajen pada pementasan jaranan memiliki makna sebagai penghubung ataupun perantara antara manusia dengan Tuhan. Dalam sesajen yang digunakan pada pementasan kesenian jaranan, juga terdapat pisang raja. Pisang raja mengandung harapan kemakmuran. Perlengkapan sesajen selanjutnya adalah jajanan pasar, makna jajanan pasar dalam sesajen yaitu menggambarkan bahwa kita hidup di dunia ini memiliki keragaman yang bermacam-macam. 105

Sejarah Perkembangan Kesenian Jaranan

Selanjutnya, yang ada di dalam sesajen dan selalu dekat dengan keberadaan kemenyan yaitu ayam ingkung. Penggunaan ayam ingkung dalam sesajen kesenian jaranan merupakan simbol sebagai kendaraan perantara menghadap Tuhan agar segala permohonan yang dipanjatkan terkabul. Selain itu ayam ingkung memiliki makna sebagai suatu pengorbanan manusia secara tulus yang dipersembahkan kepada Tuhan yang sudah memberikan keselamatan dan perlindungan kepada manusia. Didalam pertunjukan pementasan kesenian jaranan di kawasan Tulungagung, pasti para dukun juga mempersiapkan wedang atau minuman hangat seperti kopi pahit atau teh tawar. Wedang merupakan salah satu perlengkapan yang ada pada sesajen yang memiliki makna sebagai sesuatu yang dapat membangkitkan kesadaran penuh pada saat diri tengah mengantuk dan gairah untuk melakukan aktivitas menurun. Adanya tembakau lintingan pada sesajen melambangkan kecocokan hati, ikan asin sebagai simbol keprihatinan dalam diri manusia yang harus ditanamkan akan dapat salaing mengerti satu sama lain. Selanjutnya telur pada pencok bakal mngandung makna awal mula terjadinya manusia di dalam rahim sorang ibu, cangkang telur yang menjadi pelindung bagian dalam telur diibaratkan layaknya rahim ibu yang sedang mengandung anaknya. Selanjutnya umbu rampe pada sesajen adalah beras kuning. pada sesajen pertunjukan kesenian jaranan memiliki makna yaitu pada saat ditaburkan oleh pawang diharapkan agar segala sesuatu yang jahat, aura-aura negatif akan hilang. Artinya membuang segala sesuatu yang buruk dan menjauhkan dari hal hal yang bersifat negatif.

106

Alif Bayu Mahardhika

BAB V PERKEMBANGAN KESENIAN JARANAN DI TULUNGAGUNG

Cepat ataupun lambat, sebuah tatanan kehidupan sosial akan berubah seiring perkembangan waktu. Perubahan akan selalu ada di dalam sebuah tatanan kehidupan. Sebuah tatanan senantiasa akan disesuaikan dan turut menyesuaikan terhadap berbagai aspek kehidupan. Mulai dari teknologi hingga struktur kehidupan yang serba modern. Sebuah kesenian ataupun kebudayaan juga turut jadi salah satu aspek didalam perubahan struktur kemasyarakatan yang lebih modern. Adanya peradaban yang baru, tidak akan menjadi penghalang dalam terus melestarikan sebuah kesenian. Justru dengan perkembangnya Ilmu Pengetahuan dan Teknologi yang ada saat kini akan menjadikan sebuah seni menjadi diperhatikan dengan takaran yang modern namun tidak menghilangkan aksen seni tersebut.53

53 Trisakti._ Jurnal: Bentuk dan fungsi Seni Pertunjukan Jaranan Dalam Budaya Masyarakat Jawa Timur. Universitas Negeri Surabaya.

107

Sejarah Perkembangan Kesenian Jaranan

Lambat laun dengan adanya suatu paguyupan atau sanggar seni jaranan, pasti aka nada suatu bentuk perubahan didalamnya. Berbagai bentuk perubahan dapat didasari dari internal maupun external. Bisa diambil contoh bahwa suatu sanggar seni jaranan sentherewe terdapat konflik internal, maka dengan sendirinya akan merubah tatanan sebelumnya. Begitu juga dengan adanya konflik eksternal, akan adanya kecemburuan sosial dengan antar sanggar seni jaranan yang lain akan membuat sanggar tersebut berpacu untuk melakukan perubahan dan juga inovasi baru. Hal ini dilakukan dengan catatan tidak menghilangkan aksen jaranan yang diambilnya Seni khususnya kesenian jaranan Tulungagung senantiasa akan terus dan tetap bisa membaur pada kehidupan sosial masyarakat kapanpun dan dimanapun. Kondisi masyarakat yang cenderung berubah, seperti perilaku hidup yang serba konsumtif dan serba instan adalah konsekuensi dari adanya berbagai perubahan kondisi kehidupan sosial di zaman modern ini. Akan tetapi, dari berbagai perubahan yang ada, masyarakat banyak yang tidak menghilangkan kesenian daerahnya dan tetap menganggap sebuah seni sebagai wujud anugrah yang harus tetap dijaga dan dilestarikan.54 Melalui berbagai bentuk media yang tersedia saat ini, seperti handphone pintar, tablet, notebook dan media yang sejenis lainnya akan memudahkan masyarakat untuk mengakses berbagai pertunjukan pertunjukan seni di laman video streaming ataupun Youtube. Mereka akan bisa tetap menyaksikan berbagai kesenian yang mereka sukai melalui gawai yang mereka punya saat ini. Hal ini memudahkan mereka untuk tetap mengapresiasi sebuah karya seni. Namun juga harus perlu disadari bersama. Menyaksikan seni pertunjukan secara langsung dan dapat mengapresiasi seni secara langsung akan lebih bagus dan 54 Muhammad Tradiska Briliano. 2018. Skripsi: Jaranan Sebagai Identitas Sosial Warga Desa Bukur Kecamatan Sumbergempol Kabupaten Tulungagung Jawa Timur. Universitas Muhammadiyah Malang. Hlm 20.

108

Alif Bayu Mahardhika

lebih bisa menghargai jerih payah para seniman dalam turut serta melestarikan sebuah kesenian.

A. KESENIAN JARANAN DI TULUNGAGUNG TAHUN 1995 SAMPAI 2005 M Kesenian jaranan di Tulungagung pada tahun 1995 masih belum marak. Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan pada tanggal 30 Oktober 2020 pada salah satu seniman kesenian jaranan di Tulungagung, yaitu Bapak Sujarno memberikan penjelasan bahwasannya kesenian jaranan kisaran tahun 1995 masih dalam proses perkumpulan saja. Tidak bermaksut untuk persiapan pentas apalagi dipersiapkan dalam bentuk pengemasan VCD.

Gambar V.1: Busana dan perlengkapan penari jaranan antara tahun 1995 hingga 2005.55

Hingga pada akhirnya, pada tahun 1997 hingga 2000 an munculah salah satu sanggar seni jaranan yang bisa 55 Wawancara, dokumentasi kelompok jaranan Safitri Putro, tanggal 30 Oktober 2020. Pukul 15.30 WIB.

109

Sejarah Perkembangan Kesenian Jaranan

dibilang sedang booming pada saat itu, yaitu Turonggo safitri Putro. Jaranan Turonggo safitri putro ini merupakan jaranan yang beraliran sentherewe. Boomingnya kesenian jaranan pada kala itu ditandai dengan beredarnya VCD pada lapak lapak penjual VCD. Dari situlah, muncul berbagai kelompok jaranan yang tersebar di wilayah Tulungagung. Dengan adanya pementasanan kesenian jaranan yang dimasukan kedalam VCD tersebut, nampaknya sangat menggugah minta seniman lainnya untuk mengadakan pementasan dan diabadikan dalam bentuk VCD.56 Keberadaan VCD pada masa itu sangatlah dibilang langka dan sangat berharga. Oleh karena itu, para pealku kesenian jaranan merasa sangat senag apabila kesenian jaranan sudah masuk pada tahap recording atau perekaman dalam bentuk VCD. Untuk harga VCD yang dipasarkan di kalangan masyarakat berkisar RP. 5.000 hingga RP. 10.000 per keeping VCD. Dengan harga yang relative mahal kala itu masyarakat tetap membeli VCD pertunjukan kesenian jaranan yang sedang booming kala itu.57 Untuk kualitas gambar pada kala itu cukuplah bagus, walaupun gradasi warna pada video ada yang terlalu gelap. Namun hal tersebut tidak menjadi masalah. Biasanya para kelompok sanggar seni jaranan memiliki seri seri pertunjukan berikutnya yang disebut dengan “Volume”. Adanya kemunculan pertunjukan kesenian jaranan berseri ini dimaksutkan adalah untuk memperbarui pertunjukan ketika ada kekurangan pada seri sebelumnya. Selain itu, tujuan untuk melakukan pertunjukan kesenian jaranan berseri adalah memperbarui perbendaharaan lagu yang sedang diminati masyarakat. Tak heran, pada periode 1998 hingga 2005 banyak kesenian jaranan bermunculan 56 Wawancara dengan Bapak Bayu Kriswanto, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata. Tangaal 22 Oktober 2020. 57 Wawancara dengan Bapak Bayu Kriswanto, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata. Tangaal 22 Desember 2020.

110

Alif Bayu Mahardhika

dengan pakem aliran sentherewe dan juga campursari. Kesenian jaranan berpakem sentherewe dan juga campursari sangatlah harus selalu memperbaharui perbendaharaan lagu lagu baru. Hal ini dikarenakan dalam alur pertunjukannya, kesenian jaranan tersebut tidak hanya menampilakan rupa tari jaranan saja, namun juga turut menampilkan campursarian yang dinyanyikan oleh para penyanyi dan pesinden. Periode tahun 2000-an nampaknya masa dimana Kesenian jaranan Tulungagung mengalami masa kejayaan di era perindustrian hiburan dan juga kebudayaan. Masa kejayaan ini dimiliki oleh para pegiat seni jaranan berpakem sentherewe dan juga campursari. popularitas Jaranan Sentherewe dan juga campursari di dukung oleh beberapa factor pendukung seperti halnya: kesenian Jaranan Sentherewe dan kesenian jaranan campursari sangat terbuka akan perkembangan arus minat pasar, kesenian jaranan sentherewe dan juga kesenian jaranan campursari sangat menerima berbagai pembaruan dari luar dan juga dalam. Hal ini dimaksutkan sebagai sarana pengembangan kesenian selalu fleksibel disegala zaman. Hal ini lah yang bisa membuat dari kemunculan kesenian Jaranan Sentherewe dan kesenian jaranan campursari tidak punah ataupun hilang walaupun telah melewati berbagai periode perkembangan. Seiring berjalannya waktu, Kesenian Jaranan Sentherewe dan kesenian jaranan campursari semakin bisa menarik hati dan minat nonton dari masyarakat sehingga akhirnya pemerintah tertarik untuk merangkul seniman-seniman komunitas Jaranan di Kabupaten Tulungagung untuk mengembangkan kebudayaan dan juga industri pariwisata di Kabupaten Tulungagung.58

58 Soekito, Janu. 2016. Tokoh Seni/ Budaya Tulungagung. Tulungagung: Percetakan Langgeng. Hlm 74.

111

Sejarah Perkembangan Kesenian Jaranan

Gambar V.2: Pencarian informasi pada Budayawan mengenai Perkembangan jaranan di Tulungagung. Pada tanggal 23 Desember 2020. 59 Pada periode tahun 2000 hingga 2005 kesenian jaranan yang bernuansa kreasi dangdut dan campursari memiliki penggemar yang sangat banyak jika disandingkan dengan kesenian lain seperti jedoran maupun reog kendang. Sehingga hal ini lah yang membuat pemerintah berniat untuk merekrut seniman seniman Jaranan dari berbagai pakem yang ada di Tulungagung untuk mengembangkan kebudayaan dan kepariwisataan. Pada periode ini terjadi beberapa perubahan penampilan penampilan dalam pementasan kesenian Jaranan, beberapa diantara perubahan tersebut adalah pada music pengiring jaranan yang sudah diinovasi dari yang sebelumnya berupa gamelan dengan langgam jawa menjadi kolaborasi antara musik dangdut ataupun campur sari, alat-alat musik pengiringnya pun juga mengalami 59 Wawancara dengan Bapak Bayu Kriswanto, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata. Tangaal 22 Oktober 2020. Pukul 10.00 WIB.

112

Alif Bayu Mahardhika

penambahan seperti adanya drum, gitar elektrik, keyboard dan alat-alat musik modern lainnya. Model busana pun juga tak luput dari perubahan. Perubahan tata busana dengan ditambahkanya aksesoris yang berupa kacamata, dan adegan-adegannya lebih dinamis maupun varitif juga atraktif.60 Kesenian Jaranan Sentherewe juga bisa dipahami dan dapat dimanfaatkan sebagai media untuk menunjang perkembangan kebudaayn dan kepariwisataan di wilayah Kabupaten Tulungagung. Selain itu kesenian Jaranan Sentherewe juga berkembang sesuai dengan kebutuhannya, diantaranya masuknya berbagai unsur musik dangdut maupun campursari. Masuknya berbagai instrumen musik yang lebih modern dan bentuk gerak tari yang lebih atraktif dan juga kreasi baru. Jaranan Sentherewe juga mulai masuk dalam bidang pendidikan dengan dengan dimasukkannya kesenian Jaranan Sentherewe pada ekstrakulikuler disekolah SD, SMP, Hingga SMA yang ada di Kabupaten Tulungagung sehingga pada periode ini lah yang menjadi masa kejayaan dari eksisnya Jaranan Sentherewe dan jaranan campursari di Kawasan Tulungagung. Untuk kesenian jaranan berpakem jawa dan pegon, nampaknya pada periode 1995 hingga 2005 bukanlah masa kejayaannya. Kehadiran kesenian jaranan sentherewe dan juga jaranan campursari lebih dominan dibanding ketenaran jaranan berpakem jawa klasik dan juga pegon. Namun, hal ini bukan berarti kesenian jaranan jawa klasik dan jaranan pegon kehilangan panggungnya. Mereka para pelaku seni jaranan jawa klasik dan jaranan pegon tetap memiliki panggung dan sesi pertunjukan. Hanya saja tidak terlalu seringnya tampil didepan masyarakat.

60 Wawancara dengan Bapak Bayu Kriswanto, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kab. Tulungagung, pada tanggal 22 Desember 2020.

113

Sejarah Perkembangan Kesenian Jaranan

Pada jaranan jawa klasik rupanya sedikit sulit jika dimasukkan unsur unsur modernisasi seperti pemasukan alat music modern disisi alat music gamelan yang menjadi instrument pengirim utama pada kesenian jaranan jawa klasik ini.61 Dari sisi itulah masyarakat kurang tertarik pada kesenian jaranan jawa klasik pada periode ini. Namun, ini akan berbanding terbalik pada periode berikutnya. Setiap hal didalam kehidupan berkesenian selalu ada pasang surut popularitas. Termasuk kesenian jaranan. Hal yang terpenting adalah, para generasi muda untuk tetap melestarikan kesenian jaranan Tulungagung sebagai representasi kearifan local dan sebagai warisan Kebudayaan yang harus dirawat serta dilestarikan. Sehingga pada periode periode berikutnya tetap selalu eksis dan menjadi kesenian yang paling digandrungi masyarakat dari segala kalangan. Pada tahun 1995 hingga tahun 2005, properti yang digunakan sudah sangat beragam. Bentuk jaran yang dipakai saat pementasan juga sudah mulai ada kreatifitas baru. Untuk tata busana yang digunakan para penari kesenian jaranan pada periode ini menggunakan atasan baju berlengan panjang dan bawahan berupa celana pendek. Untuk baju atasan para penari jaranan biasanya masih bercorak bunga dan berwarna cerah. Untuk bentuk udeng pada periode ini sudah mulai ada perkembangan, namun masih cenderung sederhana. Warna udeng yang dipakai para penari jaranan berupa warna gelap yaitu hitam dan coklat. Selain udeng, para penari jaranan baik laki laki maupun perempuan mengenakan alas kaki yang bertali. Tidak tahu persis asal mula kreasi alas kaki bertali digunakan pada penari kesenian jaranan. Namun, hal justru menambah ciri khas penampilan para penari jaranan pada periode tersebut.

61 Hanifati Alifa Radhia.2016 .jurnal: Dinamika Seni Pertunjukan Jaran Kepang Di Kota Malang. Jurnal Kajian Seni. Volume 02, No. 02, : 164-177.

114

Alif Bayu Mahardhika

Dari sisi tata rias yang digunakan para penari kesenian jaranan pada periode tahun 2000 an masih menggunakan riasan yang terlalu menor dengan warna bedak yang terkadang tidak disesuaikan dengan warna kulit para penari. Pemberian shading warna merah pada pipi para penari sangat berlebihan. Untuk model alis para penari era tahun 2000 an masih berbentuk tipis dan para penari perempuan tidak mengenakan hiasan bulu mata palsu. Tata panggung pada periode ini sudah menggunakan background background bak candi. Adanya background yang diletakkan dipanggung ini sebagai pemisah antara arena pentas penari jaranan dan juga para pemusik. Pada periode ini hampir disetiap pementasan kesenian jaranan menggunakan panggung baik itu jaranan jawa, jaranan pegon, jaranan sentherewe, maupun jaranan campursari. Dari segi pencahayaan pada panggung kesenian jaranan pada periode ini masih belum ada fariasi seperti halnya lampu sorot. Pada periode ini, terdapat perbandingan jumlah kelompok kesenian jaranan dengan masing masing pakem gerakan antara lain: No.

PAKEM GERAKAN

JUMLAH SANGGAR

1.

Jawa Klasik

37

2.

Sentherewe

26

3.

Pegon

10

4.

Campursari

30

Tabel V.1: Tabel jumlah kelompok jaranan berdasarkan pakem gerakan.62

62 Verifikasi data dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kab. Tulungagung tahun 2005.

115

Sejarah Perkembangan Kesenian Jaranan

Pengambilan data tesebut dimulai pada kurun waktu 2000 hingga 2005. Untuk periode tahun 1995 hingga tahun 1999 banyak para sanggar yang tercatat di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Tulungagung yang tidak diklasifikasikan berdasarkan pakem gerakannya. Sehingga untuk pencarian data kembali juga cukup sulit.

B. KESENIAN JARANAN DI TULUNGAGUNG TAHUN 2006 SAMPAI 2015 M Perkembangan kesenian jaranan yang ada di Kawasan Tulungagung berlanjut pada periode tahun 2006 hingga tahun 2015. Pada periode ini para seniman jaranan di kawasan Tulungagung masih menggunakan media VCD dan DVD sebagai saranan penyaluran seni kepada masyarakatat luas. Adanya VCD dan DVD kesenian jaranan menambah khasanah kesenian jaranan di industry hiburan masyarakat. Hampir disetiap lapak lapak VCD yang berada di sekitar Tulungagung sering memutar pertunjukan kesenian jaranan. Pada tahun 2006 hingga tahun 2015 kesenian jaranan jawa klasik dan kesenian jaranan pegon mulai naik pamor kembali. Para seniman kesenain jaranan jawa klasik dan jaranan pegon melakukan berbagai inoasi inovasi baru guna mengikuti permintaan pasar di industri hiburan. Contohnya, seniman jaranan jawa klasik mengangkat lagu lagu yang tenar saat itu dengan tetap menggunakan alunan gamelan jawa. Hal inilah yang menjadi daya tarik tersendiri para penikmat seni, yaitu masyarakat. Lagu lagu yang ditampilkan pada pementasan kesenian jaranan mulai memasukkan unsur lagu dangdut campursari seperti klinci ucul dan lain sebagainnya.

116

Alif Bayu Mahardhika

Gambar V.3: Penampilan festifal jaranan antara tahun 2010 an.63 Kehadiran kembali kesenian jaranan jawa klasik pada periode ini sama sekali tidak mengganggu eksistensi kesenian jaranan yang sudah memiliki nama panggung sebelumnya. Justru pada tahun 2010 hingga tahun 2015 semakin banyak dan beragam kelompok kesenian jaranan yang turut tampil dalam berbagai event baik yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata maupun event hajatan masyarakat. Keberagaman kesenian jaranan pada periode ini tidaklah menjadi saingan antar satu kelompok sanggar dengan yang lainnya. Inilah yang menjadi kunci kesenian jaranan di Tulungagung tetap eksis hingga saat ini. Namun, tiap periode perlu diketahui bersama bahwa selalu ada perubahan. Entah perubahan itu bernilai positif atau justru negatif. Ada beberapa sanggar yang mengalami konflik internal para anggotanya yang membuat berakhirnya atau berhentinya sanggar tersebut. Contohnya yaitu grup kesenian jaranan yang ada di kawasan 63 Dokumentasi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kab. Tulungagung tahun 2010.

117

Sejarah Perkembangan Kesenian Jaranan

Boyolangu, yaitu turonggo safitri putro. Pada tahun 2012 grup Jaranan Safitri Putro sempat mengalami kendala pada bagian manajemen. Perpecahan dan perseteruan yang terjadi membuat grup Jaranan Safitri Putro akhirnya vakum untuk sementara waktu, hingga pada tahun 2018 grup tersebut kembali berdiri lagi dengan nama baru yaitu grup Jaranan New Safitri Putro yang diketuai oleh Bapak Purwanto sendiri. Untuk tata panggung kesenian jaranan pada tahun ini lebih berfariasi. Tidak selalu kesenian jaranan sentherewe tampil berada diatas panggung, kesenian jaranan sentherewe pada periode ini juga tampil tanpa panggung atau langsung beralaskan tanah. Biasanya penampilan kesenian jaranan yang tampil di lapangan atau halaman beralaskan tanah hanyalah jaranan jawa saja, namun pada periode ini jaranan jawa juga tampil diatas panggung besar. Inti dari tata panggung periode ini adalah lebih menyesuaikan dengan tempat penyelenggaraan pmenetasan dan fleksibilitas para penari jaranan agar selalu leluasa dalam melakukan gerak tari. Untuk pengemasan pertunjukan pada periode ini sudah sangat maju dibanding dengan periode sebelumnya. Penggunaan VCD dan DVD tetap ada, namun para pelaku seni jaranan juga melakukan beragam inovasi salah satunya memasukkan video kepada Youtube. Namun, kultur masyarakat yang belum begitu mengerti akan adanya pertunjukan melalui Youtube, hal ini dikarenakan masyarakat lebih memilih menonton langung pertunjukan. Untuk atat rais dan tata buasan pada periode ini sudah sangat mengalami peningkatan dari pada periode sebelumnya. Para penari kesenian jaranan sudah mulai meninggalkan pakaian berlengan panjang dan digantikan pakaian yang tanpa lengan, namun pada sisi depan ditutup dengan hiasan aksesoris dan pada lengan diberikan gelang lengan. Untuk warna udeng yang digunakan sudah sangat beragam. Namun belum mengalami perubahan bentuk, hanya saja perubahan terjadi pada warna udeng yang 118

Alif Bayu Mahardhika

sebelumnya berwarna gelap seperti hitam atau coklat, mengalami perubahan warna berwarna terang. Para penari kesenian jaranan juga mulai meninggalkan alas kaki bertali yang pernah tenar pada periode sebelumnya, mereka para penari lebih leluasa menari tanpa menggunakan alas kaki. Untuk jumlah pengklasifikasian berdasarkan tiap tiap pakem gerakan kesenian jaranan di Tulungagung pada periode ini tidak ada penambahan yang begitu signifikan. Jumlah kelompok sanggar seni jaranan yang ada pada periode ini sama dengan periode sebelumnya. Penambahan kelompok sanggar seni jaranan berbagai macam pakem atau aliran ini kembali muncul dan terdaftar pada kisaran tahun 2015 hingga tahun 2020.

C. KESENIAN JARANAN DI TULUNGAGUNG TAHUN 2016 SAMPAI 2020 Kesenian jaranan di wilayah Tulungagung pada tahun 2016-an sudah mengalami perkembangan di berbagai aspek. Dari segi kemasan pertunjukan misalnya, para konseptor kesenian jaranan mulai mengadakan berbagai inovasi inovasi dalam durasi penampilan. Misalnya kesenian jaranan yang ada di Desa Bukur, Kecamatan Rejotangan. Pada tahun-tahun sebelumnya saat pertunjukan malam hari mereka melakukan pertunjukan kesenian jaranan terlalu larut malam antara pukul 21.00 atau pukul Sembilan malam. Para penonton nampaknya merasa tak sabar dan mulai mengantuk untuk menyaksikan pertunjukan kesenian jaranan tersebut. Oleh karena itu, mereka merubah durasi pertunjukan dimulai lebih awal, yaitu pukul 19.30 atau pukul setengah delapan malam. Namun, untuk awal pertunjukan kesenian jaranan dimulai dengan campursarian. Perubahan alur pertunjukan kesenian jaranan dengan awalan penampilan campursari dirasa sangat efektif. Masyarakat lebih merespon positif ditandai dengan penuhnya area pertunjukan dengan masyarakat diberbagai umur dan kalangan. Hadirnya campursari pada kesenian 119

Sejarah Perkembangan Kesenian Jaranan

jaranan juga sebagai strategi penarik minat masyarakat untuk selalu menonton kesenian jaranan. Selanjutnya, tata rias para penari jaranan termasuk juga para penari barongan dan celengan sedikit mengalami perubahan. Banyak para penari jaranan khususnya penari perempuan mengenakan tata rias yang tidak terlalu berat dan menor, akan tetapi tetap meberi efek tegas pada sisi sisi tertentu. Tata rias para penari jaranan perempuan sangat berbeda dengan periode periode sebelumnya. Pada periode periode sebelumnya, para penari jaranan perempuan tidak mengenakan bulu mata tiruan sebagai pelengkap dan penunjang tarian. Tidak mengenakannya bulu mata tiruan ini ditakutkan akan mengganggu mereka ketika para penari jaranan sedang “ndadi” atau kesurupan. Namun, banyak para penari jaranan perempuan yang menggunakan bulu mata saat periode ini. Untuk tata rias para penari jaranan laki laki justru lebih dipertegas dengan make up atau tata rias karakter. Pemberian tata rias karakter seperti penambahan godek dan kumis tetap disematkan pada penari laki laki. Pada tahun 2016 hingga tahun 2020 an, para penari jaranan laki laki diberikan riasan dikelopak mata agar terkesan lebih tajam dan sesuai dengan karakter seorang prajurit. Gambar V.4: Bentuk Barongan yang lebih fariatif di Tahun 2020. Pada bulan November 2020.64 Untuk tata busana hingga tahun 2020 sangat banyak mengalami peningkatan. Untuk atribut tata busana pada 64 Observasi, dokumentasi pertunjukan kesenian jaranan di Pucanglabar, pada tanggal 28 November 2020.

120

Alif Bayu Mahardhika

kesenian jaranan yang menonjol adalah udeng atau ikat kepala. Udeng pada tahun 2016 hingga tahun 2020 terdapat banyak macam bentuk udeng baru. Khususnya pada kesenian jaranan senterewe dan jaranan pegon memiliki udeng berwarna terang. Sebelum pada periode ini bentuk dan warna udeng yang dikenakan para penari jaranan lebih simple dan berwarna kecoklatan. Bentuk udeng pada tahun ini lebih bersifat kreasi dan kontemporer dengan berbagai macam bentuk. Pakaian yang dikenakan para penari jaranan juga semakin bervariasi. Pada periode periode sebelumnya pakaian yang dikenakan para penari jaranan menggunakan pakaian berlengan panjang. Hal ini dapat dilihat pada penampilan penampilan kesenian jaranan Tulungagung di berbagai acara maupun VCD. Penyesuaian pakaian pada periode ini adalah penghilangan lengan baju para penari. Pengganti lengan tersebut adalah disematkannya gelang pada lengan para penari. Ternyata dengan penggantian lengan baju dengan aksesoris lainnya seperti gelang pada lengan memiliki nilai estetika yang baik dari para penonton. Pengurangan pada lengan baju penari jaranan dilakukan pada baju laki laki dan perempuan. Pada leher hingga dada para penari jaranan laki laki dan perempuan dikenakan aksesoris penutup leher. Warna warna pakaian yang digunakan para penari jaranan juga sangat terang. Seperti hitam keemasan dan lain sebagainya. Untuk warna jarik yang dikenakan para penari jaranan juga berwarna terang yaitu kolaborasi warna hitam dan warna oranye. Begitu juga sampur yang digunakan para penari jaranan juga berwarna terang seperti oranye atau hijau. Perkembangan juga terjadi pada gerak tari. Namun tidak terlalu banyak. Hanya saja ada penambahan gerak tari, bukan pengurangan. Penambahan gerak tari lebih berfariasi dan disesuaikan dengan tempo lagu dang ending gending yang dibunyikan para penabuh gamelan. Tempo music masih masa pada periode 2000 an sedikit dipercepat dengan penegasan gerak tari disetiap sesi tariannya. Gerak 121

Sejarah Perkembangan Kesenian Jaranan

tari juga disesuaikan dengan lagu yang dinyanyikan para penari atau pesinden. Jika pada periode sebelumnya lagu lagu yang dinyanyikan bertempo lambat. Seperti halnya prau layar atau lewung. Pada periode ini, para penyanyi atau pesinden juga menyanyikan lagu yang bertempo agak cepat seperti halnya Prawan Kalimantan atau Pamer Bojo. Alat alat musik pengiring yang digunakan pada kesenian jaranan juga sedikit ada perubahan. Alat-alat musik tersebut Pada sekitar tahun 2016-2020 alat musik kesenian tradisional Jaranan Tulungagung mengalami perkembangan lagi. Perkembangaan terjadi karena adanya perubahan kebutuhan hidup, perubahan nilai-nilai yang dianut serta perkembangan IPTEK yang telah memberi pengaruh dalam perkembangan kesenian tradisioal Jaranan Tulungagung. Perkembangan teknologi telah merubah minat masyarakat terhadap kesenian tradisional yang awalnya menggunakan alat musik yang bersifat tradisional mengalami penambahan alat musik yang bersifat modern. Penambahan alat musik modern antara lain: (1) orgen, (2) drum, (3) kecer. Orgen merupakan alat musik modern yang mengggunakan listrik, bernada lengkap, digunakan untuk melengkapi nada dari semua jenis alat musik. Kemasan penampilan jaranan di kawasan Tulungagung juga semakin beragam. Para penari jaranan sering tampil pada panggung panggung besar dan juga gedung pertemuan. Dari segi tata panggung, pada periode tahun 2016 hingga tahun 2020 mengalami perkembangan bentuk tata panggung. Panggung yang digunakan berbentuk seperti panggung konser. Jadi tata letak panggung sangatlah luas untuk para penari jaranan menari. Terlebih para penari barongan yang turut mengiringi kesenian jaranan tampil. Para penari barongan sesungguhnya butuh tempat yang luas untuk menampilkan pertunjukannya. Gerak tari barongan sangatlah energik seperti halnya akrobatik dan keterpaduan pencak silat.

122

Alif Bayu Mahardhika

Pada periode tahun 2018 hingga tahun 2019 para kelompok kesenian jaranan selain melaksanakan pertunjukan diatas panggung pertunjukan, mereka juga melakukan pertunjukan dalam streaming youtube. Sudah banyak chanel chanel kebudayaan yang mengangkat kesenian jaranan Tulungagung. Adanya pertunjukan kesenian melalui streaming Youtube membuat para generasi muda semakin peduli dan cinta terhadan kesenian jaranan. Pertunjukan kesenian jaranan melalui streaming youtube ini merupakan suatu bentuk penyesuaian terhadap perkembangan zaman yang serba digital ini. Selain itu, permintaan pasar juga berubah. Sebelumnya penggunaan VCD sangatlah digandrungi oleh para masyarakat. Sekarang masyarakat sudah bisa menonton pertunjukan kesenian jaranan melalui kanal youtube dimanapun mereka berada. Untuk perkembangan dan pertambahan kelompok sanggar kesenian jaranan di Tulungagung pada periode ini cukup banyak. Terdapat sekitar 84 kelompok kesenian jaranan jawa klasik, 28 kesenian jaranan sentherewe, 9 kesenian jaranan pegon, dan juga 89 kesenian jaranan campursari. Ada beberapa data kelompok sanggar kesenian jaranan yang belum diklasifikasikan sehingga sulit untuk ditemukan. Data ini diperoleh dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata. Untuk rinciannya sebagai berikut: NO.

PAKEM GERAKAN

JUMLAH

1.

Jawa Klasik

84

2.

Sentherewe

28

3.

Pegon

8

4.

Campursari

89

Tabel V.2: Tabel penambahan jumlah kelompok jaranan tahun 2016-2020. 65

65

Sumber data kelompok jaranan DinBudPar Tulungagung Tahun 2020

123

Sejarah Perkembangan Kesenian Jaranan

Dari beberapa paparan data yang didapatkan saat penelitian di beberapa tempat. Seperti halnya: sanggar seni jaranan, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Tulungagung, serta Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Tulungagung dapat diperoleh kesimpulan bahwasanya setiap periode tahun yang berbeda, sebuah kesenian selalu mengalami pasang surut. Perkembangan dan berbagai perubahan yang ada pada kesenian jaranan di berbagai periode menunjukkan bahwa kesenian jaranan jawa klasik menunjukkan pertambahan dan perkembangan kelompok yang relative stabil. Walaupun ketika saat pandemic terjadi penurunan penambahan keslompok kesenian jaranan. Kehadiran kesenian jaranan pegon beberapa periode terhitung pada tahun 1995 hingga tahun 2020 tidak menunjukkan perkembangan dan penambahan kelompok jaranan pegon yang signifikan. Namun dalam berbagai pementasan masih tetap eksis di pasaran. Hal inilah yang perlu menjadi perhatian lebih terhadap segala pihak. Jangan sampai suatu kelompok kesenian lokal hilang begitu saja karena kurangnya minat melestarikan kesenian lokal.

D. KESENIAN JARANAN DI TULUNGAGUNG ERA PANDEMI Tidak ada yang bisa mengira jika tanah nusantara yang kaya akan keanekaragaman kesenian daerah ini dihampiri pandemic. Tahun 2020 adalah tahun yang sangat berat bagi para pelaku seni. Tiba tiba saja pandemic Covid19 mewabah di Indonesia. Pandemic covid-19 mulai masuk di Indonesia sekitar bulan Maret di tahun 2020. Kala itu, presiden Indonesia Joko widodo mengumumkan kasus konfirmasi Covid-19 yang pertama kali. Kala itu pula, pemerintah mengerem segala bentuk aktifitas yang menimbulkan berbagai kerumunan, salah satunya kegiatan pertunjukan kesenian. Pandemic Covid-19 sangatlah berimbas kepada para pelaku seni tak terkecuali Para pelaku seni jaranan di Kabupaten Tulungagung. 124

Alif Bayu Mahardhika

Gambar V.5: Penampilan kesenian jaranan secara virtual di Kec. Kauman pada 20 Desember 2020.66 Semenjak bulan pertengahan bulan Maret 2020, pemerintah Kabupaten Tulungagung turut menghentikan kegiatan yang bersifat mengundang kerumunan. Para pelaku seni jaranan seketika berhenti melakukan pertunjukan pertunjukan serta pementasan di luar kota. Hal ini ditujukan untuk menghentikan persebaran virus Covid-19 kepada masyarakat. Sedikit mengagetkan bagi para pelaku seni, tapi inilah yang harus dihadapi. Musuh tak berwujud yang ganas, dan beresiko tinggi apabila kita tak patuh terhadap protokol kesehatan. Biasanya kesenian jaranan beserta dinas yang terkait yaitu dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Tulungagung menyelenggarakan berbagai macam event yang berkaitan dengan kesenian jaranan, namun pada 66 Observasi penampilan jaranan secara virtual di wilayah Kec. Kauman, pada tanggal 20 Desember 2020. Pukul 15.00 WIB.

125

Sejarah Perkembangan Kesenian Jaranan

tahun 2020 sangat sepi penyelenggaraan atau event dikarenakan pandemi Covid-19 yang mewabah. Para seniman kesenian jaranan sangat merasakan imbas dari adanya pandemi ini. Penghasilan para seniman jaranan yang biasanya hampir tiap bulan ada kegiatan pertunjukan, kali ini sama sekali tidak ada jadwal pertunjukan sama sekali. Pundi pundi rupiah yang seharusnya didapatkan, kali ini hanya bisa menunggu harapan kapan pandemic akan usai.

Gambar V.6: Pencarian informasi mengenai kegiatan kesenian selama pandemic pada 22 Desember 2020.67 Pada masa pandemic ini, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Tulungagung tetap melakukan kegiatan yang bertujuan untuk membangkitkan jiwa seni khususnya para seniman jaranan. Dari data yang diperoleh melalui wawancara bersama kasi kebudayaan, ibu 67 Dokumentasi dan studi kepustakaan pada Kasi Kebudayaan, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kab. Tulungagung, pada tanggal 22 Desember 2020. Pukul 11. 30 WIB.

126

Alif Bayu Mahardhika

Septifera mengatakan bahwa dalam pandemic ini Dinas Kebudayaan dan Pariwisata tak henti hentinya melakukan berbagai inovasi guna tetap menumbuhkan semangat seni para seniman di Tulungagung. Kegiatan yang diselenggarakan Dinas terkait tentunya tetap menerapkan protocol kesehatan, dan hampir separuh kegiatan atau event yang diselenggarakan dilakukan secara virtual. Kegiatan ini dilaksanakan pada bulan agustus hingga November 2020. Tercatat dari data yang diambil dari DinBudPar Tulungagung 22 Desember 2020, ada 18 kegiatan yang dilaksanakan guna menumbuhkan semangat seni para seniman di kawasan Tulungagung. Dari 18 kegiatan tersebut tidak hanya untuk seniman kesenian jaranan saja, namun juga termasuk para pesinden, dalang, penyanyi pop maupun dangdut. Terkhusus untuj kesenian jaranan sendiri, tercatat ada 6 bentuk kegiatan antara lain: 1. Festifal Jaranan dan Reog, dengan pembatasan peserta 2. Simulasi Pementasan era Pandemi, dengan pembatasan peserta 3. PKD, atau Pekan Kesenian Daerah, dengan diselenggarakan virtual 4. Pengecekan fasilitas Kelompok Seni 5. Hibah Alat Kesenian, secara offline dengan mematuhi prokes 6. Pesona Popoh, dengan jumlah peserta dan undangan terbatas.

127

Sejarah Perkembangan Kesenian Jaranan

Pada masa pandemi ini, Dinas Kebudayaan dan Kearsipan Kabupaten Tulungagung menyelenggarakan kegiatan Hibah. Kegiatan Hibah ini dimaksutkan untuk memberikan dana pembelian dan perawatan alat-alat music serta keperluan lainnya untuk para seniman. Adanya kegiatan Hibah ini sedikit membantu para seniman Tulungagung khususnya seniman Jaranan yang telah terdampak covid-19.68

Gambar V.7: Bapak Riyanto, salah satu seniman jaranan dari Kec. Gondang yang menerima hibah perawatan alat musik dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Tulungagung pada 22 Desember 2020.69

68 Wawancara dengan Ibu septifera Agni, Kasi Kebudayaan, Dinas kebudayaan dan Pariwisata. Kab. Tulungagung. Pada tanggal 22 Desember 2020. 69 Wawancara dengan Bapak Riyanto, seniman jaranan dari Kec. Gondang yang menerima Hibah perawatan alat musik dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kab. Tulungagung. Pada tanggal 22 Desember 2020. Pukul 08.00 WIB.

128

Alif Bayu Mahardhika

Para pelaku seni, khususnya kesenian jaranan tidak tinggal diam. Saat kondisi pandemi, mereka beralih kegiatan menjadi petani atau pekerja serabutan lainnya. Hal ini lebih menjanjikan dibanding dengan berdiam diri tanpa melakukan hal apapun. Namun, dengan demikian, mereka tetap perhatian pada kesenian yang telah ada pada jiwa mereka. Pelatihan satu bulan sekali selama pandemi dirasa sangat membuat mereka sebagi bentuk obat rindu terhadap para anggota seni jaranan yang lain. Tahun ini memang tahun yang berat bagi mereka para pelaku seni, tapi suatu saat nanti akan memberikan kekuatan dengan belajar dari Covid ini.

129

Sejarah Perkembangan Kesenian Jaranan

130

Alif Bayu Mahardhika

BAB VI UPAYA PELESTARIAN KESENIAN JARANAN DI TULUNGAGUNG

Peluang para pelaku seni pada kesenian Jaranan di era industri kebudayaan dan juga pariwisata dan juga industry digital saat ini sangat ditentukan oleh tiga buah aspek berikut ini ; 1. Potensi Sumber Daya Manusia pendukung kesenian tersebut. Dapat juga dilihat melalui tingkat pendidikan. 2. Mengikuti Kebutuhan di pasaran dan juga Industri hiburan 3. Selalu terbuka dan mengikuti perkembangan.70 Tiga buah komponen tersebut dapat menjadi penting untuk diperhatikan. Mengingat makin banyaknya tawaran untuk pementasan pertunjukan kesenian jaranan. Ini semua merupakan salah satu cara pelestarian, peluang sekaligus tantangan yang harus dijawab pemilik grup Jaranan, seniman pelaku, maupun kreator, koreografer, konseptor, dan penata iringan musik. Dalam kaitan ini 70 Soekito, Janu. 2016. Tokoh Seni/ Budaya Tulungagung. Tulungagung: Percetakan Langgeng. Hlm 74.

131

Sejarah Perkembangan Kesenian Jaranan

peran seniman Jaranan Tulungagung sangat besar dan luas dalam upaya untuk memberikan cara cara alternatif bentuk sajian yang sesuai dengan kebutuhan dan permintaan pasar dan juga industry hiburan. Selain melalui tiga aspek tersebut, upaya pelestarian kesenian jaranan dapat melalui hal hal berikut ini:

A. PENAMPILAN JARANAN DI ACARA HAJATAN Sering sekali, kesenian jaranan dipentaskan apada acara acara masyarakat. Seperti halnya acara pernikahan. Biasanya pementasan kesenian jaranan dilaksanakan pada hari kedua setelah resepsi pernikahan dilaksanakan. Para tuan rumah pengundang kelompok sanggar seni jaranan menyakini bahwasanya akan mendapatkan keberkahan setelah pementasan kesenian jaranan dipertontonkan.71 Selain acara pernikahan, masyarakat Tulungagung turut mengundang kesenian jaranan pada acara khitanan. Para pemilik hajat mengundang para kelompok sanggar untuk tampil pada acara khitanan. Pertunjukan kesenian jaranan pada acara khitanan dilaksanakan pada siang hari. Antusiasme masyarakat yang menonton kesenian jaranan pada acara hajatan masyarakat sangat tinggi. Dengan antusiasme masyarakat yang tinggi, secara tidak langsung akan memberikan bentuk apresiasi dan semangat tampil para penari kesenian jaranan. Selain itu, dari antusiasme para penonton juga memberikan tambahan pendapatan bagi warga. Dalam satu acara atau hajatan masyarakat dimanapun berada pasti terdapat penjual dan pedagang kaki lima. Dikawasan tulungagung sendiri sudah menjadi ciri khas saat penampilan saat penampilan jaranan ditampilkan. Banyaknya para pedagang dan pedagang kaki lima yang turut meramaikan acara hajatan dan pertunjukan kesenian 71 Trisakti._ Jurnal: Bentuk dan fungsi Seni Pertunjukan Jaranan Dalam Budaya Masyarakat Jawa Timur. Universitas Negeri Surabaya.. Hlm 4.

132

Alif Bayu Mahardhika

jaranan turut mendapatkan imbas penambahan pendapatan atau penghasilan dari mereka berdagang. Para penari jaranan juga mendapatkan upah dari hasil mereka mempertunjukkan kesenian jaranan mereka. Selain itu mereka para penari jaranan mendapatkan tambahan upah dari para penonton yang turut memberikan saweran kepada para penari jaranan maupun para pesinden. Dengan adanya hal tersebut membuat para penari kesenian jaranan bersemangat untuk menampilkan kembali dan melestarikan kesenian jaranan di masyarakat.

B. PENAMPILAN JARANAN DALAM HARI BESAR Penampilan kesenian jaranan di Kabupaten Tulungagung juga ditampilkan pada berbagai event hari besar di wilayah Tulungagung salah satunya pada peringatan hari besar islam atau syuro. Pertunjukan kesenian jaranan pada saat peringatan hari besar tersebut mengandung akan banyak warna dan makna. Pertunjukkan kesenian jaranan yang masih bernuansa magis menambah kesakralan pertunjukan. Para pemandu acara dan juga para dukun selalu mengkondisikan acara agar tidak terjadi hal hal yang tidak diinginkan. Pada bulan syuro, atau dalam penanggalan Islam disebut bulan Muharam. Para masyarakat jawa sangat mengsakralkan bulan tersebut. Para masyarakat yang biasanya melaksanakan kegiatan hajatan seperti pernikahan, khitanan dan lain sebagainnya dalam bulan syuro sangat dianjurkan untuk menunda kegiatan tersebut. Bulan asyuro diharapkan dapat menjadi moment untuk mendekatkan diri melalui ibadah ibadah tanpa mengesampingkan dengan beragam kegiatan duniawi. Para pegiat kesenian jaranan yang biasanya kebanjiran order pada kegiatan hajatan akan tetap memiliki kegiatan pada bulan syuro ini. Banyak acara rakyat seperti halnya jamasan pusaka, atau larung laut yang turut menampilkan kegiatan kesenian seperti halnya kesenian jaranan.

133

Sejarah Perkembangan Kesenian Jaranan

Maksut dan tujuan adanya penampilan kesenian pada acara hari besar selain untuk hiburan masyarakat juga dimaksutkan untuk wujud rasa syukur terhadap anugrah yang diberikan oleh Allah SWT atas pencapaian pencapaian yang didapatkan dalam satu tahun terakhir. Dari sisi para penari, mereka juga berharap mendapatkan keberkahan dari penampilan mereka. Selain itu penampilan kesenian jaranan juga ditampilkan pada acara larung laut pada pesisir laut selatan Tulungagung. Tujuan dari adanya penampilan kesenian jaranan pada larung laut yaitu sebagai hiburan masyarakat yang menonton dari acara larung laut. Peran serta para pelaku kesenian dalam sebuah acara bukan sekedar wujud partisipasi mereka pada perayaan saja, namun juga sebagai tanda eksistensi atau kehadiran mereka melalui beragam acara dan seraya memberi pesan agar pertunjukan kesenian jaranan selalu turut diperhitungkan keberadaanya sebagai warisan kesenian lokal yang sangat ikonik. Adanya eksistensi yang diperlihatkan kepada para masyarakat yang menonton juga memberikan pesan agar masyarakat turut melestarikan dan mendukung para seniman untuk selalu berkesenian tanpa punah.

C. MENGADAKAN PELATIHAN RUTIN Dalam upaya perlindungan untuk melestarikan kesenian jaranan, tiap tiap sanggar seni jaranan di Tulungagung rutin melakukan latihan dan regenerasi. Biasanya latihan dilakukan satu minggu satu kali di basecamp yang dimiliki sanggar atau bisa bergantian di rumah anggota yang mendapatkan arisan karena tiga hari sebelum arisan dimulai peralatan kesenian jaranan sudah berada di rumah anggota yang mendapatkan arisan. Perlu adanya regenerasi antar pemain perlu dilakukan oleh tiap sanggar jaranan di kawasan Tulungagung. Seperti kemunculan sanggar seni “New Safitri Putro” yang 134

Alif Bayu Mahardhika

merupakan wujud regenerasi dari sanggar seni jaranan dengan nama yang sama pernah vacum pada tahun 2012 an. Fakumnya kesenian jaranan terkadang terdiri berbagai macam factor. Namun factor yang paling sering dijumpai yaitu tidak adanya generasi penerus. Oleh karena itu, sebelum generasi tua purna dalam berkesenian, mereka harus mengajarkan pakem pakem gerakan terlebih dahulu kepada generasi baru agar kesenian jaranan tetap memiliki generasi penerus.

D. PELESTARIAN MELALUI FESTIFAL Dinas Kebudayaan dan Pariwisata kabupaten Tulungagung sering mengadakan beragam festifal kesenian jaranan tiap tahunnya. Pekan festifal kebudayaan biasanya diadakan pada bulan Agustus hingga desember akhir tahun. Untuk kategori dari perlombaan dan festifal kesenian jaranan ini terdiri dari pengelompokan berdasarkan pakem pakem gerakan yang dimiliki masing masing sanggar. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Tulungagung membagi kategori tersebut menjadi empat kategori. Kategori pertama yaitu kesenian jaranan berpakem Jawa klasik, Kategori yang kedua yaitu kesenian jaranan berpakem Sentherewe, kategori yang ketiga yaitu kesenian jaranan berpakem pegonan, dan kategori yang keempat yaitu kesenian jaranan berpakem campursari. Selain itu, dinas yang terkait juga mengklasifikasikan berdasarkan umur para penari jaranan. Umur juga sangat berpengaruh dalam hal penilaian gerak dan kelincahan, selain itu nantinya para penonton dan juga mudah untuk memberikan apresiasi begitu juga dengan para dewan juri. Harapannya jika festifal kesenian jaranan dikelompokkan berdasarkan umur para penari, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata dengan mudah memberikan pengarahan untuk generasi baru dalam pemberian pelatihan pelatihan kesenian jaranan agar tetap lestari disetiap perkembangan zaman.

135

Sejarah Perkembangan Kesenian Jaranan

Selain festifal perlombaan, para kelompok sanggar seni jaranan di kawasan Tulungagung sering mengikuti karnaval perayaan HUT RI di wilayahnya masing masing. Hal ini dimaksutkan agar mereka dapat mempertunjukkan eksistensi mereka kepada masyarakat luas. Kegiatan seperti karnaval hanya dilaksanakan 1 tahun sekali saja, kegiatan tersebut biasanya dilaksanakan pada bulan Agustus dan September. Diadakannya karnaval tersebut guna memeriahkan hari kemerdekaan Republik Indonesia. Dalam mengikuti karnaval tidak semua anggota mengikutinya. Karna, dalam pertunjukan karnaval biasanya hanya beberapa anggota yang ditampilkan. Turut serta mengiringi kesenian jaranan tampil pada acara karnaval adalah kesenian barongan dan celengan. Tak jarang juga reog kendang yang juga menjadi ikon Kabupaten Tulungagung.

E. MASUKNYA KESENIAN JARANAN PADA EKSTRAKURIKULER Demi mengupayakan kesenian jaranan Tulungagung agar tetap lestari, dapat dilakukan melalui kegiatankegiatan ekstrakulikuler. Dengan memasukkan kesenian jaranan pada para sisa kegiatan sekolah siswa siswi, kesenian jaranan akan selalu dimainkan oleh para siswa siswi. Kehadiran kesenian jaranan di kegiatan ekstrakulikuler di sekolah juga dibarengi dengan berbagai kesenian yang dimiliki Tulungagung, seperti reyog kendang. Antusiasme siswa siswi untuk belajar kesenian local sangat dirasakan. Para siswa siswi. Setiap sabtu sore, mereka berlatih kesenian jaranan dengan ditemani guru tari mereka. Generasi muda sangatlah penting untuk memegang tongkat estafet perkembangan kesenian jaranan berikutnya. Perlu tangan tangan muda untuk mendongkrak potensi local sebagai bentuk kearifan local yang sangat istimewa. Terlebih lagi Pada era globalisasi saat ini, eksistensi atau keberadaan kesenian rakyat 136

Alif Bayu Mahardhika

khususnya kesenian jaranan Tulungagung berada pada titik yang rendah dan mengalami berbagai tantangan dalam upaya pelestariannya. Upaya untuk mempertahankan dan melestarikan kesenian tradisional perlu dilakukan, karena banyak sekali kandungan nilainilai positif dalam kesenian tradisional. Pemasukan kegiatan kesenian jaranan dalam sekolah bukan hanya sebatas pengisi kegiatan luang saja. Namun dengan adanya kesenian local yang masuk pada lembaga sekolah para siswa dapat mengambil pesan moral yang ada pada kesenian local seperti halnya kesenian Jaranan Tulungagung. Perlunya pendidikan kesenian local sebagai wadah penyaluran bakat mereka dan penyaluran nilai nilai kearifan local harus dimulai sejak dini. Dengan adanya kegiatan yang berkaitan kearifan local, kesenian Tulungagung akan tetap lestari.

A. PERUBAHAN KEMASAN PERTUNJUKAN Perubahan kemasan pertunjukan kesenian jaranan harus diperlukan. Mulai dari tata rias yang diperhalus, hingga proses pementasan yang harus diberikan penyegaran agar para penikmat seni tidak mengalami rasa bosan ketika menonton kesenian jaranan. Pada periode tahun 2010 an hingga tahun 2015 masih banyak juga para sanggar seni jaranan yang hanya memproduksi pertunjukan melalui VCD atau DVD saja. Namun lambat laun dengan adanya aplikasi streaming seperti halnya youtube membuat para pelaku seni jaranan beralih menggunakan media streaming. Nampak antusiasme masyarakat justru lebih menikmati kesenian jaranan kapanpun dan dimanapun mereka berada. Dengan adanya pertunjukan kesenian jaranan melalui streaming di Youtube, kalangan muda yang sebelumnya enggan untuk hadir pada acara pementasan kesenian jaranan secara langsung menjadi menyukai pertunjukan kesenian jaranan melalui Youtube. 137

Sejarah Perkembangan Kesenian Jaranan

Nampak ada perbedaan cara tangkap tiap generasi dalam menerima kesenian dan mengapresiasi kesenian. Namun inilah yang dinamakan sebuah proses. Perlu adanya pembaruan tatanan sosial dan juga penyesuaian yang harus diperhatikan dan dimaklumi bersama. Hal yang terpenting adalah bagaimana kita tetap melestarikan kesenian jaranan walaupun pada perkembanganzaman yang serba digital ini. Keinginan pasar terhadap kesenian juga ikut mengalami perubahan. Wujud pelestarian yang bernuansa digital memang benar benar harus dioptimalkan. Adanya andil dinas terkait, dalam hal ini yaitu Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupetn Tulungagung harus memberikan pelatihan pelatihan penayangan streaming pertunjukan kesenian jaranan sebagai penyesuaian permintaan pasar digital saat ini. Para seniman kesenian jaranan di kawasan Tulungagung harus bisa berkreasi sembari membaca peluang pasar. Sehingga pertunjukan kesenian jaranan dari tahun ke tahun lebih menarik dan dinamis. Oleh karena itu, diperlukan penyesuaian bentuk penggarapan kesenian tradisional. Hal ini dikarena akan menghasilkan bentuk kemasan baru yang menarik, atraktif dan juga adaptif terhadap lingkungan. Artinya bahwa kemasan kesenian jaranan yang dipentaskan harus tetap mempunyai nilai artistic dan estetika yang tinggi. Oleh karena itu, Para seniman kesenian jaranan khususnya perlu memulai untuk berfikir pola kemasan yang sesuai kebutuhan pasar. Hingga pada akhirnya muncullah kemasan kesenian Jaranan yang sudah didasarkan atas ide dan selera pasar. Proses penyesuian orientasi selera konsumen ini juga dirasa penting. Artinya bagi kelangsungan hidup seni tradisional khususnya kesenian jaranan di era modern saat ini. Sesungguhnya pola perkembangan kesenian Jaranan di zaman modern ini terdapat banyak hal yang memberikan keuntungan bagi eksistensi kesenian jaranan itu sendiri. Misalnya dari sisi permintaan pasar, kesenian Jaranan 138

Alif Bayu Mahardhika

semakin memiliki peluang untuk tampil di beragam event. Selanjutnya jika dilihat dari sisi fleksibilitas penampilan kesenian Jaranan mampu memberikan peluang untuk tetap eksis di tengah masyarakat. Begitu banyaknya peluang untuk menampilkan kesenian Jaranan di beberapa tempat atau objek wisata, akan memberikan andil bagi eksistensi seperti halnya kesenian Jaranan Sentherewe di tengah arus perkembangan zaman. Dengan mengacu pada konsep seni wisata yang mempersyaratkan pertunjukan dikemas dengan meniru bentuk aslinya, singkat, padat, penuh variasi, penyajian yang menarik, dan murah harganya. Sehingga seni Jaranan Sentherewe maupun yang lainnya akan nampak lebih dinamis. Terlebih lagi hadirnya kreasi Jaranan yang memasukkan unsur-unsur lain di luar seni Jaranan itu sendiri akan menambah daya tarik penampilan kesenian jaranan di kawasan Tulungagung. Upaya pemerintah melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Daerah Kabupaten Tulungagung dalam ikut melestarikan seni Jaranan berbagai pakem aliran gerakan melalui kegiatan festival maupun perlombaan merupakan langkah positif dalam rangka untuk mendukung pelestarian seni tradisional kesenian jaranan tersebut. Tentunya dengan berbagai jenis festival yang di dalamnya memberikan kebebasan berkreasi, sangat memungkinkan kelompok sanggar kesenian Jaranan yang tersebar diberbagai daerah di Tulungagung untuk melakukan inovasi dalam pementasannya.72 Hasil yang dapat diperoleh dari adanya kegiatan festival yakni bertambahnya variasi dan penyegaran dari segi pertunjukan seni Jaranan. Penyesuaian penampilan Kesenian Jaranan yang mengacu pada bentuk tradisi tentu saja akan mampu merubah citarasa dan selera estetika baik dari sisi pelaku Jaranan itu sendiri, maupun dari sisi 72 Wawancara dengan Ibu Septifera Agni, Kasi Kebudayaan, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Kab. Tulungagung. Pada tanggal 22 Desember 2020.

139

Sejarah Perkembangan Kesenian Jaranan

masyarakat luas sebagai penonton. Dengan kemasan pertunjukan secara kualitas maka akan mendongkrak eksistensi kesenian Jaranan di mata masyarakat Tulungagung. Maraknya pertunjukan pariwisata disebabkan oleh hadirnya wisatawan yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Peningkatan jumlah wisatawan ke Indonesia secara umum dan di Kabupaten Tulungagung khususnya merupakan peluang untuk eksistensi dari adanya kesenian yang ikonik yaitu kesenian Jaranan. Hadirnya industri pariwisata memberi keleluasaan dalam mengemas bentuk pertunjukan Jaranan dari bentuk yang sederhana ke bentuk inovatif dan lebih dinamis. Perubahan ini tentunya tanpa menghilangkan pakem-pakem gerakan yang sudah dimiliki. Dengan demikian, kesenian tradisional jaranan akan berkembang seiring dengan arus perubahan zaman yang terjadi. Gambar VI.1: Para pelaku seni di Tulungagung mendaftarkan diri untuk mendapatkan Kartu Anggota Seniman di DinBudPar Tulungagung. Pada tangal 22 Desember 2020.73

73 Observasi terhadap para seniman saat mendaftar Kartu Anggota Kesenian di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kab. Tulungagung pada tanggal 22 Desember 2020. Pukul 11.00 WIB.

140

Alif Bayu Mahardhika

Pada sisi sektor industri rekaman, popularitas kesenian Jaranan dimanfaatkan oleh para produser rekaman untuk mengabadikan pementasan ke dalam rekaman audio-visual dan dikemas melalui VCD. Berarti Ini merupakan salah satu langkah untuk membuat upaya pelestarian kesenian jaranan dengan menyesuaikan minat pasar. Penjualan rekaman VCD maupun DVD Jaranan ini marak dilakukan seiring dengan makin meningkatnya minat masyarakat terhadap penampilan kesenian Jaranan. Kelompok kesenian Jaranan sekarang mulai familiar seperti jaranan Sentherewe, jawa klasik, pegon, hingga campursari yang hingga saat ini muncul dalam rekaman VCD hingga DVD. Namun keberadaan VCD dan DVD yang beredar di pasaran didominasi grup Jaranan Sentherewe dari Kabupaten Tulungagung. Hal ini terjadi karena grup-grup seni Jaranan Sentherewe di Kabupaten Tulungagung berada di wilayah yang secara strategis mudah untuk dijangkau. Alasan keduanya yaitu peran sumber daya manusia yang ada lebih dapat melakukan komunikasi dengan komunitas di luar seni tradisional. Sehingga terjadilah proses penawaran untuk melakukan rekaman. Ketiga, frekuensi pertunjukan Jaranan Sentherewe di Tulungagung paling tinggi di banding kabupaten lain di Jawa Timur dalam tiap tahunnya. Dan keempat, karena kualitas sajian pertunjukan Jaranan Sentherewe Tulungagung di atas rata- rata Jaranan Sentherewe yang ada di wilayah Jawa Timur. Kenyataan inilah yang banyak memberi minat kepada produser rekaman VCD untuk mendekati kelompok kesenian Jaranan Sentherewe di kabupaten Tulungagung. Hal tersebut merupakan konsekuesi perkembangan kesenian Jaranan dalam era industri digital dan modern saat ini tentu saja akan menyangkut permasalahan lain dalam kehidupan.74 Namun, khususnya pendukung dan grup kesenian Jaranan kini dimudahkan untuk 74

Sudirman, Adi. 2014. Sejarah Lengkap Indonesia. Diva Press. Hlm 22.

141

Sejarah Perkembangan Kesenian Jaranan

mempertunjukkan dan mempromosikan kesenian jaranan berbagai macam pakem aliran melalui kanal Youtube yang mudah dan efisien. Hal ini dikarenakan pendukung dan pelaku kesenian Jaranan adalah bagian dari warga masyarakat yang terikat dengan sistem tatanan sosial yang serba dinamis.

142

Alif Bayu Mahardhika

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, Taufik. 1985. Ilmu sejarah dan Historiografi. Jakarta: Pt. gramedia Ali Imron, Agus. 2016. Sejarah Seni/ Budaya di Tulungagung selatan. Tulungagung: Percetakan Langgeng Burke, Peter. 2015. Sejarah dan Teori Sosial. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia. Desty Erika Putri, 2019. Pada Jurnal: Perkembangan Jaranan Safitri Putro Periode Tahun 2010-2019 Di Kabupaten Tulungagung. Universitas Negeri Surabaya. Dr. Mukminan. 2015. Dasar-Dasar Ilmu Sosial. Universitas Negeri Yogyakarta Hanifati alifa radhia.2016 .jurnal: Dinamika Seni Pertunjukan Jaran Kepang Di Kota Malang. Jurnal Kajian Seni. Volume 02, No. 02, : 164-177. Herusatoto, Budiono. 1987. Simbolisme dalam Islam Jawa. Yogyakarta: Haninda Indana zulfa. 2018. jurnal: Popularitas Jaranan Sentherewe Grup Kuda Manggala Kabupaten Tulungagung. Pendidikan sendratasik. UNESA . Kuntowijoyo. 1995. Pengantar Ilmu Sejarah. Yogyakarta: tiara Wacana Kuntowijoyo. 2003. Metodologi Sejarah. Yogyakarta: PT. Tiara Wacana.

143

Sejarah Perkembangan Kesenian Jaranan

Muhammad Tradiska Briliano. 2018. Skripsi: Jaranan Sebagai Identitas Sosial Warga Desa Bukur Kecamatan Sumbergempol Kabupaten Tulungagung Jawa Timur. Universitas Muhammadiyah Malang. Ria Putri Susanti, 2018. Jurnal: “Makna Simbolik Sesajen”. Universitas Riau. Salamun Kaulam, 2012. “Simbolisme dalam Kesenian Jaranan” dalam URNA Jurnal Seni Rupa, Vol. 1, No. 2, 127-138, h. 131 Soekito, Janu. 2016. Tokoh Seni/Budaya Tulungagung. Tulungagung: Percetakan Langgeng Sudirman, Adi. 2014. Sejarah Lengkap Indonesia. Diva Press Trisakti._ Jurnal: Bentuk dan fungsi Seni Pertunjukan Jaranan Dalam Budaya Masyarakat Jawa Timur. Universitas Negeri Surabaya. id.m.wikipedia.org. Instrumen Gamelan. Diakses pada tanggal 15 Desember 2020. Pukul 13.00. www.DisBudParPora.Wordpress. Diakses Tanggal 20 Desember 2020. Pukul 13.00. www.bappeda.tulungagung.go.id. Data Bappeda Tulungagung, Profil Kab. Tulungagung. 2020, Tahun 2018. Diakses pa tanggal 15 Desember 2020.

144

Alif Bayu Mahardhika

IDENTITAS PENULIS

Alif Bayu Mahardhika lahir di Blitar, 16 Desember 1998. Penulis beralamatkan di Dsn. Wadang RT2/RW5, Desa Gandekan, Kecamatan Wonodadi, Kabupaten Blitar. Penulis adalah anak pertama dari dua bersaudara. Untuk riwayat pendidikan penulis mulai dari Sekolah Dasar yaitu: SDN Gandekan 4, SMPN Srengat 2, MAN Kunir dengan mengambil konsentrasi jurusan IPS. Dulu penulis sempat berkeinginan untuk melanjutkan studinya di Universitas Indonesia atau Universitas Jember. Namun, akhirnya penulis memilih IAIN Tulungagung sebagai tempat studinya dan sekarang duduk di semester 7 Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan IAIN Tulungagung dengan mengambil Program Studi Strata Satu (S1) Tadris Ilmu Pengetahuan Sosial. Untuk nomor handphone yang dapat dihubungi adalah 081554406640 atau bisa lewat akun email dengan alamat: [email protected]

145

Sejarah Perkembangan Kesenian Jaranan

TENTANG EDITOR

Dwi Asuti Wahyu Nurhayati dilahirkan di Kabupaten Lamongan, 22 Pebruari 1976 ialah anak kedua dari tiga bersaudara. Pendidikan S1 ditempuh pada Fakultas Sastra, Bahasa dan Sastra Inggris Universitas Jember (1999), S2 Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris di Universitas Sebelas Maret Surakarta dan S3 Linguistik (Linguistik Deskriptif) di Universitas Sebelas Maret Surakarta (2018). Beberapa karya telah diterbitkan oleh penulis yaitu: pada tahun 2018 artikel dengan judul,”Exploring Indonesian Interference on Morpho-Syntactic Properties by Javanese Speakers: A Case Study of English Lecturers and Students’ Interaction in Two Colleges in East Java, Indonesia (JSSH PERTANIKA JOURNALS) dan buku dengan judul, English Phonetics Theory and Practice; Sedangkan pada tahun 2019 buku dengan judul Introduction to English Phonology dan dua artikel dengan judul Students’Perspective on Innovative Teaching Model Using Edmodo in Teaching Phonology: A Virtual Class Development (Dinamika Ilmu); serta Learning Basic Grammar Using Task-Based Learning: A Perspective on Analyzing Online Media Text, IJELTAL (Indonesian Journal of English Language Teaching and Applied Linguistics). Untuk berkorespondesi penulis dapat dihubungi melalui surel [email protected] atau [email protected] dan 085749813337/081234020600. 146

Related Documents